Kemarau Panjang Tekan Budi Daya Ikan di Bantul

Senin, 12 Okt 2026, 18:30 WIB

BANTUL — Kemarau panjang mulai berdampak pada usaha budi daya ikan di Kabupaten Bantul, terutama pada proses pembenihan dan risiko munculnya penyakit. Pembudi daya diminta mengurangi kepadatan ikan dalam kolam serta menyesuaikan jumlah kolam yang digunakan dengan ketersediaan sumber air.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Istriyani mengatakan, fluktuasi suhu selama musim kemarau dapat menyebabkan ikan mengalami stres dan meningkatkan risiko penyakit. Sejumlah laporan terkait kondisi ikan telah diterima dan ditindaklanjuti petugas.

Ket. Foto: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Istriyani — Sumber: Dok. Antara

"Ada beberapa laporan, tapi kemudian kita sudah melakukan pengawasan karena kita punya tenaga dokter hewan, petugas pemantau kesehatan ikan, sudah terjun, langsung terjun," katanya di Bantul, Senin.

Dampak kemarau juga dirasakan pada proses pembenihan. Suhu yang tinggi dapat menurunkan tingkat kelangsungan hidup benih sehingga ketersediaannya untuk mengisi kembali kolam setelah panen menjadi terbatas.

"Dalam kondisi kemarau seperti ini memang untuk pembenihan ikan agak sulit, daya lulus hidupnya itu memang sedikit kecil," ujarnya.

Kondisi tersebut terjadi pada sejumlah kelompok pembudi daya, terutama komoditas lele. Keterbatasan benih menyebabkan sebagian kolam yang telah selesai dipanen tidak dapat langsung diisi kembali.

"Itu terjadi di beberapa kelompok, terutama lele, karena memang pembenihan lele kalau musim kemarau memang agak banyak tantangan," katanya.

Untuk mengurangi risiko gagal panen, DKP Bantul telah menyampaikan sejumlah langkah teknis kepada pembudi daya. Salah satunya dengan mengurangi kepadatan benih dalam kolam.

"Misalnya mengurangi kepadatan kolam, tebar benihnya tidak boleh terlalu banyak," ujarnya.

Ketersediaan air juga perlu diperhitungkan sebelum pembudi daya mengisi kolam. Jika sumber air berkurang, tidak seluruh kolam disarankan digunakan untuk budi daya.

"Kalau memang sumber airnya berkurang, ya jangan kolamnya diisi semua. Item-item teknisnya sudah kita sosialisasikan," katanya.

Istriyani meminta kondisi ikan diperiksa lebih intensif karena perubahan dapat terjadi dalam waktu singkat. Dengan pemantauan rutin, gangguan kesehatan ikan dapat lebih cepat diketahui dan ditangani.

"Kadang-kadang pagi sehat, nanti siang mungkin (kendala). Jadi memang kontrol di tiap kolam itu harus lebih rutin, lebih intens," ujarnya.

Kepadatan ikan juga perlu disesuaikan dengan sirkulasi air. Menurut Istriyani, kolam berukuran tiga meter tanpa aliran air umumnya dapat diisi sekitar 1.000 benih lele.

"Kalau mengalirnya mungkin sedang, bisa di angka 3.000 ekor. Kalau mengalirnya deras, bisa di angka 5.000 ekor," katanya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.