Trump Tolak Perlambatan AI, Perlombaan dengan Tiongkok Jadi Sorotan

Senin, 14 Sep 2026, 03:00 WIB

Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sejumlah sekutu utamanya pada Minggu (13/9) menentang upaya untuk secara drastis membatasi pengembangan kecerdasan buatan (AI), meskipun dalam beberapa hari terakhir sejumlah tokoh terkemuka industri menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut diperlambat.

Perkembangan pesat AI dan risiko yang ditimbulkan teknologi tersebut terhadap umat manusia kini menjadi perbincangan nasional, hanya beberapa pekan menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections), ketika teknologi menjadi salah satu isu utama dalam kampanye.

Ket. Foto: Semakin banyak pemimpin dan pakar AI memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan yang tidak terkendali dapat menimbulkan dampak yang tidak dapat dipulihkan bagi umat manusia. — Sumber: AFP

Saat melakukan kunjungan ke Irlandia, Trump mengatakan dirinya meyakini terdapat “banyak kekuatan negatif... yang mengangkat hal-hal yang tidak akan terjadi.”

Ketua DPR AS dari Partai Republik Mike Johnson memperingatkan bahwa regulasi yang dilakukan secara terburu-buru akan menempatkan AS pada posisi yang tidak menguntungkan dalam persaingan untuk menjadi negara terdepan dalam AI, yang oleh banyak pihak disamakan dengan perlombaan senjata dengan Tiongkok.

“Kalah dalam perlombaan itu akan menjadi ancaman bagi setiap warga Amerika,” kata Johnson dalam wawancara dengan CNN pada Minggu pagi.

Kontroversi mencuat bulan ini setelah seorang peneliti mengundurkan diri secara terbuka dari perusahaan AI terkemuka Anthropic karena khawatir teknologi tersebut dapat lepas dari kendali manusia.

Karyawan Anthropic lainnya yang tidak mengundurkan diri juga menyatakan secara terbuka bahwa “kami benar-benar percaya AI dapat membunuh semua manusia” dan memperkirakan peluang tersebut lebih dari “10 persen dalam dekade mendatang.”

Di tengah kekhawatiran tersebut, CEO Anthropic Dario Amodei pada Sabtu menyerukan perusahaan-perusahaan AI untuk “memperlambat laju pengembangan teknologi terdepan” atau berkoordinasi dalam memperlambat pengembangan AI guna memberikan waktu untuk memahami risiko yang muncul.

Salah satu kekhawatiran utama Amodei adalah apa yang disebut recursive self-improvement, yakni kondisi ketika AI mampu membangun atau mengembangkan generasi berikutnya dari dirinya sendiri.

“Jika dibiarkan tanpa kendali, hal itu dapat melampaui kemampuan kita untuk memahami dan mengendalikan sistem-sistem tersebut, sehingga harus dilakukan dengan sangat hati-hati, jika memang harus dilakukan,” tulis Amodei.

Dua pesaing utamanya, Elon Musk dari xAI dan Sam Altman dari OpenAI, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap Amodei.

Persoalan Tanggung Jawab

Namun, respons dari para politisi yang memiliki kewenangan untuk mengatur industri tersebut sangat berbeda.

“Kita tidak perlu membuat semua orang panik sekarang,” kata Johnson kepada CNN. “Kita perlu menangani teknologi baru ini seperti kita menangani teknologi lain di masa lalu dan memastikan kita melakukan segala yang kita bisa secara bertanggung jawab, tetapi juga tidak menghambat inovasi Amerika.”

Johnson menyerukan pertemuan di Kongres dengan para pimpinan perusahaan AI untuk membahas bentuk regulasi yang paling tepat.

“Saya akan melakukannya besok,” kata Johnson.

Pernyataan Johnson, setidaknya sebagian, merupakan respons terhadap seruan sejumlah politisi Demokrat yang meminta pembatalan masa reses Kongres pada Oktober agar para anggota parlemen dapat membahas undang-undang mengenai keselamatan AI.

Sejalan dengan kekhawatiran mengenai risiko kalah dalam perlombaan AI, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett mengakui adanya ancaman dari AI yang tidak terkendali. Namun, ia mengatakan “risiko yang jauh lebih besar” adalah ketika “aktor jahat memiliki akses terhadap AI yang lebih canggih daripada yang kita miliki untuk melindungi diri.”

Namun, Partai Demokrat mengecam sikap tersebut.

“Kita tentu perlu mulai bertindak segera untuk mengatasi tantangan yang ada,” kata Ketua Fraksi Demokrat di DPR AS Hakeem Jeffries dalam wawancara dengan ABC pada Minggu. “Dan sayangnya, Partai Republik telah mengabaikan tanggung jawab mereka.”

Politisi dari sayap kiri Partai Demokrat, seperti Anggota DPR AS Ro Khanna dari California, bahkan menyerukan penghentian penuh terhadap pengembangan AI yang mampu memperbaiki dirinya sendiri.

“Amodei tidak melangkah cukup jauh,” tulis Khanna di X.

Agen AI Lepas Kendali

Kontroversi tersebut mencuat kurang dari dua bulan sebelum pemilu paruh waktu, ketika ekspansi pusat data AI muncul sebagai salah satu isu penting dalam kampanye.

Semakin banyak kandidat dari kubu kanan maupun kiri menyuarakan penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data yang tidak terkendali, yang menjadi wujud fisik dari perkembangan revolusi AI.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah insiden pada Juli ketika agen OpenAI, yakni sistem AI otonom, berkoordinasi satu sama lain untuk meretas keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya aman, mengakses internet, kemudian meretas perusahaan lain bernama Hugging Face.

Sejumlah perusahaan AI lainnya, termasuk Anthropic, kemudian melaporkan insiden serupa.

Mayoritas warga Amerika memandang dampak AI terhadap kehidupan sehari-hari secara negatif. Berdasarkan jajak pendapat yang diterbitkan CBS pada Minggu, sebanyak 64 persen responden memperkirakan AI akan mengurangi jumlah lapangan kerja di Amerika Serikat.

Pemerintahan Trump berulang kali menyatakan penolakannya terhadap regulasi industri AI.

Pada awal Agustus, pemerintah AS membentuk mekanisme untuk meninjau model-model AI terbaru dan tercanggih. Namun, partisipasi dalam mekanisme tersebut bersifat sukarela dan rincian mengenai cara kerjanya belum diungkapkan.

  • ekosistem kecerdasan buatan (AI)

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.