10 Tahun Dilanda Rob, Kini Warga Timbulsloko, Demak Miliki Harapan Baru

Senin, 19 Okt 2026, 16:42 WIB

DEMAK - Setelah satu dekade berjuang melawan ancaman abrasi dan banjir rob, warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini mendapatkan angin segar setelah ada upaya penanganan rob berbasis alam dari pemerintah.

Desa Timbulsloko kini menjadi proyek percontohan upays perlindungan Pantai Utara Jawa berbasis alam (Nature-based Solutions), setelah bertahun-tahun dilanda rob.

Ket. Foto: Rob hilang — Sumber: antara foto

Hal itu ditandai dengan penanaman pohon mangrove di Desa Timbulsloko oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Désa Timbulsloko, Senin, 19 Oktober 2026.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan, Bupati Demak, Bupati Kendal, dan Wakil Wali Kota Semarang, serta berbagai elemen masyarakat, termasuk para pelajar.

"Terima kasih atas penanaman pohon mangrove ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi masyarakat Timbulsloko. Harapannya Desa Timbulsloko bisa pulih kembali," kata Kepala Desa Timbulsloko Nadhiri di Demak, Senin (19/10).

Nadhiri menuturkan bahwa kondisi Desa Timbulsloko sejak 2016 sangat memprihatinkan. Air pasang yangtinggi, abrasi, dan rob hampir terjadi setiap hari. Bahkan, ada dukuh di desa tersebut yang mulai tenggelam. Kondisi tersebut memaksa masyarakat Timbulsloko untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru.

Dulu Timbulsloko termasuk desa yang kaya raya. Ada sawah, tegalan, dan tambak. Penghasilan warga setiap hari ada udang dari tambak, kemudian, setiap empat bulan sekali panen padi, panen cabai, jagung, dan bandeng. Setelah dilanda abrasi, semuanya menjadi hilang.

Pemerintah desa sebenarnya sudah menyiapkan relokasi untuk warganya. Namun faktor ekonomi membuat warga kembali lagi ke tempat lama. Sebab di tempat baru, banyak warga yang tidak bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Meskipun kondisi memprihatinkan terus dialami, masyarakat Desa Timbulsloko beradaptasi dengan caranya sendiri dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitar rumahnya.

"Warga bertahan di sini karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Kalau mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah," ujar Nadhiri.

Selain itu, Pemerintah Desa Timbulsloko juga membuat peraturan desa (perdes) untuk menjaga lingkungan desanya agar tidak semakin parah. Dalam perdes tersebut, salah satunya terdapat aturan menanam mangrove untuk seluruh warga. Bahkan, dalam jangka panjang Timbulsloko ingin dijadikan sebagai desa wisata mangrove.

Peraturan itu menegaskan bahwa warga yang menebang mangrove satu pohon harus menanam 10 pohon baru, kalau ada warga yang menikah menanam 10 pohon. Jika ada ternak yang makan daun mangrove, maka pemiliknya harus menanam 10 pohon. Peraturan itu masih dijalankan hingga kini.

Seorang warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko, Masripah, juga menuturkan hal yang sama. Selama bertahun-tahun tinggal di daerah itu, ia sudah beberapa kali harus meninggikan lantai dan rumahnya agar air pasang tidak masuk ke rumah. Hampir semua hasil kerja kerasnya terkadang habis untuk memperbaiki rumah.

Dia brrharsp, melaui program yang dijalankan ini dapat mengatasi masalah banjir rob.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan penanaman mangrove menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi dampak abrasi dan banjir rob yang selama ini mengancam pesisir Jawa Tengah, terutama di pesisir utara (pantura).

Persoalan kerusakan pesisir, banjir rob, hingga penurunan muka tanah membutuhkan penanganan terpadu. Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemprov Jateng adalah gerakan Mageri Segoro. Sepanjang 2025, program tersebut mencatat penanaman sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare, tersebar di 107 desa, 54 kecamatan, dan 17 kabupaten/kota. Diakui bahwa tidak semua mangrove yang ditanam mampu bertahan.

Ada mangrove yang hidup, ada yang mati, ada juga yang hilang. Adanya penggunaan HexBricks dapat mendukung keberhasilan pemulihan mangrove di kawasan pesisir. Pemprov Jateng berharap Giant Sea Wall bisa menjadi salah satu solusi dalam mengurangi kerusakan di pesisir pantura.

Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan mangrove berperan membantu meredam energi gelombang laut, sehingga dapat mengurangi dampak abrasi di pesisir. Perlindungan pantura dilakukan melalui pendekatan hibrida, yakni memadukan pembangunan infrastruktur fisik berupa tanggul pantai maupun tanggul laut dengan solusi berbasis alam.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah yang mengancam permukiman serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Pemerintah berrharap program tersebut dikawal bersama-sama, mulai dari penanaman mangrove. Untuk Provinsi Jateng, dimulai dari Kendal, Semarang, dan Demak.

Melalui kombinasi penanaman pohon mangrove dan pembangunan infrastruktur perlindungan pantai, penanganan pesisir di wilayah Demak itu diharapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan. Bagi warga Timbulsloko, upaya tersebut menjadi harapan agar kerusakan lingkungan tidak semakin meluas dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih aman.

  • Dilanda Rob
  • Harapan Baru
  • Warga Timbulsloko, Demak

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.