Sentimen Eksternal Masih Dominan - 16 Oktober 2026
Jumat, 16 Okt 2026, 07:25 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih menghadapi teÂkanan pada perdagangan akhir pekan seiring dominannya sentimen eksternal, terutama ketidakpastian geopolitik dan perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Gejolak gloÂbal berpotensi mendorong investor beralih ke aset aman berbasis dollar AS, sementara prospek kebijakan suku buÂnga Federal Reserve (The Fed) turut memengaruhi arus moÂdal ke pasar negara berkembang.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat jalan rupiah melemah masih diperberat oleh damÂpak dari kekhawatiran lonjakan harga energi global imbas konflik di Timur Tengah.
Dia menambahkan kelompok miÂlitan Houthi dilaporkan menyerang kantor pusat perusahaÂan minyak asal Arab Saudi, Aramco dan Iran menyatakan akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhaÂdap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (16/10), bergerak fluktuatif di kisaran 17.930 - 17.990 rupiah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Kamis (15/10), bergerak meleÂmah 35 poin atau 0,20 persen dari sehari sebelumnya menÂjadi 17.938 rupiah per dollar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa meÂnyatakan Sentimen rupiah masih dipengaruhi oleh langÂkah stabilisasi Bank Indonesia serta perkembangan fundaÂmental ekonomi nasional.
âPenjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dari 1,1 perÂsen pada Juli, sementara penjualan eceran September diÂprakirakan tumbuh 1,4 persen,â ucapnya di Jakarta.
Menurut dia, hal ini menunjukkan konsumsi domestik masih relatif terjaga.
Kendati begitu, lanjutnya, pelaku paÂsar tetap mencermati perkembangan arus modal asing dan kebutuhan valuta asing yang dapat mempengaruhi keseÂimbangan permintaan dan penawaran dollar AS di dalam negeri.
Melihat sentimen global, rupiah disebut masih menghaÂdapi tekanan dari penguatan dollar AS setelah inflasi AmeÂrika Serikat (AS) pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, dibandingkan 3,4 persen pada Agustus.
Kenaikan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
âKondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dollar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, terÂmasuk rupiah,â ungkap Amru.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
PT Pertamina Patra Niaga Koordinasikan Aspirasi soal Akses BBM dengan BPH Migas
-
Rupiah Terancam Melemah - 06 Oktober 2026
-
Wajib Halal Mulai Berlaku, Pemerintah Bidik Industri Dalam Negeri Makin Kompetitif
-
Kacau Lagi di Asian Games 2026, Bus Tim Pakistan Salah Antar ke Venue Pertandingan
-
Mulai 1 Januari, Transportasi Gratis Bisa Dinikmati oleh 21 Golongan Masyarakat, Siapa Saja?
-
Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Ruang Udara Indonesia, AirNav Indonesia dan Airbus Teken MoU
-
Musik Indonesia Go International! KJRI Guangzhou Dukung Konser Grup Swing di Tiongkok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.