• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Jangan Abaikan Nyeri Lutut...

Jangan Abaikan Nyeri Lutut! Menguak Manfaat Robotic Knee Surgery untuk Pengapuran Sendi

Senin, 12 Okt 2026, 17:57 WIB

JAKARTA — Nyeri lutut yang mengganggu aktivitas sehari-hari dapat menjadi salah satu indikasi awal osteoarthritis atau pengapuran sendi. Pada kondisi yang sudah parah dan tidak lagi membaik dengan penanganan nonbedah, teknologi robotic knee surgery menjadi pilihan mutakhir untuk membantu prosedur penggantian sendi lutut secara lebih presisi.

Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp.OT(K), Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine di Jakarta Knee and Shoulder Orthopedic Sports Centre, RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan bahwa osteoarthritis merupakan kondisi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang secara bertahap. Kerusakan tersebut menimbulkan nyeri, kekakuan, serta keterbatasan gerak yang pada akhirnya memangkas kualitas hidup pasien secara signifikan.

Ket. Foto: Bu Tini (kiri) bersama Dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp.OT(K), Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Knee and Sports Medicine di Jakarta Knee and Shoulder Orthopedic Sports Centre, RS Pondok Indah – Pondok Indah, dalam sesi foto seusai diskusi media di Jakarta pada Jumat (9/10/2026). — Sumber: Koran Jakarta/Haryo Brono

"Sering kali osteoarthritis dianggap sekadar bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi ini memerlukan perhatian medis serius, terutama ketika rasa nyeri mulai mengganggu kemampuan berjalan, berdiri, naik-turun tangga, hingga kualitas tidur pada malam hari," ujar dr. Andre dalam diskusi media di Jakarta pada Jumat (9/10/2026).

Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan pelapis pada ujung tulang yang membentuk sendi untuk mengikis gesekan saat bergerak. Ketika jaringan ini aus atau rusak, pergerakan lutut akan menimbulkan rasa sakit yang hebat.

Secara medis, osteoarthritis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu osteoarthritis primer yang berkaitan dengan proses degeneratif akibat penuaan, serta osteoarthritis sekunder yang dipicu oleh cedera, kerusakan sendi sebelumnya, atau aktivitas fisik berlebih. Dr. Andre juga menekankan bahwa pengapuran sendi berbeda dari osteoporosis. Osteoarthritis adalah kerusakan pada tulang rawan sendi, sedangkan osteoporosis merupakan penurunan kepadatan massa tulang yang meningkatkan risiko patah tulang.

Faktor Risiko dan Gejala Utama

Risiko osteoarthritis lutut meningkat pesat seiring bertambahnya usia, khususnya pada kelompok di atas 50 tahun. Perempuan memiliki risiko lebih tinggi akibat perubahan hormonal pascamenopause serta faktor anatomi tubuh.

Selain faktor usia dan jenis kelamin, berat badan berlebih atau obesitas turut menambah beban tekanan mekanis pada sendi lutut sehingga mempercepat kerusakan tulang rawan. Kelainan kelurusan bentuk kaki seperti menyerupai huruf O (genu varum) atau huruf X (genu valgum) juga dapat menyebabkan distribusi beban tubuh pada sendi lutut tidak merata. Riwayat cedera seperti trauma fisik patah tulang atau kerusakan struktur ligamen yang tidak tertangani secara optimal turut menjadi pemicu penting di kemudian hari.

Gejala klinis yang umum dialami pasien antara lain nyeri saat berdiri atau berjalan, sensasi tidak nyaman ketika menaiki tangga, pembengkakan, timbul bunyi gemertak (krepitasi) saat lutut digerakkan, hingga kekakuan sendi harian.

Tahapan Penanganan dan Indikasi Operasi

Penanganan osteoarthritis bertujuan mengurangi nyeri, mempertahankan fungsi sendi, serta menjaga mobilitas pasien. Pada tahap awal, dokter akan menyarankan intervensi nonbedah seperti modifikasi gaya hidup, penurunan berat badan, latihan fisik berdampak rendah (low-impact) seperti berenang atau bersepeda, fisioterapi otot sekitar lutut, serta pemberian obat pereda nyeri dan antiradang.

