Plester Semprot Diperkenalkan untuk Perlindungan Luka yang Praktis
Kamis, 17 Sep 2026, 15:38 WIBJAKARTA â Perawatan luka ringan menjadi salah satu perhatian dalam edukasi kesehatan yang menyasar masyarakat dengan aktivitas tinggi. Dalam Hansaplast First Aid Conference (FAC) 2026, diperkenalkan inovasi plester semprot (spray plester) yang dirancang untuk memberikan perlindungan pada luka secara cepat dan praktis.
Produk tersebut diaplikasikan dengan cara disemprotkan langsung pada area luka. Setelah diaplikasikan, cairan membentuk lapisan pelindung yang fleksibel dan tidak terlihat sehingga pengguna tetap dapat beraktivitas tanpa harus menggunakan plester konvensional.
FAC 2026 mengangkat tema âComplete Wound Care: Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapyâ. Kegiatan tersebut mempertemukan tenaga kesehatan, khususnya apoteker, dalam rangkaian edukasi, diskusi bersama ahli, serta lokakarya mengenai perawatan luka.
Lapisan Pelindung untuk Luka Ringan
Spray plester dirancang untuk digunakan pada luka akut dan luka superficial, seperti goresan, lecet, luka kecil, maupun luka ringan yang umum terjadi ketika berolahraga atau melakukan aktivitas di luar ruangan.
Berbeda dengan plester berbentuk lembaran, produk tersebut disemprotkan langsung pada area luka, termasuk bagian tubuh yang relatif sulit dijangkau. Setelah mengering, semprotan membentuk lapisan tipis yang fleksibel dan tidak terlihat.
Teknologi yang digunakan menghasilkan lapisan yang membantu melindungi luka dari air dan kotoran. Lapisan tersebut juga dirancang tetap fleksibel sehingga tidak terlalu membatasi pergerakan kulit.
Dalam formulanya terdapat Ethyl Cellulose yang berfungsi membantu membentuk lapisan pelindung tahan air. Sementara itu, Glycerin dan Castor Oil digunakan untuk membantu mempertahankan fleksibilitas lapisan yang terbentuk.
Business Unit Health Care Director Beiersdorf, Vivilya Lukman, mengatakan inovasi perlindungan luka perlu diikuti dengan pemahaman yang tepat mengenai perawatan luka.
âDengan adanya Hansaplast Spray Plaster, kami menghadirkan cara baru untuk melindungi luka yang cepat, praktis, dan hampir tidak terlihat. Namun lebih dari itu, pengetahuan yang tepat juga menjadi bagian penting dari perawatan luka,â ujarnya.
Menurut dia, kerja sama dengan tenaga kesehatan dan mitra menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi mengenai perawatan luka kepada masyarakat.
Apoteker Didorong Perkuat Edukasi Perawatan Luka
Selain memperkenalkan produk, FAC 2026 menyoroti peran apoteker dalam memberikan informasi mengenai perawatan luka kepada masyarakat.
Apoteker kerap menjadi salah satu tenaga kesehatan yang ditemui masyarakat ketika menghadapi masalah kesehatan ringan. Dalam konteks perawatan luka, mereka dapat membantu memberikan informasi mengenai langkah membersihkan, melindungi, serta merawat luka sesuai kondisinya.
Rangkaian kegiatan FAC 2026 mencakup sesi edukasi, diskusi dengan ahli, dan wound-care workshop. Salah satu sesi membahas pemanfaatan komunikasi digital untuk memperluas peran apoteker sebagai sumber edukasi kesehatan.
Sesi bertajuk âModern Wound Care Workshop Through Digital Communication: Empowering Pharmacists as Trusted Health Educatorsâ membahas cara tenaga kefarmasian menyampaikan informasi mengenai perawatan luka melalui saluran komunikasi digital.
Dr. apt. Lusy Noviani, M.M., mengatakan pemahaman mengenai perawatan luka perlu mencakup proses sejak luka terjadi hingga tahap perawatan bekas luka.
âPerawatan luka yang tepat tidak berhenti pada bagaimana luka bisa sembuh, tetapi juga perlu memperhatikan bagaimana kita melindungi luka sejak awal dan merawat bekas luka dengan baik,â katanya.
Menurut Lusy, tenaga kesehatan perlu memiliki pemahaman yang menyeluruh mengenai perawatan luka agar informasi yang diberikan kepada masyarakat dapat disampaikan secara mudah dipahami.
Edukasi Melalui Jaringan Apotek dan Komunitas
Edukasi perawatan luka juga dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra. Salah satunya melalui program Tanya Luka bersama Kimia Farma yang dilaksanakan melalui jaringan apotek dan tenaga kefarmasian.
Program tersebut memberikan edukasi dan konsultasi mengenai langkah membersihkan, melindungi, serta merawat luka. Program ini memperoleh rekognisi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kegiatan edukasi perawatan luka dengan jumlah peserta terbanyak.
Selain melalui jaringan apotek, edukasi pertolongan pertama juga menyasar komunitas dengan tingkat mobilitas tinggi. Melalui Hansaplast Siaga Squad, edukasi dasar pertolongan pertama dan perawatan luka diberikan kepada mitra pengemudi Grab.
Materi yang diberikan mencakup pengetahuan dasar untuk menangani luka ringan, baik untuk diri sendiri maupun ketika membantu orang lain. Program tersebut juga memperoleh rekognisi MURI atas edukasi perawatan luka kepada mitra pengemudi dengan jumlah peserta terbanyak.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi perawatan luka tidak hanya diarahkan kepada pengguna produk, tetapi juga melibatkan tenaga kefarmasian dan komunitas yang berpotensi menghadapi situasi pertolongan pertama dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui pengembangan produk perlindungan luka dan kegiatan edukasi, perawatan luka ringan diarahkan tidak hanya pada penggunaan produk, tetapi juga pada pemahaman mengenai langkah penanganan yang tepat sejak luka terjadi.
- apoteker
- Grab
- kimia farma
- pertolongan pertama
- hansaplast
- Kesehatan
- Perawatan Luka
- Hansaplast Spray Plaster
- Wound Care
- Spray Plaster
- First Aid Conference 2026
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Gubernur Minta PWNU Banten Jaga Kekompakan Jelang Muktamar Ke-35 NU
-
AS Beri Sanksi Ekonomi ke Iran dengan Targetkan Lima Sektor
-
75 Menit Jalan Cepat Seminggu Bisa Mengurangi Lemak Perut, Benarkah? Ini Kata Studi Terbaru
-
Grab Luncurkan GrabAcademy, Buka Peluang Mitra Pengemudi Naik Kelas ke Ekosistem UMKM
-
Babak Baru Diplomasi: Trump Bersiap Jumpa Kim Jong Un Lagi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.