Usai Tinjau SGC, Mentan Yakin Bisa Swasembada Gula dan Berharap Tidak Ada Impor Lagi
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim RedaksiSaat ini, keberpihakan pemerintah terhadap petani tebu lebih terasa. Hal itu terbukti dengan adanya Perpres No. 113 Tahun 2025 yang membuka lebih lebar akses petani terhadap pupuk bersubsidi.
“Kalau dulu luasan lahan yang mendapat pupuk disamakan dengan tanaman pangan seperti padi, maka sekarang sudah dibedakan sehingga dampaknya akan lebih menguntungkan. Misalnya luas sawah padi 2 hektar, tapi untuk tebu 4 hektar,” jelasnya.
Bereskan Ego Sektoral
Sementara itu, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, I Nengah Muliarta mengapresiasi target Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk memproduksi 3 juta ton gula, guna menghentikan impor gula putih. Namun ia mengingatkan, target itu akan sulit tercapai jika masalah tata niaga dan ego sektoral antar kementerian tidak segera dibereskan.
“Pernyataan optimistis Menteri Pertanian mengenai target produksi 3 juta ton layak diapresiasi dari kacamata komitmen politik pangan nasional. Target tersebut memperlihatkan tekad kuat untuk mengembalikan kejayaan industri gula domestik,” kata Muliarta.
Optimisme tersebut harus diuji dengan realitas lapangan. Tiga persoalan utama di hulu masih jadi kendala yaitu kapasitas giling pabrik yang terbatas, tingkat rendemen rendah, dan luasan lahan tebu aktif yang terus menyusut.
Masalah klasik yang terus menggagalkan swasembada adalah benturan kepentingan antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Kementan jelas berfokus pada perlindungan produksi petani, sementara Kemendag cenderung mengutamakan stabilitas pasokan serta harga pasar.
“Perbedaan ini yang sering kali berujung pada keputusan impor yang mengabaikan klaim kecukupan stok lokal,” jelasnya.
Akibat ketidaksinkronan data dan regulasi itu, importir selalu diuntungkan. Sementara petani lokal dirugikan karena gula impor masuk ke pasar rakyat tepat saat masa panen tiba.
Ia juga menyoroti masih bocornya pengawasan distribusi gula impor untuk industri ke pasar konsumsi. Praktik seperti itu semakin menekan harga gula petani dan mematikan ekosistem tebu rakyat.
Swasembada sejatinya tidak akan pernah tercapai jika kebijakan antar-lembaga masih tumpang tindih. Keberhasilan target 3 juta ton katanya sangat bergantung pada tiga hal, pertama, keberanian menyelaraskan data pangan nasional, mulai dari data produksi, kebutuhan, serta stok harus satu pintu dan transparan agar tidak jadi alat perburuan rente.
Kedua, memperketat tata niaga impor, hanya boleh dilakukan setelah ada verifikasi stok lokal yang benar, bukan berdasarkan asumsi. Ketiga, menempatkan perlindungan petani sebagai prioritas tertinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!