Pendakian Gunung Tambora Ditutup Sementara Mulai 1 September 2026

Selasa, 01 Sep 2026, 20:23 WIB

DOMPU, NUSA TENGGARA. BARAT - Pendakian Gunung Tambora di Taman Nasional (TN) Tambora, Nusa Tenggara Barat mulai Selasa ditutup sementara karena risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat pada puncak musim kemarau.

Kepala Balai TN Tambora Abdul Azis Bakry mengatakan penutupan itu merupakan tindak lanjut Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/8/2026 tertanggal 31 Agustus 2026 tentang Penutupan Sementara dan Pembukaan Secara Terbatas Wisata Pendakian Gunung di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dalam rangka pencegahan kebakaran hutan.

Ket. Foto: Sejumlah pendaki berada di kawasan Puncak Gunung Tambora dengan latar papan larangan di jalur pendakian Doro Ncanga, Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat, pertengahan Agustus lalu. Aktivitas pendakian Gunung Tambora ditutup sementara mulai 1 September 2026 untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). — Sumber: ANTARA/Ady Ardiansah

"Penutupan sementara aktivitas pendakian di Taman Nasional Tambora mulai 1 September 2026," katanya di Dompu, Selasa (1/9).

Ia mengatakan penutupan diberlakukan sampai kondisi kawasan dinyatakan aman dari ancaman kebakaran. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan mengingat tingkat kerawanan karhutla meningkat selama periode kemarau.

Abdul Azis mengatakan petugas masih menemukan sejumlah titik api di beberapa lokasi kawasan TN Tambora yang terpantau melalui aplikasi Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) dan hasil pengamatan langsung di lapangan.

"Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk melakukan penutupan sementara aktivitas pendakian," ujarnya.

Menurut dia, pembatasan aktivitas pendakian diperlukan untuk mengurangi aktivitas manusia yang berpotensi memicu kebakaran sekaligus memudahkan petugas melakukan pengawasan dan penanganan apabila terjadi karhutla di kawasan konservasi.

"Untuk kegiatan patroli, mitigasi bencana, dan penelitian masih tetap dilakukan," katanya.

Ia menjelaskan penutupan hanya berlaku terhadap aktivitas pendakian. Sejumlah objek wisata nonpendakian, seperti Air Terjun Oi Marai, masih dibuka bagi masyarakat dan wisatawan dengan tetap memperhatikan kondisi keamanan kawasan.

Penutupan jalur pendakian Gunung Tambora tersebut dilakukan dua hari setelah kawasan TN Tambora menjadi lokasi pelaksanaan Tambora Jungle Run 2026 pada Minggu (30/8). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 pelari dari berbagai daerah.

Tambora Jungle Run digelar di kawasan Resort Doro Ncanga dengan sejumlah kategori lintasan, termasuk jalur yang memanfaatkan kawasan pendakian. Kegiatan tersebut menjadi salah satu aktivitas olahraga wisata yang berlangsung di kawasan TN Tambora sebelum penutupan pendakian diberlakukan.

Abdul Azis mengatakan TN Tambora belum menerapkan sistem pemesanan tiket pendakian secara daring sehingga tidak terdapat mekanisme pengembalian atau pembatalan tiket akibat kebijakan penutupan.

Sementara itu, pelaku usaha wisata, pemandu, dan porter diarahkan untuk mengembangkan layanan wisata nonpendakian selama jalur pendakian ditutup, termasuk mengarahkan wisatawan ke Air Terjun Oi Marai.

"Kebijakan ini diambil sebagai langkah proaktif dan terukur demi melindungi keutuhan ekosistem serta menjamin keselamatan para pendaki," katanya.

Pembukaan kembali aktivitas pendakian akan dilakukan setelah kondisi kawasan dinyatakan aman dari risiko kebakaran berdasarkan hasil evaluasi terhadap kondisi kawasan dan tingkat kerawanan karhutla. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.