Sukses di Mancanegara, Film 'Solata' Kembali ke Indonesia, Kisahkan Realitas Pendidikan di Tana Toraja
Kamis, 06 Agu 2026, 10:36 WIBMAKASSAR - Film "Solata" mengangkat realitas pendidikan di Indonesia melalui kisah seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Solata yang artinya dalam bahasa Toraja adalah "Teman sebagai keluarga yang kita pilih" mengangkat realitas pendidikan dan nasionalisme yang membawa apresiasi dan pengalaman baru dalam memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional.
"Film 'Solata' kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan internasional di Eropa Timur. Film ini membawa apresiasi dan pengalaman baru dalam memperkenalkan cerita Indonesia kepada publik dunia," kata Sutradara sekaligus produser Ichwan Persada di Makassar, Rabu.
Film "Solata" tersebut sebelumnya berhasil meraih penghargaan Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism pada Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria, pada 6 Juni 2026.
Setelah memenangkan penghargaan di Bulgaria, tim "Solata" melanjutkan tur ke lima kota di empat negara Eropa Timur, yakni Sofia di Bratislava di Slovakia pada 10 Juni 2026, Bulgaria pada 13 Juni 2026, Budapest di Hungaria, serta Ankara dan Istanbul di Turki pada pertengahan hingga akhir Juni 20206.
Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi film, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus membuka dialog mengenai pendidikan, kemanusiaan, persahabatan, dan nasionalisme.
Ichwan mengatakan "Solata" mengangkat realitas pendidikan melalui kisah seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di wilayah tersebut, sang guru berhadapan dengan kondisi pendidikan dan kehidupan anak-anak di daerah yang jauh dari pusat perkotaan.
Pengalaman itu kemudian berkembang menjadi kisah tentang hubungan guru yang diperankan Artis Rendy Kjaernett dan muridnya serta arti penting pendidikan dalam membangun masa depan.
Cerita semakin menarik ketika sang guru bertemu enam murid yang memiliki nama depan menyerupai nama-nama presiden Indonesia. Unsur tersebut menjadi simbol yang memperkuat pesan nasionalisme dalam film.
Selain persoalan pendidikan, film ini juga menghadirkan keindahan alam, kehidupan masyarakat Toraja, termasuk lingkungan sosial dan kekayaan budaya lokal sebagai bagian dari narasi yang memperkuat identitas Indonesia.
Dalam perjalanan di Eropa Timur, lanjut Ichwan, "Solata" mendapat kesempatan diputar di sejumlah kota dan mempertemukan tim film dengan komunitas perfilman, mahasiswa, diaspora Indonesia, serta masyarakat setempat.
Kini kembalinya "Solata" ke Indonesia menjadi momentum untuk membawa pengalaman dari perjalanan internasional tersebut sekaligus kembali mendekatkan film itu kepada penonton Tanah Air. Film ini menunjukkan bahwa cerita lokal dengan latar budaya Indonesia dapat memiliki daya tarik bagi penonton internasional.
"Setelah meraih penghargaan di Bulgaria dan menyelesaikan tur lima kota di empat negara Eropa Timur, "Solata" terus membawa pesan tentang pendidikan, persahabatan, kebudayaan, kemanusiaan, dan nasionalisme, sekaligus memperkenalkan wajah Indonesia melalui karya sinema," jelasnya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Film Indonesia Berhasil Curi Perhatian di Festival Film Internasional Shanghai, Tiket Nonton Ludes Terjual!
-
Jakarta Terima Hadiah Ultah Mencapai Rp22,2 Triliun
-
Sinner Merasa Lebih Siap Hadapi Wimbledon, Waspadai Cuaca Panas
-
Tayang Tahun Depan, Film "Berbagi Suami 2.0" Kembali Bertabur Bintang
-
Kereta Listrik KAI Group Angkut 166,15 Juta Orang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.