Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen

Rabu, 14 Okt 2026, 17:05 WIB

JAKARTA - Peta pemodelan tsunami dengan ketinggian mencapai 18 meter di pesisir Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi perhatian publik. Dalam skenario gempa megathrust di selatan Jawa, gelombang tsunami diperkirakan dapat mencapai wilayah pesisir hanya dalam waktu sekitar 38 hingga 46 menit setelah gempa terjadi.

Berdasarkan pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi ketinggian tsunami di Kabupaten Kebumen diperkirakan berkisar antara 14 hingga 18 meter. Skenario tersebut disampaikan dalam pembahasan kesiapsiagaan bencana pada Selasa (6/10/2026).

Informasi ini disampaikan Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat DPR RI, Taufiq R Abdullah, dalam Festival Aspirasi DPR RI yang membahas kesiapsiagaan masyarakat di Kabupaten Kebumen.

Taufiq menjelaskan, skenario tersebut menggunakan asumsi gempa dengan magnitudo maksimum sekitar 8,7 di zona megathrust selatan Jawa. Selain Kebumen, sejumlah wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Cilacap hingga Pacitan, juga berpotensi terdampak dalam skenario tersebut.

Meski angka ketinggian tsunami dan waktu kedatangannya terdengar mengkhawatirkan, masyarakat perlu memahami pemodelan tersebut bukan berarti bencana pasti terjadi.

Ket. Foto: Ilustrasi tsunami. — Sumber: Istimewa


Lantas, apa sebenarnya makna skenario tsunami 18 meter ini?

Bukan Prediksi, Melainkan Skenario Bahaya Terburuk

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa pemodelan tsunami tersebut merupakan gambaran kemungkinan bahaya terburuk atau worst-case scenario, bukan prediksi mengenai kejadian yang akan berlangsung dalam waktu dekat.

Menurut Daryono, skenario tersebut disusun berdasarkan asumsi gempa berkekuatan sekitar magnitudo 8,8 di zona megathrust selatan Jawa. Hasil pemodelan digunakan untuk membantu pemerintah dan masyarakat memahami tingkat ancaman serta mempersiapkan langkah mitigasi yang sesuai.

"Skenario tersebut realistis sebagai skenario bahaya terburuk, bukan prediksi," kata Daryono, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan ketinggian tsunami dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain magnitudo dan mekanisme gempa, luas wilayah dasar laut yang mengalami pergeseran, besarnya pergerakan dasar laut, kedalaman sumber gempa, serta jarak sumber gempa dari pantai turut menentukan karakteristik gelombang yang terbentuk.

Kondisi geografis wilayah pesisir juga berperan penting. Bentuk dasar laut dan morfologi pantai dapat memengaruhi pergerakan gelombang, termasuk menyebabkan peningkatan ketinggian ketika tsunami memasuki perairan dangkal.

Karena itu, potensi ketinggian tsunami tidak selalu sama di setiap wilayah. Angka 18 meter dalam pemodelan tersebut perlu dipahami sebagai gambaran ancaman yang harus diperhitungkan dalam perencanaan keselamatan masyarakat.

Waktu Kedatangan Gelombang Jadi Perhatian Utama

Selain ketinggian gelombang, waktu kedatangan tsunami menjadi salah satu aspek paling penting dalam skenario tersebut.

Peta pemodelan menunjukkan bahwa gelombang dapat mencapai sejumlah kawasan pesisir Kebumen dalam rentang sekitar 38 hingga 46 menit. Sementara itu, garis waktu pada peta bahaya juga menunjukkan perkiraan kedatangan sekitar 39 hingga 48 menit di kawasan tertentu.

Menurut Daryono, waktu tersebut perlu diperhitungkan secara serius karena masyarakat membutuhkan waktu untuk mengenali tanda bahaya, mengambil keputusan, dan bergerak menuju lokasi aman.

Oleh sebab itu, warga yang berada di kawasan pesisir harus memahami pentingnya evakuasi mandiri. Ketika gempa kuat dirasakan, masyarakat tidak disarankan menunggu sirene atau pengumuman resmi apabila kondisi tersebut sudah menjadi tanda bahaya tsunami.

"Prinsipnya, gempa selesai, segera evakuasi, bukan menunggu sirene atau peringatan resmi," tegasnya.

Daryono menegaskan masyarakat perlu segera melakukan evakuasi setelah guncangan berhenti apabila gempa yang dirasakan berpotensi memicu tsunami.

Gempa yang sangat kuat hingga membuat seseorang sulit berdiri atau guncangan yang berlangsung lama, sekitar satu menit atau lebih, harus diperlakukan sebagai peringatan alami.

"Segera menjauh dari pantai dan menuju tempat tinggi atau lokasi evakuasi, tanpa menunggu informasi resmi," katanya.

Dalam situasi tersebut, warga perlu segera menjauhi pantai dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi evakuasi yang telah ditentukan.

Perubahan permukaan air laut secara tidak biasa maupun suara gemuruh dari arah laut juga dapat menjadi tanda tambahan. Namun, masyarakat tidak boleh menunggu tanda-tanda tersebut muncul sebelum menyelamatkan diri.

Buluspesantren Masuk Zona Berisiko Tinggi

Dalam peta bahaya tsunami yang dibahas, kawasan pesisir Buluspesantren menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus.

Area yang ditandai dengan warna merah hingga merah tua menunjukkan kawasan dengan potensi genangan tertinggi dalam skenario tersebut. Ketinggian genangan diperkirakan dapat mencapai 10 hingga 18 meter, dengan tingkat risiko yang berkurang ke arah daratan.

Peta tersebut juga mencantumkan sejumlah fasilitas evakuasi yang telah tersedia, termasuk Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA).

Meski demikian, keberadaan fasilitas evakuasi belum tentu menjamin seluruh warga dapat mencapai tempat aman dalam waktu yang tersedia.

Daryono mengingatkan bahwa kesiapan tempat evakuasi perlu dinilai berdasarkan berbagai aspek, mulai dari kapasitas lokasi, jumlah penduduk yang harus dilindungi, jarak tempuh, akses jalan, hingga kepadatan permukiman.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa jalur evakuasi dapat digunakan masyarakat secara efektif ketika situasi darurat terjadi. Evaluasi tersebut penting agar warga tidak mengalami hambatan saat harus menyelamatkan diri dalam waktu singkat.

Dengan demikian, peta bahaya tidak hanya berfungsi menunjukkan kawasan yang berisiko, tetapi juga menjadi dasar untuk mengevaluasi kesiapan infrastruktur dan sistem penyelamatan masyarakat.

Skenario Tsunami 18 Meter Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi

Daryono kembali menegaskan angka 18 meter bukanlah ramalan tsunami dengan ketinggian tersebut pasti akan menerjang Kebumen.

Angka itu merupakan hasil pemodelan berdasarkan asumsi gempa tertentu untuk menggambarkan batas ancaman yang perlu dipertimbangkan dalam upaya mitigasi bencana.

Menurutnya, tujuan utama penyusunan skenario tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan mendorong masyarakat agar lebih siap menghadapi kemungkinan bencana.

Meskipun waktu terjadinya gempa besar belum dapat dipastikan, wilayah yang memiliki potensi bahaya dapat dipetakan sehingga langkah perlindungan bisa disiapkan lebih awal.

Masyarakat pesisir diimbau mengenali jalur evakuasi, mengetahui lokasi aman terdekat, serta memahami tanda-tanda alami tsunami. Edukasi dan latihan evakuasi secara berkala juga penting untuk mengurangi risiko ketika bencana benar-benar terjadi.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.