Aktor Suara Anime Jepang Gugat TikTok karena Diduga Kloning Suaranya dengan AI
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 13:58 WIB | Oleh: Tim PenulisBersamaan dengan gugatan itu, Sasaki dan sejumlah pengisi suara Jepang lainnya meluncurkan kampanye bernama "No More" untuk menentang penggunaan AI generatif guna meniru suara pekerja seni tanpa izin.
"Industri kami bisa hancur" jika kemenangan TikTok di pengadilan memicu kloning suara AI secara "tidak terkendali" di media sosial, kata aktor Bin Shimada kepada AFP.
Menurut Shimada, yang tergabung dalam kelompok kampanye tersebut, kondisi itu dapat membuat para aktor muda "kehilangan harapan".
Persoalan tersebut juga dengan cepat berkembang menjadi isu global.
"Di banyak negara, undang-undang hak cipta dan perlindungan data belum disesuaikan secara memadai" untuk melindungi pekerja seni dari tiruan AI, kata International Federation of Actors tahun lalu.
Pembuat ChatGPT, OpenAI, juga pernah meminta maaf pada 2024 kepada aktris Scarlett Johansson terkait suara sintetis yang terdengar mirip dengannya dan dirilis setelah Johansson menolak bekerja sama dengan OpenAI dalam proyek tersebut.
Jadi Perhatian Internasional
Meskipun belum ada undang-undang di Jepang yang secara khusus mengatur suara seseorang, Kementerian Kehakiman Jepang bulan lalu menerbitkan pedoman yang tidak mengikat secara hukum untuk memperjelas perlindungan suara berdasarkan hak-hak yang sudah ada.
Kementerian tersebut menyatakan suara sebagai "simbol kepribadian seseorang" tunduk pada "hak publisitas" serta "hak untuk mencegah penggunaan potret dan kemiripan seseorang tanpa izin".
Namun, masih harus dilihat apakah dan bagaimana pedoman tersebut akan memengaruhi putusan pengadilan pada Rabu terkait kasus Tsuda.
TikTok mempertanyakan "ketenaran nasional" Tsuda dan menolak tuduhan bahwa akun tersebut memanfaatkan reputasi merek terkenal secara cuma-cuma sehingga melanggar undang-undang pencegahan persaingan tidak sehat Jepang.
Sebagai sebuah platform, TikTok mengatakan pihaknya hanya "menyediakan forum tempat pengguna dapat mengunggah konten kreatif dan inovatif dalam batas kebebasan berbicara" kepada pengadilan.
Profesor studi kekayaan intelektual Universitas Waseda Tatsuhiro Ueno mengatakan kepada AFP bahwa sangat kecil kemungkinan suara Tsuda sama sekali tidak mendapatkan perlindungan hak publisitas.
Mengingat peran Tsuda dalam "Jujutsu Kaisen" sebagai penyihir elit yang tenang, yang membuat suaranya "sangat mudah dikenali di Eropa", Ueno menilai putusan tersebut "akan menarik banyak perhatian internasional".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!