Saat Lobster Tak Lagi Melimpah, Pengepul Menemukan Jalan Lewat Kuliner

Minggu, 30 Agu 2026, 18:45 WIB

GORONTALO – Di Desa Bajo, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, lobster tak lagi sekadar komoditas yang berpindah tangan dari laut ke pasar.

Ketika pasokan dari nelayan mulai berkurang, para pengepul dituntut mencari cara agar roda usaha tetap berputar. Salah satunya dengan mengolah hasil laut menjadi sajian kuliner yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Ket. Foto: Pengepul lobster di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Yulfa Sabiku menunjukkan lobster segar yang baru saja diambil, Minggu (30/8/2026). — Sumber: ANTARA/Faradila Alim

Langkah ini menjadi cara kreatif menghadapi pasokan lobster yang tak lagi melimpah. Hasil laut yang sebelumnya dijual sebagai bahan mentah kini diolah menjadi produk siap santap, sehingga nilai tambahnya tetap bisa dinikmati di tingkat lokal.

Bagi pengepul, diversifikasi usaha bukan sekadar strategi bertahan, tetapi juga upaya menjaga pendapatan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Di tengah dinamika hasil tangkapan nelayan, dapur kuliner pun menjadi ruang baru untuk menjaga usaha tetap menyala.

Dari hasil laut yang sederhana, muncul cerita tentang bagaimana masyarakat pesisir beradaptasi—bukan dengan menyerah pada berkurangnya pasokan, melainkan dengan mengubah cara komoditas itu menghasilkan nilai.

Pengepul lobster Yulfa Sabiku mengatakan selain menjual lobster dalam kondisi segar, dirinya mengolah sebagian hasil laut menjadi menu siap saji melalui kedai yang dikelolanya di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

"Kami di sini tidak ada budi daya, hanya langsung mengambil dari nelayan," kata Yulfa, di Desa Bajo, Minggu.

Lobster yang tersedia di kedainya dapat diolah sesuai permintaan pengunjung, antara lain dimasak dengan santan, saus, maupun dibakar.

Menurut dia, pengolahan tersebut memberikan nilai tambah dibandingkan menjual lobster dalam kondisi mentah. Harga lobster yang telah diolah menjadi menu siap saji dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan ukurannya.

Lobster kipas yang telah dimasak dijual sekitar Rp400 ribu, sedangkan lobster bambu berkisar Rp500 ribu-Rp700 ribu. Sementara lobster mutiara dibanderol sekitar Rp1,3 juta-Rp1,5 juta dan dapat mencapai Rp2 juta.

Yulfa mengatakan kedainya juga menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke Desa Bajo. Pengunjung di antaranya berasal dari Korea dan China, selain rombongan instansi yang datang untuk melakukan kegiatan sekaligus menggunakan fasilitas ruangan.

Pengembangan usaha tersebut telah dilakukan sejak 2024 dengan mengandalkan hasil tangkapan nelayan sebagai bahan baku utama.

Tidak hanya lobster, Yulfa juga mengolah hasil tangkapan ikan berukuran kecil menjadi ikan asin agar tetap memiliki nilai ekonomi dan tidak terbuang.

"Tangkapan juga bercampur banyak ikan kecil, maka kami berdayakan dengan buat ikan asin biar tidak terbuang," ujarnya.

Ia mengatakan diversifikasi produk menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan usaha ketika hasil tangkapan lobster nelayan lokal sedang menurun.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.