Sultan HB: Desa Wisata Harus Jadi Mesin Ekonomi Lokal

Selasa, 22 Sep 2026, 21:10 WIB

YOGYAKARTA – Kampung wisata menjadi salah satu cara untuk menghidupkan potensi lokal sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Dengan mengandalkan kekayaan budaya, kuliner, kerajinan, hingga keindahan lingkungan setempat, pengembangan kampung wisata dapat membuka peluang usaha, memperluas lapangan kerja, dan membuat masyarakat menjadi bagian utama dari pertumbuhan ekonomi daerah.

Ket. Foto: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X pada penyerahan penghargaan Lomba Desa dan Kampung Wisata Tingkat DIY 2026. Selasa (22/9/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Humas Pemda DIY

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan desa dan kampung wisata tidak boleh berhenti pada seberapa banyak wisatawan datang, namun seberapa jauh pariwisata membuat warga menjadi pelaku, menghidupkan potensi lokal.

"Kemudian menjaga budaya dan lingkungan, serta memperoleh manfaat ekonomi dari destinasi yang mereka bangun bersama," kata Sri Sultan pada penyerahan penghargaan Lomba Desa atau Kampung Wisata Tingkat DIY 2026 di Yogyakarta, Selasa (22/9).

Sri Sultan mengatakan, keindahan lanskap, keunikan atraksi, dan jumlah kunjungan wisatawan memang menjadi bagian dari daya tarik destinasi di objek wisata.

"Namun, desa dan kampung wisata yang kuat ditentukan oleh kemampuan masyarakat mengelola potensi lokal, membangun kelembagaan yang sehat, menjaga lingkungan dan budaya, berinovasi, serta memastikan manfaat pariwisata dirasakan masyarakat," katanya.

Gubernur mengatakan, dalam konsep Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis komunitas, masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar objek yang menerima kedatangan wisatawan.

Selain itu, kata dia, warga masyarakat desa dan kampung juga memiliki ruang untuk terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, pengambilan keputusan, hingga menikmati manfaat dari kegiatan pariwisata.

"Pariwisata yang baik akan memperkuat ekonomi lokal, kohesi sosial, budaya, dan lingkungan," katanya.

Sri Sultan berharap Lomba Desa atau Kampung Wisata tidak berhenti setelah penghargaan diberikan, namun kompetisi tersebut perlu berkembang menjadi ekosistem pembelajaran antardesa dan antardaerah.

"Desa dan kampung wisata yang telah maju dapat membagikan praktik baik, sementara yang sedang berkembang memperoleh kesempatan belajar dan memperkuat tata kelolanya," katanya.

Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Enik Ermawati mengatakan pengembangan desa dan kampung wisata perlu memperhatikan partisipasi masyarakat, perlindungan lingkungan, serta manfaat ekonomi dan sosial.

Dengan demikian, kata dia, destinasi berbasis masyarakat tersebut tidak hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi mampu menciptakan nilai bagi masyarakat yang hidup dan bekerja di dalamnya.

"Desa bukan hanya tempat yang dikunjungi. Masyarakat adalah bagian yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.