Formula 1: Norris Kritik Sirkuit Madring dan Aturan Virtual Safety Car Usai Kehilangan Kemenangan
Selasa, 15 Sep 2026, 00:25 WIBMADRID â Juara dunia Formula 1, Lando Norris, menilai sirkuit baru Madring di Madrid perlu mengalami perubahan. Ia juga mendesak Formula 1 mengevaluasi aturan virtual safety car (VSC) setelah dirinya kehilangan peluang meraih kemenangan pada Grand Prix Spanyol.
Kekhawatiran bahwa balapan perdana F1 di sirkuit ibu kota Spanyol itu akan diwarnai kecelakaan besar dan bendera merah ternyata tidak terbukti. Namun, jalannya lomba justru berlangsung monoton. Bahkan, sejumlah pembalap mengakui balapan tersebut nyaris membuat mereka mengantuk.
Norris, yang akhirnya finis di posisi ketiga, secara terang-terangan mengkritik desain sirkuit tersebut. âSeharusnya tikungan 18 dan 19 dihilangkan. Tidak ada gunanya,â kata Norris.
âBuat saja lintasan lurus yang lebih panjang menuju tikungan tajam.â
Pembalap McLaren itu bahkan mengaku heran bagaimana desain tersebut bisa disetujui.
âSaya tidak tahu bagaimana seseorang melihat desain ini lalu berkata, âBagus sekali.ââ
Meski demikian, Norris melihat Madring memiliki potensi untuk menjadi lintasan yang menarik jika sejumlah perubahan dilakukan.
âSaya justru bersemangat kembali ke sini tahun depan jika mereka bisa melakukan perubahan tersebut. Saya pikir ini adalah trek yang menyenangkan untuk dikendarai dan bisa menjadi sirkuit yang hebat. Tetapi bagi saya, saat ini ini bukan sirkuit yang hebat,â ujarnya.
Minimnya peluang menyalip juga membuat periode virtual safety car pada fase awal balapan memiliki dampak besar terhadap hasil akhir.
VSC diberlakukan setelah mobil Aston Martin milik Lance Stroll yang berhenti di lintasan harus dievakuasi. Timing tersebut menjadi keuntungan bagi para pembalap di belakang Norris karena mereka dapat masuk pit dan menghemat waktu.
Sebaliknya, Norris justru dirugikan karena berada terlalu jauh di depan ketika VSC diberlakukan. Saat akhirnya ia memiliki kesempatan melakukan pit stop, periode VSC telah berakhir.
Karakteristik Madring yang sulit untuk melakukan manuver menyalip membuat Norris tidak mampu merebut kembali posisi terdepan.
Norris menilai kejadian tersebut kemungkinan menjadi salah satu contoh pertama ketika kemenangan seorang pembalap benar-benar hilang akibat penerapan VSC.
Berbeda dengan safety car konvensional yang membuat seluruh rombongan pembalap melaju di belakang mobil keselamatan selama beberapa lap, VSC hanya membatasi kecepatan setiap mobil untuk periode tertentu. Dalam kondisi VSC, pit stop juga dapat menghemat sekitar 11 detik dibandingkan pit stop normal.
âTidak ada satu pun yang bisa saya lakukan sebagai pembalap hari ini untuk mengerjakan sesuatu dengan lebih baik. Saya start dari pole, memimpin balapan, lalu kehilangan kemenangan karena sesuatu yang berada di luar kendali saya. Menurut saya, bukan seperti itu seharusnya sebuah balapan dimenangkan,â kata Norris.
Ia pun menawarkan beberapa opsi untuk membuat aturan tersebut lebih adil. âKami sudah beberapa kali membicarakan hal ini sebelumnya. Setidaknya, mungkin periode tersebut bisa mencakup satu lap atau semua pembalap diberi kesempatan melakukan pit stop,â ujarnya.
âAtau, pintu masuk pit lane bisa ditutup sehingga tidak ada yang boleh masuk pit, kecuali jika mengalami ban bocor atau masalah lainnya.â
âSaya pikir ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar semuanya lebih sederhana dan adil bagi semua pembalap. Tetapi ini merupakan pembahasan yang lebih besar.â
Juara dunia empat kali Max Verstappen, yang finis kedua di belakang pemimpin klasemen Mercedes, Kimi Antonelli, memperkirakan persoalan tersebut akan dibahas dalam sesi pengarahan pembalap berikutnya.
Bos McLaren, Andrea Stella, juga mengakui perubahan aturan tidak akan mudah dilakukan dan kemungkinan membutuhkan proses panjang.
Menurut Stella, perubahan bisa berlangsung lebih cepat jika ada dorongan kuat dari institusi seperti FIA maupun Formula 1 untuk segera memperbaiki aturan tersebut.
Norris memahami bahwa perubahan regulasi juga memiliki konsekuensi lain. Misalnya, situasi ketika pembalap harus mengganti ban slick ke ban basah di tengah kondisi lintasan yang berubah.
Namun, menurutnya, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan keadilan dalam penerapan VSC.
âSaya pikir semua orang menginginkan hal yang sama, yaitu keadilan bagi semua pembalap,â kata Norris. âSaya harus menerima hasil ini. Tetapi saya hanya berharap kejadian seperti ini tidak menimpa siapa pun lagi, karena menurut saya, bukan seperti itu seharusnya seseorang kehilangan kemenangan dalam sebuah balapan.â
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
2 Rumah Sakit Lapangan guna Menangani Korban Gempa NTT
-
Pemerintah Terbitkan Pedoman Kredit Perempuan Bunga Flat 8 Persen
-
Harga Cabai Rawit Rp66.350/Kg, Telur Ayam Rp28.200/Kg
-
Pascagempa NTT, Telkomsat Pasang Akses Satelit di 17 Titik Terdampak
-
10 Perjalanan Commuter Line Bogor Terlambat dan Dua Dibatalkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.