- Home
-
- Luar Negeri
-
- Komunikasi Konstruktif, AS...
Komunikasi Konstruktif, AS dan Tiongkok Harus Kelola Perbedaan dengan Baik
Jumat, 28 Agu 2026, 03:00 WIBBEIJING - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok masih menghadapi berbagai risiko dan tantangan. Oleh karena itu, Beijing dan Washington harus fokus pada agenda positif, mengelola perbedaan dengan baik, menghilangkan berbagai hambatan, serta mengatasi kendala pertukaran tingkat tinggi antara kedua negara.
Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi saat bertemu dengan Duta Besar AS untuk Tiongkok, David Perdue di Beijing, Rabu (26/8) mengatakan langkah positif diperlukan untuk mendorong perkembangan hubungan AS dan Tiongkok secara stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Dengan arahan strategis kedua kepala negara, AS dan Tiongkok kata Yi terus mendorong pembangunan hubungan bilateral yang konstruktif dan stabil secara strategis.
Sementara itu, Perdue mengatakan AS siap bekerja sama dengan Tiongkok untuk memperkuat komunikasi, meningkatkan kerja sama, mempersiapkan tahap berikutnya dari kontak penting tingkat tinggi, serta membangun hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis berdasarkan rasa saling menghormati dan kesetaraan.
Seperti dikutip dari Associated Press (AP), salah satu persoalan paling sensitif kedua negara adalah Taiwan. Dalam pertemuan dengan Trump di Beijing pada Mei 2026, Xi Jinping memperingatkan bahwa persoalan Taiwan dapat membawa hubungan kedua negara menuju benturan bahkan konflik apabila tidak ditangani dengan baik.
Xi menyebut, Taiwan sebagai isu paling penting dalam hubungan Tiongkok-AS. Xi memperingatkan bahwa jika persoalan tersebut ditangani dengan tepat, hubungan bilateral dapat tetap stabil. Sebaliknya, kesalahan dalam penanganannya dapat membawa kedua negara menuju benturan dan konflik.
The Guardian juga melaporkan bahwa peringatan tersebut disampaikan Xi setelah pertemuan tertutup dengan Trump selama sekitar dua jam. Beijing meminta Washington mengurangi dukungannya terhadap Taiwan, sementara AS tetap mempertahankan kebijakan membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanannya.
Persoalan Taiwan menjadi semakin sensitif karena AS merupakan pemasok utama persenjataan Taiwan, sementara Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Pemerintah Tiongkok menentang penjualan senjata AS ke Taiwan dan menilai dukungan tersebut sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri.
Selain Taiwan, kebijakan perdagangan AS juga belum sepenuhnya mengubah arah kebijakan Beijing.
Selain Taiwan, persaingan teknologi juga menjadi salah satu kendala dalam hubungan kedua negara. Washington berupaya membatasi akses Tiongkok terhadap sejumlah teknologi semikonduktor canggih yang dianggap memiliki kepentingan strategis dan keamanan nasional. Di sisi lain, Beijing memiliki posisi penting dalam rantai pasok mineral tanah jarang yang digunakan dalam berbagai produk berteknologi tinggi, industri pertahanan, semikonduktor, kendaraan listrik dan berbagai perangkat elektronik.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Produktivitas Sapi Perah Ditingkatkan untuk Kurangi Ketergantungan Impor Susu
-
DPRD Bekasi Usut Dugaan Pencemaran Laut di Tarumajaya, Hasil Tangkapan Nelayan Menurun.
-
Geopolitik Panas, Rantai Pasok Kacau! Ini Jurus Apindo Jaga Ekonomi Nasional
-
Indonesia dan Amerika Serikat Tingkatkan Kerja Sama Museum dan Pelestarian Warisan Budaya
-
Jobstreet by SEEK Ungkap 5 Strategi HR Hadapi Gempuran Teknologi AI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.