BMKG Terus Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca untuk Kurangi Abu Vulkanik Anak Krakatau

Selasa, 08 Sep 2026, 16:02 WIB

JAKARTA – BMKG terus melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat pembersihan atmosfer dari material abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Operasi tersebut digelar bersama BNPB, Kementerian Perhubungan, dan pihak terkait sejak Senin (7/9).

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan lima sorti penerbangan telah dilaksanakan hingga Selasa (8/9). Setiap sorti menggunakan bahan semai dan metode berbeda sesuai kondisi atmosfer serta sebaran abu vulkanik

Ket. Foto: — Sumber: Dokumentasi BMKG

“Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan. Satu sorti menggunakan bahan semai powder NaCl,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta.

Satu sorti lainnya menggunakan liquid CaCl2, sedangkan tiga sorti memakai metode spraying/watermist. Pelaksanaan OMC tersebut terus disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan perkembangan sebaran abu vulkanik.

Operasi tersebut diharapkan membuat konsentrasi abu di udara terus berkurang secara bertahap. Kondisi atmosfer juga diharapkan berangsur lebih bersih seiring berjalannya operasi tersebut.

“Operasi akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik. Konsentrasi abu di udara diharapkan terus berkurang,” kata dia.

Sementara itu, BMKG mencatat abu vulkanik berada hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer. Material tersebut bergerak ke arah selatan hingga barat daya dengan kecepatan 5 sampai 10 knot.

Sebaran abu mencakup sebagian Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten. Pemantauan tersebut dilakukan pada Selasa, 8 September 2026, sekitar pukul 09.00 WIB.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan kondisi cuaca sekitar Anak Krakatau cenderung cerah. Kondisi serupa juga terpantau di perairan Selat Sunda sejak pagi hingga malam hari.

“Pantauan cuaca di sekitar GAK dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam,” ujar dia.

Di sektor penerbangan, hasil paper test pukul 06.00 WIB menunjukkan delapan bandara negatif dari paparan abu vulkanik. Pengujian dilakukan berkala untuk melengkapi pemantauan citra satelit dan data meteorologi penerbangan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pengujian dilakukan untuk memastikan keamanan lingkungan bandara sebelum operasional dibuka. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time untuk memastikan seluruh penerbangan berjalan aman.

“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan delapan bandara negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata dia.

AirNav Indonesia kemudian menerbitkan NOTAM setelah kondisi ruang udara dan area landasan dinyatakan aman. Delapan bandara kembali beroperasi secara bertahap berdasarkan hasil verifikasi di lapangan.

Soekarno-Hatta dibuka pukul 00.30 WIB, disusul Halim Perdanakusuma pukul 00.40 WIB. Husein Sastranegara kembali beroperasi pukul 00.42 WIB, sedangkan Budiarto Curug dibuka pukul 01.25 WIB.

Pondok Cabe kembali beroperasi pukul 01.28 WIB, kemudian Muhammad Taufik Kiemas pukul 09.31 WIB. Radin Inten II dibuka pukul 09.45 WIB, disusul Salakanagara Tanjung Lesung pukul 09.50 WIB.

Tetap Waspada

Selain kondisi penerbangan, BMKG memantau laut melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di dua lokasi. Peralatan tersebut berada di Carita dan Tanjung Lesung untuk mendeteksi anomali gelombang muka air laut.

Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan pemantauan tidak menemukan anomali gelombang muka air laut. Probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah atau di bawah 50 persen.

“Hingga pagi ini, tidak terdeteksi anomali kenaikan tinggi muka air laut ataupun perubahan pola arus permukaan. Kondisi itu tidak mengindikasikan akan terjadinya tsunami,” ucap dia.

Tinggi gelombang sekitar Selat Sunda diprakirakan berkisar 0,5 hingga tiga meter selama tujuh hari. Prakiraan tersebut berlaku untuk periode 8 hingga 13 September 2026.

BMKG juga mengacu informasi PVMBG mengenai erupsi baru Anak Krakatau pada pukul 07.49 WIB. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dan berdurasi 19 detik dalam kategori strombolien kecil.

Mengikuti erupsi kecil lainnya, BMKG turut memantau gangguan geomagnetik dan sambaran petir akibat aktivitas Anak Krakatau. Pemantauan tersebut dilakukan menggunakan sensor magnet bumi dan lightning detector milik BMKG.

Gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik tercatat mulai pukul 21.00 hingga 23.00 WIB. Aktivitas tersebut menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Melihat kondisi terkini, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan tenang terhadap dampak erupsi Anak Krakatau. Warga di wilayah terpapar abu vulkanik juga diminta membatasi aktivitas di luar rumah.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah diharapkan menggunakan masker serta kacamata pelindung. Informasi resmi juga perlu terus diperbarui melalui BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah. ils/I-1

  • debu vulkanik
  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
  • Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.