Zverev Kalahkan Shelton, Paceklik Gelar Grand Slam Petenis Putra AS Berlanjut
Selasa, 15 Sep 2026, 00:10 WIBNEW YORK â Harapan penggemar asal Amerika Serikat untuk melihat petenis putra mereka mengakhiri paceklik gelar Grand Slam kembali kandas. Ben Shelton harus mengakui keunggulan Alexander Zverev pada final US Open, Senin (14/9) dini hari WIB, sehingga penantian petenis putra AS untuk menjuarai turnamen Grand Slam berlanjut hingga tahun ke-24.
Bermain di hadapan ribuan pendukung tuan rumah yang memadati Arthur Ashe Stadium, Shelton menyerah dalam pertarungan empat set. Petenis Amerika itu kalah 3-6, 6-7 (2-7), 7-5, 2-6 dari Zverev.
Kekalahan tersebut memperpanjang penantian Amerika Serikat sejak Andy Roddick menjadi juara US Open pada tahun 2003.
Saat Roddick mengangkat trofi di Flushing Meadows 23 tahun lalu, Shelton bahkan belum genap berusia satu tahun. Kini, generasi baru petenis Amerika kembali gagal mengakhiri periode panjang tanpa gelar Grand Slam.
"Maaf, pemenangnya salah tahun ini. Tetapi saya sudah melakukan tugas saya," kata Zverev seusai pertandingan.
Kegagalan Shelton sekaligus kembali mengingatkan publik pada era keemasan tenis putra Amerika Serikat ketika nama-nama seperti Pete Sampras dan Andre Agassi mendominasi panggung Grand Slam. Namun, kejayaan tersebut kini terasa semakin jauh.
Dalam hampir seperempat abad terakhir, petenis putra Amerika Serikat kesulitan menembus puncak. Sementara petenis putri AS seperti Venus Williams, Serena Williams, Sloane Stephens, Coco Gauff dan Madison Keys mampu mengangkat trofi Grand Slam, sektor putra belum menemukan penerus yang mampu mengakhiri penantian.
Roddick sendiri mencapai final Grand Slam terakhirnya di Wimbledon 2009. Setelah itu, Amerika Serikat harus menunggu 15 tahun sebelum kembali memiliki wakil putra di final Grand Slam.
Penantian tersebut berakhir ketika Taylor Fritz tampil di final US Open 2024 menghadapi petenis Italia, Jannik Sinner. Namun, Fritz juga gagal mengangkat trofi.
Kini Shelton mendapat kesempatan untuk menjadi penerus Roddick. Sayangnya, perjalanan itu terhenti di tangan Zverev.
Meski gagal menjadi juara, Shelton mengaku menikmati pengalaman bermain di panggung terbesar tenis dunia. Petenis berusia 23 tahun itu mengatakan atmosfer pertandingan final di Arthur Ashe Stadium merupakan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ini momen yang luar biasa. Ketika berjalan ke lapangan hari ini, tidak ada yang seperti itu. Saya belum pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya," ujar Shelton.
"Rasanya membuat ketagihan ketika berada dalam posisi seperti ini," tambahnya.
Kegagalan tersebut tidak mengurangi keyakinan Shelton terhadap masa depannya. Ia menilai masih memiliki banyak ruang untuk berkembang.
"Saya rasa saya masih jauh dari pemain yang saya inginkan. Saya pikir saya adalah petarung yang hebat. Saya mampu bersaing dengan sangat baik di lapangan," kata Shelton.
"Saya mampu tetap fokus dan bertahan di lapangan selama berjam-jam. Saya pikir itu akan membantu saya di masa depan."
Terlepas dari hasil final, Shelton telah mencatat sejarah penting. Ia menjadi petenis putra kulit hitam Amerika pertama dalam 54 tahun yang tampil di final US Open.
Petenis terakhir yang melakukannya adalah Arthur Ashe, legenda tenis AS yang namanya kini digunakan untuk stadion utama US Open.
Pencapaian Shelton menjadi simbol perkembangan sekaligus perubahan wajah tenis Amerika Serikat.
Asosiasi tenis AS (USTA) sebelumnya menjadikan keberhasilan Taylor Fritz sebagai salah satu tanda bahwa program pengembangan pemain mulai menunjukkan hasil. USTA melakukan perubahan besar terhadap program pembinaan pemain sejak 2008.
Fritz merupakan salah satu produk program tersebut, begitu pula Frances Tiafoe. Tahun ini, Tiafoe kembali mencapai semifinal US Open untuk ketiga kalinya dalam kariernya.
USTA juga berusaha memperluas keberagaman dalam pembinaan tenis melalui kerja sama dengan American Tennis Association yang diumumkan tahun lalu. Program tersebut secara khusus diarahkan untuk meningkatkan keterwakilan pemain kulit hitam di cabang olahraga yang secara historis didominasi kelompok kulit putih.
Kekalahan Shelton menunjukkan bahwa kebangkitan tenis putra Amerika Serikat masih membutuhkan waktu.
Setelah era Sampras, Agassi dan Roddick berakhir, Amerika belum menemukan pemain yang mampu mempertahankan dominasi di panggung Grand Slam.
Fritz telah membuka jalan dengan mencapai final pada 2024. Shelton kemudian melangkah lebih jauh dengan tampil di final tahun ini. Tiafoe juga terus menunjukkan konsistensi di turnamen besar.
- Alexander Zverev
- Ben Shelton
- US Open 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Rodri Resmi Gabung Barcelona, Transfer dari Manchester City Capai 1,5 Triliun Rupiah
-
Financial Wellness Jadi Strategi Baru Perusahaan Menjaga Produktivitas Karyawan
-
Sapaan Maut El Nino di Honduras: 80 Persen Wilayah Dilanda Kekeringan
-
KOSMAK Desak Jampidsus Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri
-
Sabalenka Kalahkan Pegula, Melaju ke Final US Open Keempat Kalinya Secara Beruntun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.