Dari Tunai ke Pindai: QRIS Jadi Motor Baru UMKM Wisata Perbatasan Temajuk

Selasa, 15 Sep 2026, 04:18 WIB

PONTIANAK - "Dulu kami membabat hutan dan menjual kayunya ke Malaysia. Namun potensi wisata Temajuk mengubah pola pikir kami dan sekarang kami hidup dengan mengandalkan pariwisata," kata pria paruh baya yang biasa dipanggil Atong.

Atong duduk di antara deretan kursi sebuah kantin di kawasan wisata Teluk Atong Bahari, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, saat diwawancarai wartawan. Ia sesekali menyeruput kopi, kemudian meletakkan kembali gelasnya di meja.

Ket. Foto: Sunset di Pantai Teluk Atong Bahari di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. — Sumber: ANTARA/Rendra Oxtora

Pria yang namanya dijadikan nama tempat wisata itu merupakan salah satu pelopor pariwisata di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas. Dengan campuran bahasa Indonesia dan logat Melayu Sambas, dia bercerita bahwa dari tempat itu, kawasan pesisir Temajuk terbentang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang selama bertahun-tahun bergantung pada laut.

Namun, laut tidak selalu bisa diandalkan menjadi sumber penghidupan. Ketika cuaca buruk, nelayan tidak dapat melaut. Dalam kondisi seperti itu, sebagian nelayan mencari penghasilan dari pekerjaan lain, termasuk menebang dan mengirim kayu ke Malaysia.

"Sejak tahun 2008, pemikiran kami terbuka bahwa potensi utama Desa Temajuk, selain laut, adalah pariwisata. Sehingga saat ini wisata menjadi jalan keluar ekonomi bagi kami, warga perbatasan," kata Atong.

Kalimat itu menggambarkan perubahan besar yang perlahan berlangsung di desa paling ujung di utara Kalimantan Barat tersebut.

Dengan potensi pariwisata yang telah digarap masyarakat setempat, Temajuk tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah perbatasan yang berhadapan langsung dengan Sarawak, Malaysia. Di balik garis batas negara, masyarakat mulai melihat alam sebagai modal ekonomi yang dapat dikelola tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Bagi Atong dan warga Temajuk lainnya, perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Sekitar 2008, gagasan mengembangkan pariwisata mulai tumbuh ketika masyarakat menghadapi keterbatasan pilihan pekerjaan. Sektor perkebunan belum berkembang maksimal karena persoalan akses, sementara aktivitas masyarakat yang bergantung pada sektor kayu kemudian mendapat penertiban dari pemerintah.

Setahun setelah gagasan itu muncul, dukungan pemerintah mulai datang melalui pembangunan pondok wisata oleh Dinas Kelautan dan Perikanan. Selebihnya, masyarakat bergerak secara bertahap.

Seiring waktu berjalan, penginapan mulai dibangun. Rumah warga perlahan berubah menjadi homestay, warung makan bermunculan dan pengelola wisata belajar menerima tamu. Mereka memperkenalkan destinasi dan mempromosikan Temajuk dengan kemampuan yang mereka miliki.

"Dari awal memang perjuangannya berat. Kami berusaha sendiri, belajar bagaimana mengelola dan mempromosikan wisata, kemudian perlahan mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah," kata Atong.

Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan di kawasan perbatasan, setiap wisatawan yang datang membawa rantai ekonomi yang panjang. Ada kamar yang harus disiapkan, makanan yang harus dimasak, kendaraan yang harus digunakan, produk lokal yang dapat dijual, hingga jasa pemandu yang dibutuhkan.

Dengan demikian, semakin banyak wisatawan datang, semakin banyak pula warga yang berpeluang mendapatkan manfaat ekonomi.

DSC08730.jpg Wisatawan dari Pontianak, Dian melintasi PLB Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. PLB tersebut resmi kembali di buka pada pertengahan Agustus 2026 lalu dan diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dari Indonesia maupun Malaysia. (Antara/Rendra Oxtora)

Peluang lintas batas

Potensi itu semakin besar karena Temajuk memiliki posisi geografis yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata lainnya. Desa tersebut berada di ujung utara Kabupaten Sambas dan berhadapan langsung dengan kawasan Telok Melano di Sarawak, Malaysia, di mana jarak geografis tersebut sekaligus menjadi peluang.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas Dedy Zulkarnaen mengatakan Temajuk memiliki karakter wisata perbatasan yang berbeda karena menawarkan perpaduan wisata laut dan darat dengan lingkungan alam yang masih relatif asri.

