Review Lioness Season 3 Episode 7: Dendam Perwira CIA pada Para Penculiknya hingga Intrik Washington
Senin, 14 Sep 2026, 00:24 WIBLioness Season 3 Episode 7 akhirnya memberikan jawaban atas nasib Joe McNamara (Zoe Saldaña) setelah sang perwira senior CIA diculik dan mengalami penyiksaan brutal. Episode bertajuk âKiss the Girlsâ ini menjadi salah satu bagian paling intens sekaligus emosional menjelang final musim ketiga.
Joe bukan lagi sekadar korban yang menunggu diselamatkan. Setelah melewati penyiksaan dan kehilangan bagian tubuh akibat ulah penculiknya, amarah mulai mengambil alih dirinya.
Kesempatan melarikan diri datang ketika kendaraan yang membawa Joe dihentikan polisi. Situasi yang awalnya tampak seperti pemeriksaan biasa berubah menjadi kekacauan. Suara tembakan pecah, para penculik berusaha melawan, sementara Joe yang masih dalam kondisi terikat berusaha merebut kesempatan untuk bertahan hidup.
Dan di sinilah Lioness kembali menunjukkan wajah liarnya.
Joe berhasil mendapatkan senjata dan melawan para penculik. Beberapa orang tewas dalam baku tembak tersebut sebelum timnya akhirnya tiba. Operasi penyelamatan kemudian berubah menjadi pertempuran terbuka dengan rentetan tembakan dan pengejaran bersenjata.
Namun yang membuat adegan tersebut terasa lebih kuat bukan sekadar jumlah peluru yang ditembakkan. Ada kemarahan yang selama ini ditahan Joe.
Ia bukan hanya ingin hidup.
Joe ingin membalas.
Setelah diselamatkan, Joe bahkan tidak langsung siap kembali menjadi seorang istri dan ibu. Trauma yang dialaminya justru membuat obsesinya terhadap para penculik semakin kuat. Ketika orang-orang di sekitarnya berharap dia kembali ke kehidupan normal, Joe memilih jalan berbeda: menyelesaikan urusan yang belum selesai.
Dendam Mengalahkan Rasa Takut
Di titik ini, Episode 7 memperlihatkan perubahan menarik pada karakter Joe.
Biasanya dia adalah orang yang memberikan perintah, menghitung risiko, dan menentukan siapa yang harus masuk atau keluar dari sebuah operasi. Kini Joe sendiri menjadi target. Ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan kendali.
Tetapi pengalaman itu tidak membuatnya mundur.
Justru sebaliknya.
Joe berubah dari orang yang diburu menjadi pemburu.
Keinginannya untuk menemukan dan membunuh orang yang bertanggung jawab atas penculikannya memperlihatkan bahwa trauma tersebut belum selesai. Secara fisik dia berhasil diselamatkan, tetapi secara emosional Joe masih berada di tempat di mana dia disiksa.
Hal ini juga membuat hubungannya dengan Neal semakin rumit. Neal menginginkan Joe berhenti dan kembali kepada keluarganya. Joe justru merasa belum bisa meninggalkan pekerjaan selama orang yang melakukan semua ini masih bebas.
Baku Tembak dan Kematian yang Tak Berhenti
Untuk ukuran episode yang banyak berbicara tentang politik dan operasi intelijen, Episode 7 tetap memberikan dosis aksi yang besar.
Penyelamatan Joe berlangsung brutal. Tembak-menembak terjadi ketika tim CIA bergerak mengejar para penculik. Joe sendiri ikut mengambil senjata dan menembak orang-orang yang mengancam nyawanya.
Setelah berminggu-minggu Lioness membangun misteri tentang siapa sebenarnya dalang penculikan Joe, episode ini akhirnya memberikan payoff berupa operasi penyelamatan yang penuh darah.
Tetapi Taylor Sheridan tidak berhenti di situ.
Setelah Joe ditemukan, persoalannya justru menjadi semakin besar.
