Seoul: Korut Kembali Tembakkan Misil Balistik

Senin, 21 Sep 2026, 02:40 WIB

SEOUL — Militer Korea Selatan (Korsel) melaporkan bahwa Korea Utara (Korut) kembali menembakkan dua misil balistik jarak pendek ke laut di lepas pantai timurnya pada Minggu (20/9), dengan misil kedua terbang sejauh lebih dari 600 kilometer.

Peluncuran tersebut terjadi beberapa hari setelah Pyongyang menegaskan kembali statusnya sebagai negara bersenjata nuklir dan menolak resolusi PBB yang menuntut agar mereka menghentikan aktivitas nuklirnya.

Ket. Foto: Sejumlah warga Korsel menyaksikan siaran televisi yang memberitakan peluncuran misil oleh Korut dari sebuah stasiun kereta api di Seoul pada Minggu (20/9). Misil itu diluncurkan beberapa hari setelah Korut menegaskan statusnya sebagai negara dengan kekuatan nuklir. — Sumber: AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA

Militer Korsel mengatakan misil pertama diluncurkan sekitar pukul 3 sore dari daerah Wonsan dan terbang sekitar 450 kilometer ke Laut Timur (Laut Jepang).

“Militer kami mendeteksi misil balistik jarak pendek tambahan yang diluncurkan dari wilayah Wonsan di Korut menuju Laut Timur sekitar pukul 17.50,” kata Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel.

“Misil kedua terbang lebih dari 600 kilometer, dan pihak berwenang Korsel dan Amerika Serikat (AS) sedang melakukan analisis terperinci untuk menentukan spesifikasi pastinya," demikian pernyataan JCS.

JCS mengatakan Korsel, AS, dan Jepang, telah memantau dan berbagi perkembangan terkait sejak tahap awal peluncuran.

Jepang menyampaikan protes keras kepada Korut terkait peluncuran tersebut, mengutuknya sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional, demikian menurut kantor berita Kyodo yang mengutip pernyataan pemerintah.

Kantor Keamanan Nasional Kepresidenan Korsel segera mengadakan pertemuan keamanan darurat setelah peluncuran pertama dan menilai dampaknya terhadap keamanan nasional, kata kantor kepresidenan.

Pemerintah Korsel pun menyerukan kepada Pyongyang untuk segera menghentikan peluncuran misil balistiknya, dan menggambarkan peluncuran misil pada Minggu sebagai tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Status Mutlak

Peluncuran tersebut terjadi delapan hari setelah Korut menembakkan beberapa misil balistik jarak pendek ke arah Laut Timur sebagai bagian dari apa yang kemudian mereka sebut sebagai latihan kekuatan gabungan.

“Latihan tersebut melibatkan artileri dan misil jarak jauh, dengan senjata-senjata tersebut mengenai sasaran dengan akurasi 100 persen," menurut laporan media pemerintah Korut.

Korut menuduh kekuatan musuh berupaya mengakhiri program nuklir negara itu selama Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pekan ini.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut mengatakan bahwa resolusi IAEA tidak berpengaruh pada posisi Korut sebagai negara pemilik senjata nuklir. “Status Korut sebagai kekuatan nuklir dijamin oleh pencegahan nuklir yang sebenarnya dan ditetapkan secara permanen dan tidak dapat diubah oleh hukum tertinggi negara," kata juru bicara tersebut.

Kim Yo-jong, saudara perempuan pemimpin Korut, Kim Jong-un, baru-baru ini mengatakan bahwa status negara bersenjata nuklir itu adalah mutlak dan menyebut mereka yang berharap untuk denuklirisasi negara itu sebagai orang bodoh.

Presiden AS, Donald Trump, pada Agustus lalu mengatakan bahwa Korut memiliki 57 senjata nuklir, sementara Korsel menyebutkan jumlahnya antara 80 dan 120 senjata nuklir. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.