"Temajuk sangat dimungkinkan menjadi wisata lintas batas atau antarnegara. Walaupun mungkin karakter masyarakatnya hampir sama, dari sisi budaya, alam dan produk-produknya ada perbedaan yang bisa dijadikan sebuah paket wisata," kata dia.

Konsep tersebut memungkinkan Temajuk tidak hanya menjadi tempat yang dikunjungi wisatawan untuk menikmati pantai. Temajuk dapat menjadi bagian dari perjalanan yang menghubungkan dua negara.

Wisatawan dapat menikmati alam dan kehidupan masyarakat Temajuk sebelum melanjutkan perjalanan menuju Telok Melano. Sebaliknya, wisatawan dari Malaysia memiliki kesempatan datang menikmati destinasi di sisi Indonesia.

Jika konektivitas tersebut dapat diwujudkan secara optimal, perbatasan tidak lagi hanya menjadi garis yang memisahkan dua wilayah negara. Perbatasan dapat berubah menjadi ruang pertemuan ekonomi.

Bagi masyarakat Temajuk, peluang itu berarti lebih banyak tamu, lebih banyak kamar yang terisi, lebih banyak makanan yang tersaji dan semakin banyak produk lokal yang berpotensi terjual.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas melihat peluang Temajuk tidak berhenti pada wisata bahari. Ekowisata, wisata alam, gastronomi, budaya hingga wisata religi dapat dikembangkan secara bersamaan untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama.

Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah ekowisata penyu. Keberadaan kekayaan alam yang masih terjaga itu menjadi modal penting bagi Temajuk untuk membangun identitas sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis lingkungan.

Namun, kata Dedy, potensi alam saja tidak cukup karena Temajuk masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari infrastruktur jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, amenitas hingga kualitas sumber daya manusia.

Kondisi itu sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan Temajuk bukan semata-mata kekurangan wisatawan, karena pada waktu tertentu, tantangannya justru bagaimana masyarakat mampu menyediakan fasilitas yang cukup ketika wisatawan datang dalam jumlah besar.

"Permasalahan ini yang coba kita selesaikan bersama dan kami sangat mengharapkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat," kata Dedy.

DSC08549.jpg Puput Erwandi, pengelola Homestay Teluk Atong Bahari menerima pembayaran dengan QRIS dari salah satu wisatawan asal Pontianak (Antara/Rendra Oxtora)

Wisata dan QRIS

Pertumbuhan pariwisata di Temajuk kemudian membawa perubahan lain yang mungkin tidak terlihat secara kasatmata. Di homestay dan tempat wisata di Temajuk, transaksi tunai mulai mendapat alternatif melalui alat pembayaran QRIS.

Pengelola Homestay Teluk Atong Temajuk, Puput Erwandi, mengatakan lebih dari 60 persen pengunjung kini memilih bertransaksi menggunakan QRIS.

Bagi pelaku usaha, perubahan tersebut terlihat sederhana. Wisatawan cukup memindai kode QR, memasukkan nominal pembayaran dan transaksi selesai.

Namun, di kawasan perbatasan, penggunaan QRIS memiliki makna yang lebih luas.

Temajuk berada di wilayah yang berhadapan langsung dengan Malaysia. Mobilitas orang dan aktivitas ekonomi lintas negara membuat transaksi menggunakan mata uang asing menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat perbatasan.

Karena itu, ketika wisatawan membayar jasa penginapan atau membeli produk lokal menggunakan QRIS, transaksi tersebut tidak sekadar menjadi lebih praktis. Ada kepentingan yang lebih besar, yaitu memastikan transaksi ekonomi di wilayah Indonesia tetap berada dalam ekosistem pembayaran yang menggunakan rupiah.

Puput mengatakan QRIS tidak hanya digunakan oleh wisatawan domestik, tetapi juga dapat dimanfaatkan wisatawan mancanegara dan di titik inilah teknologi pembayaran bertemu dengan konsep kedaulatan mata uang.

Pariwisata membawa orang dari luar daerah bahkan dari luar negeri masuk ke Temajuk. QRIS kemudian menjadi jembatan transaksi yang memungkinkan kegiatan ekonomi berlangsung secara digital tanpa harus mengubah aktivitas tersebut menjadi penggunaan mata uang asing secara langsung.

