CFO Asia Tenggara Optimistis, Tapi Risiko Global Masih Mengintai

Selasa, 15 Sep 2026, 18:00 WIB

JAKARTA - Chief Financial Officer (CFO) di Asia Tenggara menunjukkan optimisme terhadap kinerja perusahaan dalam 12 bulan mendatang meski ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Berdasarkan Deloitte Asia Pacific CFO Pulse Survey, tingkat optimisme bersih CFO terhadap kinerja perusahaan mencapai 23 persen atau terpaut 39 poin persentase di atas keyakinan mereka terhadap kondisi perekonomian global.

Optimisme tersebut juga tercermin dari proyeksi terhadap kinerja perusahaan dalam satu tahun ke depan. Sebanyak 81 persen CFO memperkirakan laba perusahaan akan meningkat atau setidaknya tetap stabil di tengah kondisi bisnis yang masih penuh tantangan.

Ket. Foto: Chief Financial Officer (CFO) di Asia Tenggara menunjukkan optimisme terhadap kinerja perusahaan dalam 12 bulan mendatang meski ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Berdasarkan Deloitte Asia Pacific CFO Pulse Survey, tingkat optimisme bersih CFO terhadap kinerja perusahaan mencapai 23 persen atau terpaut 39 poin persentase di atas keyakinan. — Sumber: Pexels

Kondisi ekonomi Indonesia turut menjadi salah satu faktor yang mendukung optimisme tersebut. Perekonomian nasional diproyeksikan tetap tumbuh di kisaran 5 persen, meskipun para pemimpin bisnis tetap dituntut untuk waspada dan mampu beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan global.

Di sisi lain, risiko geopolitik masih menjadi perhatian besar bagi dunia usaha di kawasan Asia Tenggara. Sebanyak 79 persen CFO memperkirakan konflik di Timur Tengah akan memberikan dampak negatif terhadap organisasi mereka dalam periode mendatang.

Untuk menghadapi potensi tekanan tersebut, perusahaan mulai memperkuat sejumlah aspek fundamental keuangan. Prioritas utama yang dilakukan antara lain memperketat pengendalian biaya dengan persentase 73 persen serta meningkatkan perhatian terhadap likuiditas dan pengelolaan kas yang mencapai 55 persen.

Peningkatan kewaspadaan terhadap risiko juga ikut mengubah pola hubungan antara CFO dan komite audit. Ketika keputusan mengenai biaya, likuiditas, serta eksposur risiko harus dibuat lebih cepat, komite audit membutuhkan informasi yang tidak hanya akurat, tetapi juga mampu memberikan gambaran lebih awal mengenai potensi persoalan.

“Disrupsi geopolitik yang terjadi belakangan ini semakin menegaskan satu hal: dalam kondisi penuh gejolak, komite audit tidak sekadar membutuhkan lebih banyak data. Mereka juga membutuhkan orientasi yang lebih dini – visibilitas mengenai apa yang berubah, apa yang masih belum pasti, serta keputusan strategis yang dapat mempersempit pilihan apabila ditunda,” ujar HO Kok Yong, CFO Program Leader Deloitte Southeast Asia.

Menurutnya, situasi bisnis yang semakin sulit diprediksi membuat komite audit dan CFO memiliki peran yang saling melengkapi. Komite audit menentukan arah tata kelola, sementara CFO memastikan organisasi mampu merespons perubahan dengan kejelasan dan transparansi.

“Dalam kondisi yang belum pernah dihadapi sebelumnya, komite audit menentukan arah, sementara CFO memastikan organisasi mampu menavigasi perubahan dengan penuh keyakinan dengan kejelasan dan transparansi untuk merespons ketika kondisi berubah,” lanjutnya.

Perubahan tersebut juga terjadi di Indonesia seiring semakin kuatnya dorongan regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terhadap penerapan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko yang lebih proaktif. Komite audit kini tidak lagi hanya mengandalkan laporan kuartalan yang bersifat retrospektif, tetapi mulai membutuhkan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi risiko.

