Liga Champions: Manuel Pellegrini Kembali ke Dortmund, Menghidupkan Kenangan Pahit 13 Tahun Silam
Rabu, 04 Nov 2026, 07:00 WIBBARCELONA â Borussia Dortmund menyimpan kenangan yang sulit dilupakan Manuel Pellegrini. Pelatih veteran Real Betis itu pernah merasakan salah satu kekalahan paling menyakitkan sepanjang kariernya di stadion yang akan kembali dikunjunginya pada hari Kamis (5/11) dini hari WIB.
Di balik reputasinya sebagai pelatih yang mampu membawa tim tampil kompetitif di level tertinggi, Pellegrini masih memiliki satu pencapaian yang belum pernah diraihnya: menjuarai Liga Champions. Hal itulah yang membuat sebagian kalangan belum sepenuhnya menempatkannya dalam jajaran elite pelatih dunia.
Namun, usia 73 tahun tidak menghalangi pelatih asal Cile tersebut untuk terus menunjukkan kualitasnya. Real Betis bahkan mengawali fase liga dengan catatan sempurna, meraih tiga kemenangan dari tiga pertandingan sebelum bertandang ke markas Borussia Dortmund.
Pertandingan ini sekaligus membawa Pellegrini kembali ke tempat yang menyimpan luka lama.
Pada 2013, ketika masih menangani Malaga, Pellegrini harus menerima kenyataan pahit setelah timnya kebobolan dua gol pada masa injury time melawan Borussia Dortmund yang ketika itu dilatih Juergen Klopp. Kekalahan dramatis tersebut menggagalkan langkah Malaga ke semifinal Liga Champions.
Kekalahan itu terasa semakin menyakitkan karena Pellegrini baru saja menghadiri pemakaman ayahnya di Cile. Dia bahkan baru tiba di Jerman pada pagi hari sebelum pertandingan berlangsung.
Seusai laga, Pellegrini melontarkan protes keras terhadap kepemimpinan wasit. Dia merasa Malaga tidak diberi kesempatan yang adil untuk melangkah ke semifinal.
"Mereka tidak menginginkan kami berada di semifinal," kata Pellegrini. Gol kemenangan Felipe Santana yang memastikan Dortmund lolos juga dinilai tercipta dalam posisi offside.
Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Pellegrini menerima tantangan baru bersama Manchester City. Di Inggris, dia berhasil mempersembahkan gelar Premier League dan dua trofi Piala Liga Inggris sebelum meninggalkan klub pada 2016. Namun, trofi Liga Champions tetap belum berhasil diraihnya.
Pelatih asal Cile itu kemudian bergabung dengan Real Betis pada 2020. Di klub Andalusia tersebut, Pellegrini justru menikmati periode kepelatihan terpanjang bersama satu klub sepanjang kariernya.
Dia tetap berpegang pada filosofi sepak bola menyerang dan menghibur. Real Betis menjadi representasi pendekatan tersebut dengan mengandalkan sejumlah pemain kreatif dan ofensif, seperti Isco dan Ez Abde.
Perjalanan Pellegrini sendiri terbilang tidak biasa. Dia merupakan lulusan teknik sipil pada 1979, ketika masih aktif bermain untuk Universidad de Chile. Setelah beralih menjadi pelatih, dia membangun reputasi sebagai sosok yang mampu mengembangkan tim sekaligus menghadirkan permainan atraktif.
Bersama Betis, Pellegrini berhasil mengakhiri penantian panjang klub untuk tampil di partai final. Pada 2022, dia membawa Los Verdiblancos menjuarai Copa del Rey, sekaligus mengakhiri penantian 17 tahun untuk kembali mengangkat trofi tersebut.
Musim lalu, dia juga mengantarkan Betis kembali ke Liga Champions setelah klub itu absen selama dua dekade dari kompetisi elite Eropa.
"Kami memulai pertandingan pertama musim ini dengan sebuah keyakinan. Pada akhir pengarahan tim, kami menuliskan kalimat dengan huruf berwarna hijau: 'Hari ini kita memulai perjalanan menuju Liga Champions'," ujar Pellegrini pada Mei lalu.
Keberhasilan Pellegrini mengangkat kembali reputasi Betis bukanlah sesuatu yang mengejutkan jika melihat rekam jejaknya. Dia sudah berkali-kali membuktikan kemampuan membangun tim yang mampu bersaing dengan klub-klub besar Eropa.
Ketika menangani Villarreal, misalnya, Pellegrini membawa klub tersebut mencapai semifinal Liga Champions 2006. Namun, langkah mereka dihentikan Arsenal.
