- Home
-
- Luar Negeri
-
- Aktivis Vietnam Diduga Dic...
Aktivis Vietnam Diduga Diculik di Kamboja, Hanoi Ungkap Penangkapan
Rabu, 30 Sep 2026, 02:13 WIBBANGKOK - Kelompok pro-demokrasi Vietnam, Viet Tan, pada Selasa (29/9), menuduh otoritas Vietnam "menculik" dua aktivis mereka di Kamboja dan membawa keduanya secara paksa ke Vietnam. Tuduhan itu muncul setelah pemerintah Vietnam mengonfirmasi penangkapan kedua aktivis tersebut bersama seorang pria lainnya atas tuduhan terorisme dan pemalsuan dokumen.
Kedua aktivis tersebut adalah Nguyen Duc Thuan, warga negara Norwegia, dan Tran Hiep, warga negara Australia yang juga dikenal sebagai Ho Pham Hiep Huy. Keduanya dilaporkan hilang sejak 18 September setelah melakukan perjalanan ke Phnom Penh untuk bertemu dengan aktivis Vietnam lainnya. Viet Tan sebelumnya menyatakan keluarga dan rekan-rekan mereka tidak mengetahui keberadaan keduanya.
Namun, Kementerian Keamanan Publik Vietnam mengatakan ketiganya ditangkap pada 18 September sekitar pukul 21.50 waktu setempat ketika diduga memasuki Vietnam secara ilegal dari wilayah perbatasan Kamboja. Selain Thuan dan Hiep, aparat juga menangkap Thai Cong Truong Son, warga negara Vietnam.
Menurut pemerintah Vietnam, ketiganya mengaku sebagai anggota Viet Tan dan membawa dokumen palsu untuk memasuki Vietnam secara ilegal dengan tujuan melakukan kegiatan terorisme dan sabotase. Pada 28 September, otoritas keamanan Vietnam menetapkan ketiganya sebagai tersangka dan menahan mereka untuk penyidikan atas dugaan tindak pidana terorisme serta pemalsuan dokumen.
Viet Tan membantah versi tersebut. Kelompok itu mengatakan Thuan dan Hiep tidak berniat memasuki Vietnam dan menuduh keduanya diculik saat berada di Kamboja sebelum dibawa secara paksa ke Vietnam. Viet Tan juga menyebut tuduhan terhadap kedua aktivis tersebut dibuat-buat.
Direktur Eksekutif Viet Tan yang berbasis di Amerika Serikat, Duy Hoang, mengatakan kepada AFP bahwa Thuan dan Hiep tidak memiliki rencana untuk memasuki Vietnam.
"Pada dasarnya, mereka didakwa menjadi anggota Viet Tan," kata Hoang.
"Jelas Hanoi ingin menindak perbedaan pendapat, baik dari dalam maupun luar Vietnam," katanya.
Hoang juga menilai tidak dapat diterima apabila sebuah pemerintah menculik lawan politiknya. Ia mengatakan Vietnam "membutuhkan perubahan politik".
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan pada Selasa bahwa pemerintah Australia telah berkomunikasi langsung dengan keluarga Hiep dan memberikan bantuan konsuler.
Pemerintah Australia juga tengah mencari informasi mengenai keberadaan Hiep, sementara otoritas Norwegia turut terlibat dalam penanganan kasus Thuan. SB/AFP/and
Berita Terkait:
-
Gunung Semeru Erupsi 8 Kali Selama Enam Jam, Masyarakat Diimbau Waspada
-
Tinjau Kebakaran Gedung Bapenda, Wagub Rano Karno Terapkan Skema WFH ASN
-
Dampak Erupsi Anak Krakatau, Nelayan Banten Tidak Melaut
-
DPRD DKI: Pelajar Diusulkan Jadi Penerima Kartu Layanan Gratis Transjakarta
-
Dukung Ketahanan Energi, Kemenhub Perkuat Transportasi Rendah Karbon Lewat ITS 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.