Pakar UGM: Diversifikasi Pangan Penting Hadapi Penguatan El Nino

Senin, 28 Sep 2026, 16:55 WIB

YOGYAKARTA – Pergeseran awal musim hujan akibat penguatan fenomena El Nino perlu diantisipasi karena berpotensi mengubah jadwal tanam dan panen di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi ketersediaan pangan apabila masa panen mundur sementara stok yang tersedia terus berkurang.

Guru Besar Bidang Agroklimatologi UGM Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, S.T.P., M.Agr., mengatakan perubahan pola hujan perlu diikuti dengan penyesuaian kalender pertanian. Menurutnya, mundurnya awal musim hujan akan berimbas pada waktu tanam hingga masa panen.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Antara

“Tentunya ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur, dan mundurnya jadwal tanam ini tentunya juga mengakibatkan mundurnya jadwal panen,” kata Bayu, Senin (28/9).

Pergeseran masa panen, lanjut Bayu, perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh terhadap ketersediaan stok pangan. Selama menunggu panen berikutnya, stok yang sudah tersedia menjadi salah satu penopang pemenuhan kebutuhan masyarakat.

“Dengan mundurnya jadwal panen tentu akan mempengaruhi stok pangan yang ada, dan ketergantungan dari stok sebelumnya menjadi kunci sambil kita menunggu musim panen yang mundur tadi,” jelasnya.

Dari sisi produksi, Bayu menyebut tanaman pangan yang membutuhkan pasokan air cukup besar, seperti padi dan jagung, perlu mendapat perhatian. Kekurangan air selama pertumbuhan tanaman dapat meningkatkan risiko gagal tanam maupun gagal panen dan akhirnya menurunkan produktivitas.

“Apabila ketersediaan airnya kurang, ya tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas, dan dengan turunnya produktivitas akan menyebabkan harga yang mahal dan berakibat pada perekonomian secara nasional,” ungkapnya.

Bayu mendorong pengembangan varietas tanaman yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kering serta penggunaan metode pertanian yang lebih efisien dalam pemanfaatan air. Diversifikasi pangan juga dinilai perlu dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.

“Artinya kita tidak hanya menggantungkan saja dari beras, tetapi ada komoditas lain pengganti beras,” pungkasnya.

Ia menilai langkah antisipasi perlu disiapkan sejak dini karena El Nino merupakan fenomena yang dapat diperkirakan. Selain pemilihan varietas tahan kekeringan dan penerapan metode tanam hemat air, teknologi pemanenan hujan dapat digunakan untuk menyimpan air ketika hujan turun sehingga bisa dimanfaatkan bagi kebutuhan pertanian.

“Kemudian teknologi pemanenan hujan, kita manfaatkan dan tampung air hujan saat hujan turun juga menjadi suatu keharusan saat ini, yang biasanya kita hanya membiarkan air hujan lepas atau mengalir saja, mulai sekarang kita harus berpikir untuk menampung air-air tersebut,” tutupnya.

Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat hingga akhir 2026 juga berpotensi memengaruhi kondisi cuaca, termasuk perubahan pola suhu dan curah hujan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena tersebut dapat bertahan hingga Februari 2027.

Di Indonesia, penguatan El Nino diperkirakan berlangsung beriringan dengan musim hujan, meski sebagian besar wilayah diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan pola tanam dan produksi pangan.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.