Rahmat Erwin, Pewaris Emas Angkat Besi Indonesia
Selasa, 06 Okt 2026, 06:41 WIBJAKARTA - Di tengah hasil belum memuaskan yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2026, Rahmat Erwin Abdullah tampil sebagai salah satu penyelamat. Lifter asal Makassar, Sulawesi Selatan, itu mempertahankan tradisi emas dengan menjadi juara nomor 75 kg putra di Nagoya City Trade and Industry Center, Jepang.
Rahmat membukukan total angkatan 366 kg untuk merebut podium tertinggi. Dia mencatat snatch 155 kg, 158 kg, dan 160 kg, sebelum menutup pertandingan dengan clean and jerk 201 kg dan 206 kg. Torehan itu mengungguli lifter Korea Utara Ri Chong-song yang membukukan 357 kg. Wakil Thailand, Weeraphon Wichuma, berada di posisi berikutnya dengan 265 kg.
Emas di Nagoya sekaligus menegaskan status Rahmat sebagai juara bertahan. Sebelumnya, dia juga meraih emas Asian Games 2022 di Hangzhou, Tiongkok. Prestasi tersebut memperpanjang konsistensinya di level Asia sekaligus menunjukkan hasil dari proses pembinaan panjang sejak usia dini.
Rahmat lahir pada tanggal 13 Oktober 2000 dari keluarga yang lekat dengan angkat besi. Ayahnya, Erwin Abdullah, merupakan mantan lifter nasional yang meraih perak Kejuaraan Asia 1995 di Busan dan perunggu Kejuaraan Dunia IWF 1994 di Istanbul. Ibunya, Ami Asun Budiono, juga mantan lifter nasional yang mengoleksi emas SEA Games 1995 dan 1997.
Sejak sekolah dasar, Rahmat mendapat tempaan langsung dari sang ayah. Bakatnya berkembang melalui kompetisi pelajar dan mulai menanjak sejak tampil di POPNAS. Debut internasionalnya terjadi pada 2017 di IWF Youth World Championship di Tokyo. Setahun kemudian ia tampil di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
Kariernya melejit pada tahun 2019. Rahmat meraih emas Asian Junior Championship di Pyongyang pada kelas 73 kg. Kemudian merebut emas senior pertamanya di SEA Games Manila. Kini, dia menjadi salah satu tumpuan utama angkat besi Indonesia.
Namun, keberhasilan Rahmat belum cukup mengangkat rapor Merah Putih secara keseluruhan. Indonesia menutup Asian Games 2026 di posisi ke-16 dengan 39 medali, terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Jumlah emas memang melampaui target awal empat emas, tetapi posisi Indonesia di bawah Thailand dan Malaysia memunculkan evaluasi.
Pengamat olahraga Fritz Simanjuntak menilai capaian tersebut belum sebanding dengan kekuatan kontingen yang mengirim 430 atlet. Dia bahkan menyebut Indonesia gagal total karena target yang ditetapkan sejak awal terlalu rendah.
Menurut dia, potensi Indonesia sebenarnya lebih besar, terutama dari bulu tangkis, angkat besi, dan panjat tebing.
Rahmat telah menunjukkan buah dari pembinaan tersebut. Emas Nagoya bukan hanya prestasi pribadi, tetapi juga pengingat bahwa konsistensi atlet lahir dari proses panjang. Tantangannya kini adalah memastikan sistem pembinaan mampu melahirkan lebih banyak Rahmat Erwin untuk mengangkat prestasi Indonesia di level Asia dan dunia. ben/G-1
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Ketua MPR RI Gagas Tour Wayang di Malaysia: Jembatan Seni dan Persaudaraan Dua Negara Serumpun
-
Liverpool Sepakati Transfer Bek Muda Parma, Giovanni Leoni
-
Copernicus Ungkap Juni 2025 Panasnya Capai Rekor Ketiga Dunia
-
Ekspedisi Patriot: Ribuan Anak Muda Dibekali untuk Misi Pembangunan Nasional
-
Terdampak Banjir, Kementerian PU Gerak Cepat Tangani Jembatan Aih Bobo
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.