Dalam pertandingan leg kedua di Spanyol, Villarreal sebenarnya memiliki peluang besar untuk memaksakan perpanjangan waktu. Sayangnya, Juan Roman Riquelme gagal mengeksekusi penalti pada menit-menit akhir.
Dua tahun kemudian, Pellegrini membawa Villarreal finis di posisi kedua La Liga 2007/2008, mengungguli klub-klub besar seperti Barcelona dan Atletico Madrid.
Prestasi tersebut membuat Real Madrid merekrutnya pada 2009. Di musim pertamanya, Pellegrini membawa Los Blancos mengumpulkan 96 poin, sebuah rekor klub pada saat itu. Namun, pencapaian tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan posisinya.
Dia akhirnya diberhentikan pada akhir musim untuk memberi jalan kepada Jose Mourinho. Presiden Madrid, Florentino Perez, saat itu sangat berambisi membawa klub meraih gelar Liga Champions ke-10 dan berharap pelatih asal Portugal tersebut mampu mewujudkannya.
Situasi serupa kembali dialami Pellegrini di Manchester City ketika posisinya kemudian digantikan Pep Guardiola.
Setelah meninggalkan Madrid, Pellegrini sempat membangun proyek ambisius bersama Malaga. Dia membawa klub tersebut untuk pertama kalinya sekaligus satu-satunya hingga kini tampil di Liga Champions. Namun, perjalanan mereka berakhir secara dramatis di Dortmund.
Pelatih Lille, Davide Ancelotti, memberikan apresiasi terhadap pencapaian Pellegrini pada September lalu.
"Manuel Pellegrini tidak selalu mendapatkan pengakuan yang layak diterimanya. Padahal, dia memiliki perjalanan karier luar biasa dan telah meraih kesuksesan besar," ujar Ancelotti.
"Bagi kami yang baru memulai karier kepelatihan, seperti saya, dia merupakan sosok yang sangat dikagumi. Saya bahkan tidak tahu apakah bisa terus melatih hingga seusianya. Menurut saya, itu hampir mustahil."
Betis sendiri terus memperlihatkan perkembangan positif di bawah asuhan Pellegrini. Mereka mengalahkan Lille dengan skor 3-2 dalam pertandingan dramatis, sebelum melanjutkan tren positif dengan menaklukkan Porto dan Feyenoord.
Betis telah enam musim berturut-turut mengamankan tiket kompetisi Eropa. Pada 2025, mereka bahkan mencatat sejarah dengan mencapai final kompetisi Eropa untuk pertama kalinya, yakni UEFA Conference League. Sayangnya, ambisi meraih trofi harus kandas setelah mereka dikalahkan Chelsea.
Akhir pekan lalu, Pellegrini juga berhasil membawa Betis mengalahkan Malaga dalam lanjutan La Liga. Pertemuan tersebut menjadi reuni yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan kunjungannya ke Dortmund.
"Ketiga tahun itu merupakan periode yang tidak akan pernah terlupakan," kata Pellegrini mengenang masa kepelatihannya di Malaga.
Pellegrini memang tidak pernah menganggap jumlah trofi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pelatih. Baginya, membangun tim dan memberikan identitas permainan yang jelas jauh lebih penting.
"Saya tidak menangani sebuah tim hanya untuk melihat berapa banyak gelar yang bisa saya menangkan. Saya ingin meningkatkan pencapaian sebelumnya dan melakukannya dengan cara saya sendiri," ujar Pellegrini pada 2016.
Para pendukung Villarreal, Malaga, dan kini Real Betis tentu memiliki alasan kuat untuk menyetujui filosofi tersebut. Bersama Pellegrini, klub-klub itu pernah menikmati sejumlah periode terbaik dalam sejarah mereka.
- Liga Champions
- Borussia Dortmund
- Real Betis
- Manuel Pellegrini
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Sebanyak 8 Tim dari 25 Pengprov PBVSI akan Mengikuti Kejurnas Antarklub U-19
-
Satreskrim Polres Bone Bolango Selidiki Temuan 400 Karung Material Tambang Batu Hitam
-
Di HOMEDEC 2026, Coway Tawarkan Cara Lebih Praktis untuk Hidup Sehat dan Sustainable
-
Formula 1: Leclerc Tercepat dalam Latihan GP Amerika Serikat, Ferrari Dominasi Dua Sesi
-
Cetak Sawah Papua Selatan Capai 45.993 Hektare, Wamentan Soroti Kebutuhan Petani
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.