Menjaga Hutan Bromo Perlu Inovasi Serius guna Menghindari Kebakaran
Kamis, 17 Sep 2026, 13:23 WIBLUMAJANG - Â Kebakaran besar di destinasi wisata sungguh merugikan karena ekonomi lingkungan benar-benar terhenti, seperti kebakaran di Bromo. Maka, pakar pariwisata dari Universitas Andalas Sari Lenggogeni mendorong pengelola kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur memperkuat mitigasi berbasis risiko melalui pembatasan aktivitas dan kapasitas kunjungan pada periode rawan kebakaran.Â
"Pada musim dengan risiko kebakaran tinggi, misalnya, kapasitas kunjungan, aktivitas tertentu, penggunaan api, kegiatan komersial, shooting, event dan aktivitas berisiko lainnya harus dapat dibatasi berdasarkan tingkat risiko harian," kata Sari saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.
Sari mengatakan penanganan Bromo tidak cukup hanya menggunakan pendekatan pemadaman kebakaran (fire extinguishing), tetapi perlu menggunakan pendekatan manajemen bencana dan krisis pariwisata yang mencakup pemulihan kawasan, ekosistem pariwisata, livelihood masyarakat, dan kepercayaan wisatawan.
Manajemen krisis pariwisata mencakup tahapan response, recovery, dan resilience. Pada tahap awal keselamatan manusia dan pemadaman menjadi prioritas, sedangkan setelahnya pemulihan perlu segera dilakukan agar masyarakat yang bergantung pada pariwisata tidak kehilangan pendapatan terlalu lama.
Pada tahap pemulihan, ia menyebut empat intervensi yang diperlukan, yakni rapid tourism impact assessment untuk menghitung dampak terhadap pengemudi jip, pemandu, homestay, pedagang, UMKM, fotografer, penyedia kuda dan pekerja informal.
Lalu perlindungan konsumen melalui pilihan refund atau reschedule tanpa penalti. Sedangkan tourism livelihood recovery melalui antara lain relaksasi kewajiban usaha, bantuan modal kerja mikro dan program padat karya serta visitor redistribution ke atraksi dan desa wisata alternatif yang dinyatakan aman.
"Namun prinsipnya harus sangat jelas:Â alternative tourism route must follow the safety map. Jangan mengalihkan wisatawan hanya demi mempertahankan jumlah kunjungan," ujarnya.
Dia juga menilai kebakaran yang berulang perlu menjadi sinyal bagi pengelola untuk mengubah pendekatan dari manajemen reaktif menjadi manajemen risiko prediktif.
"Jadi ukuran keberhasilan pemulihan Bromo menurut saya bukan seberapa cepat wisatawan kembali, tetapi seberapa aman Bromo dibuka kembali, seberapa cepat ekonomi masyarakat pulih, dan apakah risiko kebakaran berikutnya menjadi lebih kecil," katanya.
Kebakaran di kawasan Bromo kembali terjadi pada Kamis (10/9/2026). Kebakaran pertama diketahui sekitar pukul 16.30 WIB di Savana Pengol dan kemudian berkembang ke arah Gunung Kursi.
Kondisi angin kencang turut memengaruhi perkembangan api, sementara penyebab kebakaran masih dalam pendalaman.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Jangan Biarkan Karhutla Meluas! KSP Minta Penanganan Cepat dan Tegas
-
Berikan Rasa Aman, TNI-Polri Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas Banjarmasin
-
Update Kebakaran Hutan Gunung Bromo: Hampir 8 Hektare Hangus
-
Upaya Pengendalian Kebakaran Hutan di Kawasan Gunung Bromo
-
Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.