PBB: Dunia Harus Hadapi Kenyataan Peningkatan Suhu Global Melebihi 1,5 derajat Celcius

Kamis, 03 Sep 2026, 01:00 WIB

PARIS – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (2/9) menguraikan langkah yang dapat ditempuh dunia untuk mengembalikan kenaikan suhu global ke batas 1,5 derajat Celsius setelah target iklim penting tersebut diperkirakan terlampaui.

Dilansir dari AFP, laporan khusus yang disusun Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) itu menjadi penilaian pertama dari badan PBB yang secara langsung membahas kemungkinan dunia melewati ambang 1,5°C. Laporan tersebut sekaligus memicu kritik dari sejumlah aktivis iklim yang khawatir pembahasan mengenai "pelampauan" target dapat mengurangi ambisi untuk memangkas emisi.

Ket. Foto: Sumber: Copernicus — Sumber: afp

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya mengakui bahwa dunia kemungkinan akan melampaui batas kenaikan suhu 1,5°C. Namun, ia menegaskan suhu global masih dapat diturunkan kembali di bawah ambang tersebut pada akhir abad ini.

Para ilmuwan sepakat bahwa pemanasan lebih dari 1,5°C dibandingkan tingkat praindustri akan meningkatkan risiko serius bagi manusia dan lingkungan. Hampir 200 negara pada 2015 berkomitmen melalui Perjanjian Paris untuk berupaya menjaga kenaikan suhu global pada ambang tersebut.

Namun, dunia diperkirakan melewati batas 1,5°C dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, perhatian mulai bergeser pada bagaimana memastikan periode "pelampauan" berlangsung sesingkat mungkin dan dampaknya dapat dikendalikan.

Dalam laporan tersebut, UNEP menyatakan secara tegas bahwa target 1,5°C kemungkinan akan terlampaui.

"Tantangannya telah bergeser dari menghindari target yang melampaui batas menjadi mengatasinya," demikian laporan UNEP.

Salah satu penulis laporan, Richard Betts dari Universitas Exeter, mengatakan kondisi tersebut merupakan pengingat mengenai kenyataan yang harus dihadapi dunia.

"Ini adalah pengingat akan kenyataan. Kita harus hidup dengan dunia yang lebih hangat ini... tetapi masih banyak yang dapat kita lakukan untuk membatasi pemanasan global," kata Betts kepada wartawan.

Menurut dia, laporan tersebut tidak hanya membahas kemungkinan terlampauinya target, tetapi juga berfokus pada langkah yang dapat dilakukan untuk merespons kondisi tersebut.

"Laporan ini lebih tentang tanggapan daripada sekadar mengatakan bahwa hal itu sedang terjadi," ujarnya.

Penulis laporan lainnya, Debra Roberts dari Universitas KwaZulu-Natal, mengatakan para pembuat kebijakan harus memahami bahwa aturan dalam menghadapi perubahan iklim telah berubah.

"Menurut saya, itulah seruan yang penting... kita sekarang harus menata ulang tata kelola iklim kita untuk menghadapi skenario di mana kita melampaui batas toleransi. Tak satu pun dari rencana kita siap menghadapi hal itu," katanya.

Aktivis Khawatir

Bahasa lugas dalam laporan UNEP memicu kekhawatiran di kalangan pegiat iklim yang selama bertahun-tahun memperjuangkan target 1,5°C sejak ambang tersebut ditegaskan sebagai tujuan yang lebih ambisius dalam Perjanjian Paris.

Jasper Inventor, wakil direktur program Greenpeace International, mengatakan kemungkinan terlampauinya target tersebut merupakan momen yang menyedihkan, tetapi bukan alasan untuk menyerah.

"Ini adalah momen yang memilukan, tetapi melampaui target bukanlah alasan untuk menyerah dan melepaskan target 1,5°C," katanya.

Ilmuwan iklim sekaligus Kepala Eksekutif Climate Analytics, Bill Hare, mengecam laporan tersebut. Ia menilai laporan itu berisiko membuat masyarakat dan pemerintah menjadi apatis terhadap perubahan iklim.

Negara-negara kepulauan kecil yang sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut juga menjadi pembela kuat target 1,5°C. Mereka terus mendesak negara-negara kaya agar tidak meninggalkan ambang tersebut meskipun pencapaiannya semakin sulit.

Suhu global saat ini telah meningkat sekitar 1,4°C dibandingkan periode 1850–1900, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil. Tiga tahun terakhir juga tercatat sebagai tahun-tahun terpanas dalam sejarah pencatatan.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa setiap kenaikan suhu di atas 1,5°C dapat memperparah cuaca ekstrem dan mendorong bumi semakin dekat dengan titik kritis, termasuk mencairnya lapisan es serta kerusakan dan hilangnya terumbu karang.

  • Krisis Iklim

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.