- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ekonomi Global Seperti Kap...
Ekonomi Global Seperti Kapal Oleng Diterjang Badai
Kamis, 27 Agu 2026, 02:30 WIBWASHINGTON DC - Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (25/8) mengibaratkan ekonomi global sebagai kapal oleng yang diterjang badai, terjebak di antara inflasi tinggi, utang, dan perang dagang, namun juga didorong oleh angin segar dari revolusi kecerdasan artifisial (AI).
Direktur IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan kepada para wartawan di Washington DC bahwa sejauh ini ekonomi global telah melewati guncangan energi akibat penutupan Selat Hormuz dengan lebih baik daripada yang kita khawatirkan.
Harga energi dunia melonjak tajam sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, yang memicu kekerasan di Timur Tengah saat tindakan balasan Teheran menyasar sekutu Amerika Serikat dan memblokir Selat Hormuz yang vital.
Pada Juli lalu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk kedua kalinya tahun ini, seraya menyoroti ketidakpastian dan risiko terkait perang di Timur Tengah.
Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,0 persen tahun ini, menurut pembaruan laporan World Economic Outlook IMF saat itu, turun dari perkiraan 3,1 persen pada April.
Pada Selasa, Georgieva mengatakan bahwa dampak perang tersebut bersifat asimetris, bergantung pada tingkat ketergantungan negara-negara terhadap impor minyak Teluk dan stabilitas makroekonomi mereka secara keseluruhan.
Sementara inflasi global yang dipicu oleh tingginya harga energi juga mengalami dinamika saling tarik-menarik akibat kejutan permintaan positif dari AI, ujar dia, merujuk pada peningkatan permintaan ekonomi akibat investasi besar-besaran dalam teknologi baru tersebut.
"Risiko terhadap prospek ekonomi kini lebih seimbang dibandingkan saat Pertemuan Musim Semi (pada April), namun masih cenderung ke arah penurunan, dan ketidakpastian tetap tinggi," kata Georgieva.
Belum Berakhir
Georgieva memperingatkan bahwa menjelang musim dingin di belahan bumi utara, permintaan energi akan meningkat, yang berpotensi memicu kembali kenaikan harga.
"Ini berarti guncangan energi belum berakhir. Kenaikan harga minyak kembali dapat memicu inflasi, memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan yang restriktif, yang berdampak pada biaya pembayaran utang dan aktivitas ekonomi," ucap dia.
Walau begitu ia merasa optimistis mengenai dampak luas AI terhadap ekonomi dunia, dan menyatakan bahwa dampak positif mulai terlihat di lebih banyak negara, tidak hanya di AS yang sejauh ini menjadi pemimpin dalam teknologi tersebut.
Georgieva pun memperingatkan adanya ketidakpastian yang signifikan terkait AI, dan bahwa risiko tertinggal paling besar dampaknya bagi negara-negara berkembang.
Meskipun ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan awal dalam menghadapi guncangan akibat perang Iran, ia menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk berpuas diri.
Georgieva kemudian mendesak berbagai negara untuk mengatasi ketidakseimbangan fiskal terutama terkait masalah utang, serta meminta bank sentral untuk fokus penuh pada pengendalian inflasi. SB/AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Game of Thrones: Children of the Forest Resmi Hadir 29 Juli, Gim Strategi yang Ungkap Asal White Walkers
-
Harga Cabai Rawit Rp55.150 Per Kg, Telur Ayam Rp29.600 Per Kg
-
Asuransi Astra dan Yayasan Astra – YDBA Resmikan Program UMKM Berdaya 2026,
-
Tanggapi Isu PHK dan Investor Hengkang dari Indonesia, Eddy Soeparno Dorong Kepastian Hukum Serta Pentingnya Konsistensi Kebijakan
-
SAR Mataram selamatkan 45 penumpang Kapal Tenggelam di Perairan Bima
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.