Washington Mulai Panik
Bagian menarik lainnya dari Episode 7 adalah bagaimana penculikan seorang perwira CIA di wilayah Amerika Serikat berubah menjadi persoalan geopolitik.
Di Washington, pimpinan CIA mulai menyusun potongan-potongan informasi untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang penculikan tersebut. Kecurigaan sebelumnya bergerak dari satu negara ke negara lain, tetapi episode ini mengarah pada teori yang jauh lebih mengejutkan: Ukraina diduga berada di balik operasi tersebut.
Motif yang dicurigai pun bukan sekadar menculik seorang agen CIA.
Ada dugaan operasi tersebut dirancang untuk memprovokasi Amerika Serikat agar mengambil tindakan militer terhadap Rusia, yang pada akhirnya bisa mendorong Rusia menuju gencatan senjata dan menguntungkan posisi Ukraina.
Jika teori tersebut benar, maka penculikan Joe bukan sekadar operasi intelijen.
Ini adalah permainan geopolitik.
Dan Joe hanyalah salah satu bidaknya.
CIA Terjebak di Antara Kebenaran dan Kepentingan Politik
Di sinilah Lioness kembali masuk ke wilayah abu-abu yang menjadi kekuatan serial ini.
Washington harus menentukan apa yang harus dilakukan terhadap informasi tersebut. Membuka semuanya ke publik bisa memicu konsekuensi politik dan militer. Sebaliknya, menutup kasus berarti pemerintah harus berhadapan dengan persoalan moral: apakah kepentingan geopolitik lebih penting daripada mengungkap siapa yang menculik seorang perwira Amerika di tanah sendiri?
Intrik tersebut bahkan mengarah pada gagasan untuk menghilangkan orang-orang tertentu agar persoalan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar. Sejumlah pejabat CIA melihat pembunuhan sebagai salah satu jalan keluar dari persoalan yang semakin rumit.
Ini yang membuat Episode 7 tidak sekadar menjadi episode penyelamatan.
Joe berjuang untuk membalas dendam di lapangan.
Sementara di Washington, para pejabat berusaha memastikan dendam pribadi Joe tidak berubah menjadi perang yang lebih besar.
Verdict
Episode 7 berhasil menggabungkan tiga elemen utama Lioness: aksi brutal, drama personal, dan permainan politik.
Bagian penyelamatan Joe menjadi puncak emosional episode ini. Baku tembak berlangsung intens, korban berjatuhan, dan Joe akhirnya kembali kepada timnya. Tetapi kepulangannya justru tidak berarti semuanya selesai.
Sebaliknya, Joe kini membawa luka, kemarahan, dan satu tujuan: menemukan orang yang menculiknya dan membalas semuanya.
Di saat yang sama, Washington menghadapi persoalan yang jauh lebih besar. Jika penculikan itu memang bagian dari operasi untuk memancing Amerika Serikat berkonfrontasi dengan Rusia, maka membalas secara langsung bisa menjadi jebakan geopolitik.
Dan di situlah Lioness membuat Episode 7 terasa lebih menarik.
Joe ingin balas dendam. Washington ingin mengendalikan situasi. Sementara musuh mungkin sudah menyiapkan langkah berikutnya.
Dengan hanya satu episode tersisa, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah Joe akan mendapatkan penculiknya.
Pertanyaannya: berapa banyak darah yang harus tumpah sebelum Washington menemukan siapa sebenarnya yang sedang memainkan mereka?
- Lioness
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pelabuhan Benuo Taka Perkuat Konektivitas Logistik dan Lima Kota
-
MPR Tegaskan Hari Konstitusi Bukan Sekadar Seremonial
-
Tanda-tanda Kuat Musim ke-3 'Lioness' di Paramount+ akan Berakhir Menggantung dan Berlanjut ke Season 4
-
Resmi, Tarif TransBandara Blok M-Soetta Rp15 Ribu Mulai September
-
Italia Usul Tambah Pajak Bank Kelas Kakap
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.