900 Pekerja Diduga Terjebak di Terowongan PLTA Nepal, Tim SAR Berjuang Melawan Lumpur dan Puing

Selasa, 01 Sep 2026, 00:00 WIB

KATHMANDU – Tim penyelamat Nepal terus berupaya menjangkau ratusan pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan dan fasilitas bawah tanah sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air setelah banjir bandang menerjang wilayah Nepal dan Tibet.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal pada Senin (31/8) menyebut terdapat 933 orang yang dilaporkan hilang dari proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air di kawasan terdampak.

Ket. Foto: Tim penyelamat berpacu untuk menjangkau 900 orang yang diyakini terjebak di terowongan pembangkit listrik tenaga air. — Sumber: Istimewa

Operasi pencarian menghadapi tumpukan lumpur, batu dan material lain yang memenuhi akses menuju terowongan. Alat berat dikerahkan untuk membuka jalan menuju lokasi yang tertutup material banjir.

Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan banyaknya material yang masuk ke dalam terowongan menjadi salah satu kendala utama.

"Sejumlah besar puing telah menumpuk dan itu menimbulkan tantangan besar bagi kami untuk membuka terowongan," kata Basnet.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran pencarian adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air Chilime di Rasuwa. Tim penyelamat yang melibatkan pendaki gunung harus menggunakan papan kayu sebagai alat untuk mengukur kedalaman lumpur sekaligus membuat jalur darurat. Sistem tali juga dipasang untuk membantu pergerakan di dalam area tersebut.

Ashish Gurung, salah satu penyelamat, menggambarkan kondisi di dalam terowongan penuh lumpur dan air. Di beberapa bagian, ketinggian air disebut mencapai dada.

"Lumpur ada di mana-mana. Di dalam terowongan lebih parah. Sangat sulit untuk bergerak, lumpurnya sangat dalam," ujar Gurung.

Menurut Gurung, timnya telah mencapai sekitar 130 meter ke dalam terowongan. Ia mengatakan kondisi di bagian dalam sangat sulit dan terdapat indikasi adanya korban.

Meski demikian, peluang menemukan korban selamat masih terbuka. Pihak pengelola pembangkit telah menyerahkan peta terowongan kepada tim penyelamat. Di dalam infrastruktur tersebut terdapat sejumlah area yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung.

"Mereka memiliki area aman di dalam. Beberapa dari mereka mungkin masih hidup. Saya berharap mereka masih hidup," kata Gurung.

Bencana banjir bandang yang melanda wilayah Nepal sejak Rabu pekan lalu telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Data otoritas Nepal pada Senin mencatat 903 orang meninggal dunia, sementara 4.247 orang masih hilang, termasuk 592 warga negara asing.

Di wilayah Tibet, otoritas Tiongkok sebelumnya melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 orang hilang. Media pemerintah Tiongkok menyebut 261 dari mereka yang hilang merupakan warga asing, termasuk lebih dari 100 warga Nepal.

Secara keseluruhan, Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak bencana tersebut.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut banjir tersebut sebagai bencana alam dengan dampak yang sangat besar. Pemerintah Nepal mengerahkan hampir 21.000 personel keamanan untuk operasi penyelamatan, selain pekerja sipil dan sukarelawan.

"Terlepas dari cuaca buruk, medan yang sulit, dan risiko yang terus berlanjut, kami terus maju dengan tekad untuk menyelamatkan nyawa warga kami," kata Shah melalui unggahan di Facebook.

Upaya pencarian sempat beberapa kali dihentikan sejak Jumat akibat cuaca buruk. Tim juga menghadapi risiko banjir susulan setelah terbentuk danau di kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok yang kemudian mulai mengalir ke sejumlah sungai di Nepal.

Pada Senin, kondisi cuaca membaik sehingga operasi pencarian kembali ditingkatkan. Tim penyelamat juga menggunakan alat berat untuk membersihkan akses menuju terowongan proyek PLTA Trishuli 3A di Distrik Nuwakot.

Nepal menyatakan tidak membutuhkan bantuan asing untuk operasi pencarian dan penyelamatan secara umum. Namun, pemerintah mengandalkan India dan Tiongkok untuk dukungan keahlian dalam operasi penyelamatan di dalam terowongan.

Sementara itu, stasiun televisi pemerintah Tiongkok CCTV mengaitkan banjir dengan ketidakstabilan gletser yang dipengaruhi pemanasan global. Dua pejabat Nepal mengatakan kepada Reuters bahwa pertukaran informasi mengenai risiko gletser dan perubahan ketinggian air antara kedua negara masih menjadi persoalan yang perlu diperkuat.

Operasi penyelamatan terhadap para pekerja yang diduga berada di dalam terowongan masih berlangsung.

  • Banjir Bandang Nepal-Tibet

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.