CEO Nvidia: Ada Peluang AI Menghancurkan Dunia pada 2030 0%
📅 Senin, 21 Sep 2026, 15:45 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSANTA CLARA -
CEO Nvidia Jensen Huang menepis kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat berujung pada kepunahan manusia dalam beberapa tahun mendatang.
Dari The Guardian, Huang bahkan menyebut kemungkinan AI menyebabkan kehancuran dunia pada 2030 berada di angka nol persen. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan CBS News, sekaligus menanggapi kekhawatiran sejumlah peneliti AI mengenai perkembangan teknologi yang semakin cepat.
"Tahun 2030 bukanlah akhir dunia. Kemungkinannya 0% itu akan menjadi akhir dunia," kata Huang, Senin (21/9).
Huang juga mengkritik peringatan yang menggambarkan AI sebagai ancaman eksistensial bagi manusia. Menurut dia, kekhawatiran tersebut telah berkembang menjadi apa yang disebutnya sebagai "narasi kiamat".
Pernyataan Huang muncul setelah Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic, memperingatkan bahwa AI dapat berkembang menjadi sistem yang jauh lebih unggul daripada manusia dan berpotensi memusnahkan umat manusia dalam dekade ini.
Peringatan tersebut turut didukung dua peneliti lain dari Anthropic dan kemudian memicu perdebatan internasional mengenai keselamatan AI serta sejauh mana perkembangan teknologi tersebut perlu diawasi.
Di sisi lain, Anthropic sendiri telah menerbitkan laporan mengenai ancaman penyalahgunaan AI. Laporan itu mendokumentasikan upaya berbagai pihak, termasuk kelompok kriminal, aktor yang didukung negara, vendor perangkat lunak mata-mata, ilmuwan, dan propagandis, dalam memanfaatkan model AI canggih untuk berbagai tujuan berbahaya.
Di antaranya termasuk upaya merancang senjata, mengembangkan patogen mematikan, hingga melakukan pengintaian terhadap kelompok atau individu tertentu.
Huang mengatakan prediksi mengenai kepunahan massal akibat AI tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Dia menekankan bahwa kepentingan Nvidia justru bergantung pada penerapan teknologi AI secara aman.
"Keberhasilan perusahaan kami terkait langsung dengan penerapan produk dan layanan yang aman," ujar Huang.
Menurut Huang, persoalan keamanan AI seharusnya juga ditangani melalui aturan dan mekanisme hukum yang sudah tersedia, termasuk kewajiban terkait keamanan siber dan tanggung jawab atas kerusakan.
"Jangan biarkan narasi kiamat ini memungkinkan seseorang untuk mengabaikan hukum yang ada saat ini," katanya.
Perdebatan mengenai risiko AI tidak hanya berlangsung di kalangan perusahaan teknologi. Sejumlah tokoh industri, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan Elon Musk, sebelumnya telah menyerukan perlunya kehati-hatian dalam pengembangan teknologi tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!