Bukan Cuma Kerja di Pabrik, Pemkab Bekasi Ajak Anak Muda Jadi Petani Modern
Senin, 28 Sep 2026, 00:23 WIBKabupaten Bekasi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat, mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian sebagai peluang usaha menjanjikan di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan di perusahaan, meski wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.
Pelaksana Tugas Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mendorong anak muda di Kabupaten Bekasi untuk menjadi petani modern karena sektor pertanian dinilai memiliki peluang jangka panjang dan tidak mengenal batas usia seperti pekerjaan di perusahaan.
"Kalau bekerja di perusahaan ada bangkrut, ada batas usianya. Tapi kalau kita jadi petani unggul, petani tangguh, itu tidak ada batasnya," katanya di Cikarang, Minggu (27/6).
Menurut Asep, pengelolaan sektor pertanian saat ini semakin membutuhkan pemanfaatan teknologi serta pola edukasi yang lebih modern. Salah satu aspek yang perlu diperkuat ialah edukasi kepada petani mengenai kondisi dan pengelolaan lahan sebelum memasuki musim tanam.
Ia mencontohkan pentingnya pemeriksaan tingkat keasaman atau pH tanah untuk mengantisipasi risiko gagal panen. Petani muda yang melek teknologi diharapkan dapat mengaplikasikan berbagai perangkat teknologi secara cepat dan tepat.
"Nanti kita kasih bekal petani-petani muda itu dengan alat pengukur pH tanah, sehingga kondisi lahan dapat diketahui sebelum ditanami. Dengan begitu, mereka dapat menentukan langkah pengolahan tanah sesuai kondisinya. Kalau pH-nya 5, jangan tanam, diolah lagi. Kalau pH-nya 7, tanam," ujarnya.
Pertanian Tidak Hanya Bercocok Tanam
Asep mengatakan peluang bagi anak muda di sektor pertanian tidak hanya terbuka pada aktivitas bercocok tanam. Generasi muda juga dapat terlibat dalam pengolahan hingga pemasaran hasil pertanian, sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan produktivitas dan nilai tambah sektor tersebut.
Ia mencontohkan hasil panen padi yang dapat diolah menjadi beras untuk kemudian dipasarkan kembali di wilayah desa maupun daerah sekitar. Model tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha berbasis hasil pertanian.
"Bertani bukan harus bercocok tanam. Bisa saja hasil pertanian itu diolah menjadi beras, kemudian dijual untuk wilayah sekitar mereka atau di desa-desa," katanya.
Model tersebut, kata dia, telah dipraktikkan petani muda di Desa Waluya, Kecamatan Cikarang Utara. Mereka mengumpulkan hasil panen untuk kemudian diolah menjadi beras sebelum dipasarkan ke sejumlah pasar dan toko di sekitar lingkungan mereka.
"Mereka kumpulkan hasil panen kemudian dikembangkan lagi setelah diolah menjadi beras melalui teknik pemasaran hingga distribusi dan itu generasi muda yang terjun," katanya.
Asep menilai pengembangan sektor pertanian dari sekadar menanam dan menjual hasil panen hingga membangun pasar dapat membuka peluang usaha yang lebih luas bagi generasi muda. Upaya tersebut sekaligus dapat dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pasarnya sudah ada, mau ke MBG, Koperasi Merah Putih maupun jejaring organisasi kepemudaan yang bergerak di sektor pangan. Kita sangat concern pada upaya penguatan sektor pertanian dan itu membutuhkan anak-anak muda kreatif yang melek teknologi," kata dia.
- Pemkab Bekasi
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jaga Harga Bahan Pangan, Pemprov Sumut Inisiasi Gerakan Pangan Murah Serentak
-
AS Dapat Kendali Mayoritas 65 Miliar Barel Minyak Venezuela
-
Dampak Kabut Asap, Pontianak Siapkan Faskes Hadapi Lonjakan Pasien
-
Mayoritas Warga Islandia Ogah Gabung dengan Uni Eropa
-
Bapenda Kabupaten Bekasi Tempel Stiker Merah di 61 Reklame Penunggak Pajak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.