Karhutla dan Hilangnya Habitat, Masa Depan Satwa Endemik Terancam

Senin, 07 Sep 2026, 00:00 WIB

Karhutla yang berulang setiap kali El Nino menunjukkan persoalannya bukan semata faktor cuaca, tetapi juga lemahnya pencegahan dan tata kelola lahan.

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diprediksi kembali menjadi ancaman serius tahun ini. Selain merusak lingkungan, karhutla juga dinilai mengancam keberlangsungan satwa endemik, keseimbangan ekosistem, hingga ekonomi masyarakat.

Ket. Foto: Kebakaran Hutan - Diperlukan Intervensi Teknikal Secara Sistematis dan Berkelanjutan — Sumber: antara

Peringatan itu muncul seiring datangnya fenomena El Nino 2026 yang disebut cukup besar. Para pakar lingkungan, DPR, hingga lembaga riset ekonomi sepakat bahwa penanganan karhutla tidak bisa lagi hanya sebatas pemadaman, tetapi butuh intervensi teknis yang sistematis dan berkelanjutan.

Penelitu sekaligus Founder Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi mengingatkan karhutla akan kembali menjadi momok tahunan. "Kebakaran hutan jadi momok, pasti terjadi hampir setiap kali menghadapi El Nino, tahun ini El Nino cukup besar dan sudah diprediksi pasti terjadi kebakaran lahan," ujar Hafidz, Minggu (6/9).

Menurutnya, pola yang sama sudah terjadi pada 2014 dan 2023. Dengan melihat pola itu, seharusnya pemerintah sudah bisa membaca bagaimana seharusnya menata lahan gambut.

Hafidz menyoroti tim restorasi lahan gambut yang pernah dibentuk pemerintah namun kebakaran tetap berulang. "Seperti biasa pada akhirnya para stakeholder saling lempar menyalahkan dari tradisi masyarakat, perusahaan yang membakar hutan dan seterusnya," katanya.

Dia menilai akar masalahnya adalah ekosistem hutan alam yang sudah tidak memadai untuk menjaga keselamatan ekologis. Karena itu diperlukan intervensi teknikal yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Untuk lahan perkebunan, Hafidz merekomendasikan 3 hal, pertama mengembangkan skema multikultur agar ecosystem service dan ketersediaan air terjaga. Kedua, rekayasa teknis dengan injeksi air hujan saat musim penghujan. Ketiga, mengurangi pemakaian herbisida yang merusak struktur ikatan tanah.

Sementara di area kawasan hutan, perlu memastikan penanaman berkala untuk menjaga tutupan lahan, monitoring kelembaban, dan rekayasa cuaca berkala sebelum kebakaran terjadi untuk meningkatkan kelembaban.

Di sisi lain, Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menegaskan karhutla juga mengancam keberlangsungan berbagai flora dan satwa endemik yang menjadi kekayaan genetik alam Indonesia. Dia menambahkan Kalimantan merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia. Berbagai spesies endemik dan langka Indonesia seperti burung rangkong, kera bekantan, orang utan, pohon ulin dan banyak spesies anggrek terancam musnah akibat kebakaran.

"Ketika hutan terbakar, maka yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga sumber makanan, air dan akhirnya habitat hilang sehingga satwa endemik dan kekayaan genetik kita berpotensi musnah," tegasnya.

Kerugian Besar

Peneliti Ekonomi CELIOS Nailul Huda menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menimbulkan kerugian besar yang tidak hanya berdampak pada ekonomi dan kesehatan, tetapi juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Menurutnya, Kalimantan memiliki banyak flora dan fauna endemik yang langka sehingga kerusakan ekosistemnya memiliki nilai yang sangat tinggi dan sulit diukur secara finansial.

Nailul menjelaskan berkurang atau hilangnya satu spesies dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan menimbulkan kerugian lingkungan maupun ekonomi. Selama ini, perhitungan kerugian karhutla lebih banyak berfokus pada dampak ekonomi langsung dan biaya kesehatan akibat kabut asap, sementara kerugian akibat hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss) masih jarang diperhitungkan.

Senada, Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) menilai karhutla tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan konservasi karena dampaknya juga mengancam ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Lead Researcher SUSTAIN Adila Isfandiari menyebut biodiversitas hutan berperan dalam menjaga ketersediaan air, mengendalikan risiko banjir dan longsor, menyediakan sumber pangan, serta menopang mata pencaharian masyarakat lokal. SUSTAIN mendorong pemerintah memperkuat pencegahan karhutla berbasis masyarakat dan memastikan pemulihan ekosistem dilakukan secara menyeluruh setelah kebakaran.

“Pemulihan tersebut tidak cukup hanya dengan menanam kembali pohon, tetapi juga harus mengembalikan fungsi ekologis dan ekonomi hutan,” ujar Adila.

  • karhutla

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.