AS Tuduh Tiongkok Gagalkan Komunike Bersama G20

Kamis, 03 Sep 2026, 01:00 WIB

ASHEVILLE – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan Tiongkok mencegah Kelompok 20 (G20) menerbitkan komunike bersama setelah pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 pekan ini. Perselisihan tersebut berkaitan dengan surplus perdagangan Tiongkok yang sangat besar.

“Negara dengan surplus transaksi berjalan terbesar di dunia dan tidak berkelanjutan, Republik Rakyat Tiongkok, menjadi pihak yang tidak menyetujui,” kata Bessent dalam konferensi pers pada pertemuan G20 di Asheville, North Carolina, Selasa (1/9).

Ket. Foto: Menteri Keuangan AS, Scott Bessent — Sumber: afp

“Perekonomian yang tidak berbasis mekanisme pasar dan terus membanjiri dunia dengan ekspor murah tanpa akhir bukanlah sesuatu yang berkelanjutan.”

Sejak negara-negara G20 berbeda pandangan terkait invasi Russia ke Ukraina pada 2022, forum tersebut semakin sering tidak menghasilkan komunike bersama seperti sebelumnya. Sebagai gantinya, diterbitkan pernyataan atas nama ketua G20.

“Negara-negara dengan surplus eksternal yang berlebihan dan terus-menerus harus menghapus berbagai distorsi yang membatasi konsumsi domestik dan menyebabkan ketergantungan berlebihan pada ekspor sebagai sumber pertumbuhan,” demikian pernyataan ketua G20 yang dirilis Departemen Keuangan AS.

“Kebijakan dan praktik tersebut menimbulkan dampak buruk terhadap pasar global, regional, dan domestik serta meningkatkan ketergantungan ekonomi.”

Dikutip dari The Strait Times, Bessent mengatakan 19 negara anggota G20 mendukung pernyataan ketua tersebut.

Departemen Keuangan AS merilis pernyataan itu tidak lama setelah Bessent menyampaikan keterangannya.

Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa Tiongkok secara khusus tidak menyetujui sejumlah paragraf yang membahas kelancaran lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, pembentukan satuan tugas untuk mengkaji dan mengurangi ketidakseimbangan perdagangan, kewenangan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam memantau ketidakseimbangan perdagangan, serta ketentuan terkait restrukturisasi utang.

Tiongkok mencatat surplus perdagangan sebesar 1,2 triliun dollar AS pada 2025. Angka tersebut disebut meningkat 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.