Laporan Komite Audit Deloitte bertajuk The Audit Committee: A North Star for CFOs Navigating Uncharted Waters menunjukkan bahwa 90 persen anggota komite audit mengharapkan CFO menjalankan peran sebagai penghubung penting antara manajemen dan dewan. Namun, masih terdapat perbedaan antara ekspektasi tersebut dan praktik penyampaian informasi yang dilakukan CFO.

Sebanyak 62 persen anggota komite audit menginginkan pembaruan informasi secara berkala hingga berkelanjutan. Sementara itu, hanya 36 persen CFO yang menyampaikan informasi dengan frekuensi tersebut.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa persoalan tata kelola bukan semata-mata mengenai jumlah data yang tersedia. Tantangan utamanya adalah bagaimana CFO mengubah data menjadi insight yang relevan dan menyampaikannya lebih awal agar dapat membantu pengambilan keputusan strategis tanpa membebani komite audit dengan informasi operasional yang tidak diperlukan.

“Apa yang kami amati dari perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini adalah bahwa komite audit tidak lagi ingin menunggu hingga laporan kuartalan selesai. Mereka ingin mengetahui sejak dini, apa yang berubah, di mana letak ketidakpastiannya, serta keputusan tertunda mana yang berpotensi membesar menjadi masalah serius,” ujar Liana Lim, CFO Program Leader Deloitte Indonesia.

Menurut Liana, perubahan tersebut menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan di Indonesia semakin berkembang. Namun, kondisi ini juga menuntut CFO untuk memperluas perannya dari sekadar penyaji angka menjadi penghubung strategis yang mampu membaca perubahan dan memberikan insight secara tepat waktu.

Modernisasi fungsi keuangan juga semakin membutuhkan pemanfaatan artificial intelligence (AI) serta pengembangan sumber daya manusia. Berdasarkan CFO Pulse Survey, sebanyak 46 persen CFO telah menggunakan AI secara terbatas di area tertentu, sedangkan baru 12 persen yang menerapkannya secara luas.

Penerapan AI masih menghadapi sejumlah hambatan struktural di dalam perusahaan. Faktor biaya atau kebutuhan sumber daya menjadi kendala bagi 53 persen CFO, diikuti kesenjangan talenta dan keterampilan sebesar 50 persen serta persoalan kualitas data sebesar 43 persen.

Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan tersebut, sebanyak 78 persen CFO menyatakan akan melakukan investasi dalam peningkatan keterampilan atau upskilling tenaga kerja. Langkah tersebut dinilai penting agar transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga didukung sumber daya manusia yang mampu menggunakannya secara optimal.

Di sisi lain, dukungan komite audit terhadap modernisasi teknologi dan pengembangan talenta masih dinilai belum ideal. Hanya 15 persen CFO yang menilai dukungan komite audit terhadap peningkatan teknologi sudah mendekati kondisi ideal, sedangkan dukungan terhadap pengembangan talenta berada di angka 33 persen.

Tantangan serupa terlihat dalam agenda perencanaan suksesi. Hanya 48 persen komite audit yang menempatkan perencanaan suksesi sebagai agenda prioritas, padahal kesiapan calon pemimpin berikutnya menjadi salah satu aspek tata kelola yang dapat dipersiapkan sejak awal.

“Adopsi AI tanpa rencana suksesi yang kuat ibarat mengotomatisasi kapal tanpa ada nahkoda yang mengendalikannya. Bagi CFO di Indonesia, peluang terbesarnya bukan sekadar efisiensi, melainkan memanfaatkan AI untuk meluangkan waktu bagi pengambilan keputusan krusial, sekaligus secara terarah memperkuat kesiapan talenta penerus,” tambah Liana.

Deloitte menilai upaya memperkecil kesenjangan tata kelola membutuhkan keterlibatan CFO dan komite audit secara bersamaan. Komite audit perlu mendukung investasi teknologi dan perencanaan suksesi sebagai bagian dari fondasi tata kelola, sementara CFO harus memastikan mekanisme assurance berjalan kuat agar informasi yang disampaikan tetap jelas dan organisasi dapat merespons perubahan secara cepat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.