AS Dorong Penguatan Sistem Kelistrikan Tenaga Surya di Indonesia
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Amerika Serikat (AS) mendorong penguatan sistem kelistrikan Indonesia agar ekspansi tenaga surya berjalan seiring dengan ketersediaan pembangkit yang andal dan dapat dioperasikan sesuai kebutuhan untuk memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat.
Wakil Menteri Energi AS James P. Danly menyoroti target pembangunan kapasitas tenaga surya Indonesia sebesar 100 gigawatt peak (GWp), yang menurutnya memiliki kapasitas efektif sekitar 15 gigawatt.
“Perlu saya sampaikan bahwa kapasitas tenaga surya sebesar 100 gigawatt, pada kenyataannya, memiliki kapasitas efektif yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 15 gigawatt,” kata Danly di Jakarta, Senin (14/9).
Menurut Danly, ketika banyak negara berupaya memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat, mereka membutuhkan sumber pembangkit listrik yang dapat diandalkan dan dioperasikan sesuai kebutuhan.
Pentingnya ketersediaan pembangkit yang andal dan fleksibel seiring meningkatnya permintaan listrik global, karena sistem kelistrikan tidak bisa terlalu bergantung pada sumber energi yang produksinya bersifat tidak kontinu.
“Amerika ingin berperan dalam menyediakan bahan bakar dan teknologi yang diperlukan guna memastikan ketersediaan daya beban dasar (baseload power) bagi negara-negara yang ingin memanfaatkan ekspor Amerika,” lanjut Danly.
Danly mengatakan strategi dan kebijakan AS adalah membagikan sebanyak mungkin kelimpahan sumber daya Amerika kepada negara-negara yang ingin menjalin kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan, termasuk melalui kemitraan jangka panjang dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.
“Kami berkomitmen untuk membangun hubungan komersial yang kokoh dan sebanyak mungkin, demi memastikan dunia turut merasakan manfaat dari kelimpahan energi Amerika,” kata Danly.
“Output” Aktual
Pengamat energi terbarukan dari Universitas Brawijaya, Malang, Suprapto, mengatakan, pernyataan Danly mengenai kapasitas efektif tenaga surya menjadi catatan penting di tengah ambisi Indonesia mengembangkan PLTS hingga 100 GWp.
Angka 100 GWp jelasnya tidak bisa disamakan dengan kapasitas listrik yang tersedia setiap saat karena produksi tenaga surya bergantung pada intensitas matahari dan tidak tersedia pada malam hari. “Angka 100 GWp itu jangan dibaca seolah-olah Indonesia akan mendapatkan 100 GW listrik yang bisa dipakai kapan saja. Itu kapasitas terpasang, sedangkan output aktual sangat tergantung kondisi matahari,” kata Suprapto.
Jika kapasitas efektif PLTS sekitar 15 GW seperti disampaikan Danly, Pemerintah perlu menghitung bagaimana kebutuhan listrik dipenuhi ketika produksi tenaga surya menurun.
“Ini bukan berarti tenaga surya tidak bagus. Justru potensinya besar. Tetapi sistem kelistrikan tidak hanya membutuhkan listrik yang murah dan bersih, melainkan juga listrik yang tersedia ketika dibutuhkan,” katanya.
Oleh sebab itu, ekspansi PLTS harus berjalan beriringan dengan pembangkit yang fleksibel, sistem penyimpanan energi, serta penguatan jaringan transmisi dan distribusi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!