Usai Tinjau SGC, Mentan Yakin Bisa Swasembada Gula dan Berharap Tidak Ada Impor Lagi
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Kebergantungan pangan kepada negara lain berbahaya karena pasokan dapat terganggu akibat konflik, embargo, atau pembatasan ekspor.
JAKARTA - Kementerian Pertanian menyatakan swasembada gula merupakan salah satu target prioritas Pemerintah. Sebab itu, para pihak yang terlibat didalamnya diminta untuk mendukung pencapaian swasembada gula, sehingga Indonesia bebas dari impor gula.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam kunjungan kerjanya ke perkebunan tebu milik Sugar Group Companies di Tulang Bawang Lampung, Rabu (26/8) mengatakan pencapaian swasembada tidak semata bergantung pada perluasan lahan atau ekstensifikasi, tetapi juga melalui efisiensi di tingkat kebun dan pabrik, di mana peran petani penebang sebagai garda terdepan sangat vital.
“Kita punya lahan, punya petani, punya pekerja. Tinggal bagaimana kita bekerja lebih disiplin dan produktif. Kalau target produksi tercapai, harga gula bisa stabil dan petani sejahtera,” terang Amran.
Kunjungan Mentan itu merupakan bagian dari upaya Pemerintah mendorong peningkatan produksi gula nasional sebagai salah satu pilar swasembada pangan.
Dalam kesempatan itu, Mentan juga berdialog dengan petani penebang tebu. Amran pun meminta mereka agar melakukan proses pemanenan sesuai Standar Operasional Prosedur/SOP. Sebab, dengan teknik tebang yang benar, akan sangat berpengaruh terhadap rendemen dan produktivitas kebun yang muaranya pada pemenuhan kebutuhan gula dalam negeri.
“Penebangan harus bersih, dekat dengan tanah, dan tidak merusak bonggol. Kalau semua kebun tebu kita terapkan SOP, produksi akan naik dan kita bisa kurangi impor gula. Ini bagian dari mewujudkan swasembada pangan, khususnya gula,” kata Amran.
Mentan pun menunjukkan ke para petani, teknik penebangan tebu yang benar dan mendapat sambutan antusias dari para petani. Bagi mereka, keterlibatan langsung Mentan menjadi motivasi untuk bekerja lebih disiplin dan profesional.
Di kesempatan lain, Guru Besar Fakultas Pertanian Univeristas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto menilai kenaikan produksi gula nasional menjadi 3,02 juta ton harus diikuti penghentian impor gula konsumsi. Jika kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi, impor justru dapat menekan harga dan merugikan petani tebu.
Pemerintah perlu menjaga keberlanjutan produksi melalui benih unggul, peremajaan tanaman, perbaikan irigasi, dan peningkatan rendemen. Dengan begitu, swasembada gula tidak hanya tercapai sementara.
“Impor gula konsumsi jangan dibuka lagi ketika produksi nasional mencukupi. Kebijakan impor harus berdasarkan kebutuhan riil agar tidak menimbulkan kelebihan pasokan,” kata Dwijono.
Kemandirian pangan jelasnya merupakan bagian penting dari pertahanan negara. Kebergantungan pangan kepada negara lain berbahaya karena pasokan dapat terganggu akibat konflik, embargo, atau pembatasan ekspor.
“Pengalaman Afghanistan yang bergantung pada gandum dari Amerika Serikat dapat menjadi pelajaran. Ketahanan pangan, termasuk gula, bukan hanya persoalan ekonomi dan kesejahteraan petani, tetapi juga menyangkut kedaulatan negara,” tegas Dwijono.
Di waktu lain, pakar pertanian dari Universitas Jember,Ihsannudin, mengatakan hal utama yang harus diperhatikan dalam memperkuat industri gula nasional adalah meningkatkan keberpihakan pemerintah terhadap petani tebu sebagai pelaku utama industri melalui kebijakan-kebijakan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!