Namun, pada osteoarthritis stadium lanjut—seperti Grade 4 pada klasifikasi Kellgren-Lawrence—kerusakan tulang rawan sudah tidak dapat dipulihkan hanya dengan obat atau fisioterapi. Pada titik ini, prosedur total knee replacement (penggantian sendi lutut total) menjadi solusi medis yang teruji.

Presisi Robotic Total Knee Replacement

Perkembangan teknologi kedokteran menghadirkan pendekatan berbasis robotik dalam prosedur penggantian sendi lutut. Sistem robotik ini membantu dokter bedah memetakan anatomi lutut pasien secara presisi dalam format tiga dimensi (3D) sebelum dan selama operasi berlangsung.

"Teknologi robotik sama sekali tidak menggantikan peran dokter bedah. Dokter tetap memegang kendali penuh atas seluruh tindakan klinis. Sistem robotik berfungsi sebagai instrumen pembantu presisi tinggi untuk memastikan penempatan dan ukuran implan sesuai anatomi unik pasien, sekaligus meminimalkan pemotongan jaringan tulang yang tidak perlu," jelas dr. Andre.

Akurasi tinggi dalam prosedur robotic total knee replacement ini berdampak langsung pada masa pemulihan. Pasien umumnya dapat belajar berlatih berjalan dalam kurun waktu 24 jam pascaoperasi, bergantung pada evaluasi klinis individual.

Kisah Bu Tini: Kembali Aktif Jalan Pagi dan Mengasuh Cucu

Pengalaman pemulihan ini dirasakan langsung oleh Bu Tini, salah seorang pasien dr. Andre Pontoh. Mengalami osteoarthritis berat di kedua lututnya, Bu Tini awalnya mengira nyeri tersebut hanyalah keluhan biasa akibat proses penuaan. Namun, seiring waktu, rasa sakit tersebut mulai membatasi hobinya bepergian.

"Saya ini masih ingin jalan-jalan jauh, naik pesawat, dan aktif bergerak. Tapi lama-kelamaan perjalanan jauh jadi menyiksa, terutama saat harus berdiri setelah duduk lama," tutur Bu Tini.

Setelah berdiskusi dengan anaknya yang juga seorang dokter, Bu Tini berkonsultasi dengan dr. Andre dan mendapati bahwa osteoarthritis yang diidapnya telah mencapai Stadium 4. Kehadiran teknologi robotik memberi Bu Tini keyakinan dan keberanian untuk menjalani operasi robotic total knee replacement.

Hasilnya sangat memuaskan. "Dua hari setelah operasi dan menjalani fisioterapi, saya sudah bisa belajar berjalan sendiri ke kamar mandi," ungkapnya.

Kini, setelah melewati masa rehabilitasi yang disiplin, Bu Tini telah kembali menikmati kualitas hidupnya. Ia rutin melakukan jalan pagi hingga jarak 3 kilometer dan aktif bermain bersama cucu-cucunya. Ia mengimbau masyarakat yang mengalami nyeri lutut untuk tidak ragu memeriksakan diri sejak dini ke dokter spesialis.

"Jangan menunda pemeriksaan. Tidak semua kondisi harus berakhir di meja operasi seperti saya yang sudah stadium lanjut. Dan yang tidak kalah penting, dukungan penuh (support system) dari keluarga sangat dibutuhkan sepanjang proses pemulihan," pesan Bu Tini.

  • osteoarthritis
  • Kesehatan Sendi
  • RS Pondok Indah
  • operasi lutut robotik
  • Operasi robotik
  • Pengapuran Sendi
  • Robotic Knee Surgery
  • Total Knee Replacement
  • Ganti Sendi Lutut Presisi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.