Subsidi KPR Diperluas, Industri dan UMKM Berpotensi Ikut Tumbuh

Senin, 05 Okt 2026, 19:00 WIB

JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai stimulus penerima kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi yang diperluas dapat memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi industri hingga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sektor perumahan.

Hal ini menyusul pemerintah yang tengah menyiapkan program kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi yang menyasar pekerja dengan penghasilan tetap hingga sekitar Rp17 juta per bulan dengan bunga 6 persen, dan harga rumah maksimal Rp500 juta.

Ket. Foto: Ilustrasi - Warga melintasi papan iklan perumahan di kawasan Balikpapan, Kalimantan Timur. — Sumber: ANTARA FOTO/ Angga Palguna

“Ada tiga multiplier effect pemberian subsidi KPR. Pertama, menjadi penggerak industri dalam rantai pasok yang sama. Misalnya industri material, jasa konstruksi dan UMKM lokal,” kata Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti saat dihubungi di Jakarta, Senin (5/10).

Lebih lanjut, Ester mengatakan dampak lainnya adalah ⁠perluasan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan.

“Menciptakan pekerjaan langsung di proyek dan tidak langsung pada distribusi logistik, sehingga bisa meningkatkan pendapatan,” ujar dia.

“Sementara terakhir, adalah diharapkan mampu berdampak pada ⁠peningkatan kualitas hidup. Kebijakan ini dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki rumah permanen,” imbuhnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan efek ganda sektor perumahan cukup besar, karena pembangunan rumah mempunyai kaitan dengan banyak sektor ekonomi, sehingga dampak langsung kepada sektor konstruksi dan juga bagi pengembangnya.

“Di sisi jasa, aktivitas tersebut juga menggerakkan kontraktor, arsitek, tenaga konstruksi, perbankan, asuransi, notaris, dan jasa-jasa pendukung lainnya,” ujarnya.

Lebih jauh, Ferry mengatakan dampak berikutnya terjadi setelah rumah itu dihuni, di mana pemilik rumah biasanya akan melakukan pembelian furnitur, elektronik, renovasi, internet, utilitas, dan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Jadi ketika satu kawasan perumahan berkembang, aktivitas ekonomi di sekitarnya juga ikut tumbuh, mulai dari ritel juga, contohnya perbelanjaan tumbuh, kemudian industri UMKM, makanan, ada sekolah, rumah sakit, dan layanan lainnya sampai UMKM juga ikut bertumbuh,” jelasnya.

Ferry juga mengatakan, dampak paling penting yang diharapkan dari kebijakan ini adalah peningkatan produktivitas masyarakat.

“Apabila kebijakan ini memungkinkan masyarakat mendapatkan rumah yang layak dengan cicilan yang terjangkau, dan lokasi juga relatif dekat dengan tempat kerja atau transportasi publik, beban biaya perjalanan dan waktu tempuhnya itu juga dapat berkurang,” kata Ferry.

“Pada akhirnya hal tersebut dapat meningkatkan disposable income, kualitas hidup, dan juga produktivitas pekerja,” imbuhnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.