NU Tidak Seharusnya Terjebak dalam Politik Praktis

Jumat, 28 Agu 2026, 01:17 WIB

JAKARTA - Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, berpandangan Nahdlatul Ulama (NU) tidak seharusnya terjebak dalam politik praktis, namun tetap memiliki peran strategis dalam kehidupan kebangsaan sebagai kekuatan masyarakat sipil (civil society) yang menjaga persatuan, memperjuangkan kemanusiaan.

“NU tidak bisa lepas dari politik, namun agendanya politik kebangsaan dan kemanusiaan. Hal itu harus melampau segala kepentingan praktis.” kata Gus Kikin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (27/8).

Ket. Foto: Petugas kemanan berjaga di pintu masuk Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Jombang, Jawa Timur. — Sumber: ANTAR/Syaiful Arif

Gus Kikin menegaskan jabatan dalam NU merupakan amanah, bukan tujuan. Karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan ketulusan pengabdian.

Sikap pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng tersebut sejalan dengan pernyataannya bahwa pencalonannya sebagai calon Ketua Umum PBNU merupakan amanah organisasi, bukan dorongan ambisi pribadi. “Jabatan itu amanah. Tidak boleh terlalu ambisi terhadap jabatan,” ujarnya.

Menurutnya, NU perlu tetap berpijak pada Qanun Asasi sebagai pedoman organisasi sekaligus menjadikan nilai kemanusiaan (humanitarian) sebagai bagian penting dalam kehidupan NU.

Ia mendorong agar NU menjadi organisasi yang beradab dan mampu menyamakan pandangan dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Untuk menghadapi tantangan lima tahun ke depan, Gus Kikin menilai NU harus mampu menjadi rumah bagi seluruh warganya. Rumah yang tidak hanya kuat secara kelembagaan dan intelektual, tetapi juga memiliki hati.

Menurutnya, pembangunan manusia harus mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kecerdasan intelektual perlu berjalan bersama karakter, kepedulian, dan kemampuan memahami persoalan kemanusiaan.

Di tengah tantangan global dan berbagai persoalan sosial, NU juga dituntut membangun resiliensi. Karena itu, penguatan hati dan karakter menjadi penting agar masyarakat tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan zaman. “NU harus mempunyai hati. Kita harus memperkuat dan mengasah hati kita,” ujarnya.

Gus Kikin juga menekankan pentingnya melahirkan generasi muta’allim, yakni generasi pembelajar yang memiliki kemampuan intelektual dan kesiapan menghadapi tantangan global. Namun, menurutnya, kecerdasan tersebut harus selalu dibungkus dengan adab.

“Kita harus mempunyai intelegensia, tetapi intelektual itu harus dibungkus dengan adab,” kata Gus Kikin dengan tegas.

Ia mengatakan gagasan tersebut menempatkan NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kekuatan sosial yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan kebangsaan.

Perjuangan Kemerdekaan

Sementara itu,Presiden Prabowo Subianto menyampaikan istilah “Jas Hijau” sebagai ajakan untuk tidak melupakan jasa para ulama dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa Indonesia.

Presiden Prabowo menyampaikan istilah itu saat berpidato dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis.

“Kalau tidak salah Bung Karno ya, mengatakan ‘Jas Merah’, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan ‘Jas Hijau’, jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” kata Prabowo sebagaimana dipantau dari tayangan langsung YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo mengatakan peran ulama, kiai, dan pesantren sangat besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam Pertempuran Surabaya pada periode Oktober-November 1945.

Menurutnya, kemerdekaan Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tetapi kemerdekaan tersebut kemudian diuji dalam pertempuran di Surabaya.

Presiden menegaskan pentingnya menjaga hubungan antara pemerintah dan organisasi keagamaan dalam menjaga keutuhan bangsa. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.