Pameran Lukis DIY-Kyoto Perkuat Regenerasi Seniman dan Pertukaran Budaya

Senin, 19 Okt 2026, 16:15 WIB

YOGYAKARTA—Regenerasi seniman menjadi salah satu perhatian dalam kerja sama kebudayaan DIY dan Prefektur Kyoto, Jepang, yang telah berlangsung selama 41 tahun. Melalui Pameran Lukis DIY-Kyoto 2026, karya anak-anak hingga seniman kedua daerah dipertemukan sekaligus menjadi ruang pengembangan talenta seni sejak usia dini.

Pameran yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), 14–20 Oktober 2026 itu menampilkan karya hasil Lomba Lukis DIY-Kyoto. Sebanyak 100 peserta dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga penyandang disabilitas di DIY terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemda DIY

Karya anak-anak dan seniman dari Kyoto turut ditampilkan sehingga masyarakat dapat melihat perspektif artistik dari dua latar budaya berbeda. Tahun ini, pameran mengangkat tema “Lingkungan (Aku, Dia, dan Mereka)”.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, kerja sama kebudayaan dengan Kyoto perlu dimanfaatkan untuk memperkuat identitas DIY sebagai daerah budaya, termasuk dengan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kebudayaan.

“Pada peringatan 41 Tahun kerja sama ini, maka Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal dengan kota budaya sudah selayaknya kita memperkuat identitas tersebut dengan cara menjaga dan memperkuat identitas tersebut, salah satunya adalah membangun generasi muda yang peduli dan mencintai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tentu saja juga akan menguatkan identitas bangsa kita sebagai bangsa yang berbudaya,” ungkap Dian saat pembukaan Pameran Lukis DIY-Kyoto 2026, Rabu (14/10).

Menurut Dian, pameran tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan manajemen talenta seni, khususnya seni lukis. Ruang berkarya sejak usia muda diharapkan dapat memunculkan generasi seniman dengan karya yang memiliki kualitas dan karakter kuat.

“Hasil karya lukisan anak-anak yang tergabung dalam Lomba Lukis, ke depannya akan menjadi karya-karya seni yang mengisi dan menjaga identitas budaya Yogyakarta di masa depan. Harapan kami, melalui kegiatan ini nantinya akan muncul karya-karya yang berkualitas dan berkarakter dari Daerah Istimewa Yogyakarta,” tutur Dian.

Tema “Lingkungan (Aku, Dia, dan Mereka)” memberi ruang kepada peserta untuk menerjemahkan hubungan antara diri sendiri dengan kehidupan di sekitarnya. Lingkungan tidak hanya dimaknai sebagai alam, tetapi juga hubungan sosial, ruang buatan manusia, serta nilai dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat.

Unsur “Aku” menggambarkan diri, perasaan, dan kebiasaan sehari-hari, sedangkan “Dia” dapat diterjemahkan sebagai orang maupun makhluk hidup lain di sekitar. Adapun “Mereka” menggambarkan kehidupan berbagai makhluk yang saling terhubung.

Keragaman pemaknaan tersebut menjadi sumber gagasan bagi anak-anak untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka melalui lukisan. Sementara kehadiran karya dari Kyoto membuka kesempatan bagi peserta maupun pengunjung untuk mengenali cara pandang yang lahir dari latar budaya berbeda.

Pameran yang didukung Dana Keistimewaan DIY itu dapat dikunjungi masyarakat hingga 20 Oktober 2026. Selain menjadi bagian dari pertukaran budaya DIY-Kyoto, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyiapkan talenta seni yang kelak turut menjaga keberlanjutan identitas budaya Yogyakarta.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.