Wajah ekonomi baru perbatasan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya mengatakan posisi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia memberikan peluang besar bagi pengembangan transaksi digital lintas negara. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah merchant QRIS di Kalimantan Barat yang saat ini mencapai 552.673 atau tumbuh 28,94 persen secara tahunan.

Sebanyak 74,17 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro. Nilai transaksi QRIS hingga periode yang sama mencapai Rp6,5 triliun, tumbuh 112,04 persen secara tahunan. Sementara volume transaksi mencapai 62,9 juta transaksi atau tumbuh 131,97 persen, dengan jumlah pengguna mencapai 875,4 ribu orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa QRIS telah berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.

Di sektor pariwisata, keberadaan QRIS memberikan keuntungan lain, pelaku usaha kecil yang sebelumnya bergantung pada uang tunai dapat menerima pembayaran secara digital. Wisatawan tidak perlu selalu membawa uang tunai dalam jumlah besar, terlebih transaksi tercatat dan dapat dilakukan lebih cepat.

Bagi kawasan seperti Temajuk, manfaat tersebut menjadi semakin penting ketika jumlah wisatawan dari Malaysia berpotensi meningkat.

BI Kalbar bahkan mengembangkan QRIS Betang atau Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara sebagai pendekatan untuk memperluas pemanfaatan QRIS Antarnegara.

Program tersebut mencakup QRIS Betang Perbatasan, QRIS Betang Perbankan serta QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas. Melalui QRIS Betang Perbatasan, digitalisasi pembayaran didorong di kawasan PLBN, pasar wisata, perhotelan serta sektor makanan dan minuman. Pada 2026, program tersebut diperluas ke tiga PLBN, yakni Entikong, Badau dan Jagoi Babang.

Bagi Temajuk, arah kebijakan tersebut menjadi penting karena kawasan ini sedang berada di persimpangan antara pertumbuhan pariwisata dan konektivitas lintas negara. Menariknya, penguatan rupiah tidak berarti menutup diri dari transaksi dengan wisatawan negara tetangga. Sebaliknya, teknologi pembayaran memungkinkan hubungan ekonomi lintas negara berlangsung lebih mudah sekaligus tetap berada dalam sistem yang teratur.

"QRIS Antarnegara menjadi salah satu instrumen yang dikembangkan BI untuk menjawab kebutuhan tersebut," kata Doni.

images-6.jpeg Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya memberikan keterangan pers pada kegiatan Media Berkabar di kantor BI Kalbar beberapa waktu lalu. (Antara/Rendra Oxtora)

Menjaga rupiah

Bank Indonesia juga melihat wilayah perbatasan seperti Temajuk memiliki posisi strategis karena menjadi beranda terdepan Indonesia sekaligus pintu masuk aktivitas ekonomi lintas negara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Reynaldi Akbar Ariesha mengatakan penguatan layanan kebanksentralan di kawasan perbatasan dilakukan melalui berbagai program, termasuk edukasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, digitalisasi sistem pembayaran serta penyediaan uang Rupiah layak edar.

Menurut dia, masyarakat perbatasan perlu memperoleh akses terhadap layanan keuangan yang semakin kuat dan inklusif. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya Layanan Perbankan Nusantara atau Lentera Batas Negeri.

Hingga Juni 2026, BI Kalimantan Barat telah melaksanakan layanan kas keliling di 12 titik wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar dengan nilai penukaran uang mencapai Rp2,78 miliar.

Melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat, BI juga menjangkau lima pulau terluar Kalimantan Barat, yakni Pulau Karimata, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Pelapis dan Padang Tikar, dengan total layanan penukaran uang sebesar Rp15,6 miliar. Pada saat yang sama, edukasi mengenai rupiah terus dilakukan.

"Sepanjang 2026, BI Kalbar telah menggelar 74 kegiatan sosialisasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah yang diikuti lebih dari 22 ribu peserta. Semua itu menunjukkan bahwa menjaga kedaulatan rupiah di perbatasan bukan hanya soal memastikan masyarakat memiliki uang rupiah.

Kedaulatan juga dibangun melalui kebiasaan menggunakan rupiah dalam aktivitas ekonomi. Di tengah perubahan pola transaksi masyarakat, kebiasaan itu mulai bersentuhan dengan teknologi digital. Ant

  • Pengguna QRIS

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.