Sumatera Masih Jauh dari Bebas Karhula, Ribuan Titik Api Masih Ditemukan

Jumat, 04 Sep 2026, 12:35 WIB

JAKARTA – Warga Sumatera seperti juga masyarakat Kalimantan, tampaknya masih jauh dari aman atas karhutla atau asap. Sebab Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru Provinsi Riau mendeteksi lonjakan 2.671 titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera berdasarkan pembaruan data pada Jumat pukul 07.00 WIB .

Prakirawan BMKG Pekanbaru Putri Santy Siregar mengungkapkan sebaran titik panas ini tersebar di 9 provinsi, dengan lonjakan tertinggi terdeteksi di Sumatera Selatan (SUmsel) yang mencapai 1.583 titik.

Ket. Foto: bencana asap — Sumber: ist

"Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Provinsi Bangka Belitung dengan 312 titik, Jambi 330 titik, Riau 234 titik, Lampung 115 titik, dan disusul Bengkulu 39 titik, Kepulauan Riau 29 titik, Sumatera Barat 21 titik, dan Sumatera Utara delapan titik," katanya.

Sementara itu Provinsi Riau dengan 235 titik panas tersebar di 10 kabupaten/kota. Kabupaten Inderagiri Hilir menjadi area paling krusial di Riau dengan temuan 79 titik panas, diikuti oleh Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 42 titik, dan Kabupaten Bengkalis 35 titik.

Selebihnya terdeteksi di Kabupaten Kepulauan Meranti (28), Pelalawan (27), Siak (12), Kuantan Singingi (6), serta Kota Pekanbaru dan Kampar masing-masing satu.

Akibat banyaknya titik panas ini jarak pandang di Pekanbaru pada Kamis (3/9) malam terpantau hanya lima kilometer dengan kondisi berasap. Sedangkan kualitas udara pada dini hari dan pagi berdasarkan Konsentrasi Partikulat 2,5 masuk kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau menyampaikan saat ini titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah terdapat di  Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir, yang masih terus dilakukan upaya pemadaman.

15 Jam

Sementara itu,  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaksimalkan helikopter untuk pemadaman kawasan lahan terbakar di Provinsi Jambi dengan merampungkan 15 jam 32 menit waktu penerbangan untuk menyemai 8.000 kilogram garam Natrium Klorida (NaCl).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Jumat, mengatakan penerbangan dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) itu dilaksanakan intensif sebanyak delapan sortie pada periode 26 Agustus - 2 September 2026.

"Operasi modifikasi cuaca di Jambi telah berlangsung delapan sortie dengan total waktu penerbangan 15 jam 32 menit menggunakan 8.000 kilogram NaCl," kata dia.

Dia menjelaskan penyiraman air dari udara dan penyemaian garam modifikasi cuaca merupakan upaya untuk mengatasi kebakaran lahan, mengingat akumulasi luas lahan terbakar di Jambi hingga Kamis (3/9) telah mencapai 1.879,31 hektare, yang mayoritas melanda wilayah gambut yang sulit dijangkau.

Hasil pemantauan BNPB mencatat terdapat 182 titik panas dan 20 titik api yang tersebar di wilayah Jambi. Dari estimasi 47,5 hektare area yang terbakar pada Kamis (3/9), tim gabungan baru berhasil memadamkan 37 hektare melalui gabungan operasi darat dan water bombing.

Namun memang, kata Berton, petugas di lapangan menghadapi sejumlah tantangan, termasuk masih minimnya keberadaan awan potensial di Jambi sehingga keberhasilan operasi modifikasi cuaca ini untuk mendatangkan hujan masih terbatas.

"Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam mendukung upaya penanganan karhutla. Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, hingga 10 September 2026 diperkirakan belum terdapat pertumbuhan awan," kata dia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.