Tanpa Pemerintah Bersih dan Kredibel, Potensi Besar Sumber Daya Alam Sulit Diakselerasi

Rabu, 26 Agu 2026, 03:10 WIB

» Ekonomi yang terlalu banyak menghasilkan pekerjaan dengan upah rendah, informal, atau minim kepastian pendapatan akan sulit menopang kenaikan kemakmuran dalam jangka panjang.

JAKARTA - Pelambatan kenaikan indeks kemakmuran Indonesia sejak 2023 disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas, di mana biaya hidup naik lebih cepat dari upah riil.

Ket. Foto: Indeks Kemakmuran - Posisi Indonesia di Negara-Negara ASEAN Tertinggal Jauh — Sumber: antara

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan persoalannya bukan lagi sekadar apakah ekonomi masih tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan tersebut cukup kuat menciptakan peningkatan pendapatan riil, pekerjaan yang lebih baik, dan ruang mobilitas sosial bagi masyarakat.

“Kalau indeks kemakmuran mulai melambat sementara ekonomi tetap tumbuh, berarti ada kemungkinan transmisi pertumbuhan ke rumah tangga tidak sekuat sebelumnya. Pertumbuhan bisa saja positif, tetapi kalau upah riil bergerak lambat dan biaya hidup naik lebih cepat, masyarakat tidak otomatis merasa lebih makmur,” kata Aditya.

Ia menilai tekanan terhadap kelas menengah menjadi salah satu hal yang perlu dicermati. Kelompok tersebut menghadapi biaya pendidikan, perumahan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat, sementara penciptaan pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan tinggi belum berkembang secepat kebutuhan.

Kondisi tersebut dapat mempersempit kemampuan rumah tangga untuk menabung, berinvestasi, atau meningkatkan taraf hidup.

Menurut Aditya, Pemerintah perlu memberi perhatian lebih besar pada kualitas penciptaan lapangan kerja. Ekonomi yang terlalu banyak menghasilkan pekerjaan berupah rendah, informal, atau minim kepastian pendapatan akan sulit menopang kenaikan kemakmuran dalam jangka panjang.

“Yang dibutuhkan bukan hanya tambahan jumlah pekerjaan, tetapi pekerjaan yang produktif, memberi ruang peningkatan keterampilan, dan mampu mendorong pendapatan masyarakat naik secara berkelanjutan,” kata Aditya.

Pelambatan indeks kemakmuran tambahnya perlu menjadi dasar untuk mengevaluasi distribusi hasil pertumbuhan. Kebijakan ekonomi perlu lebih diarahkan pada peningkatan produktivitas, penguatan industri bernilai tambah, penciptaan pekerjaan berkualitas, serta perlindungan daya beli.

“Kalau pertumbuhan hanya terlihat di angka makro tetapi tidak cukup cepat meningkatkan pendapatan dan kesempatan naik kelas, maka perlambatan indeks kemakmuran akan sulit dibalik,” kata Aditya.

Diminta pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya, Dian Anita Nuswantara, mengatakan, masalah tersebut memangsering luput dari perhatian karena kemakmuran akan dirasakan jika pertumbuhan ekonomi jika diimbangi dengan kenaikan pendapatan.

“Sementara biaya hidup naik, wajar kalau masyarakat merasa ekonominya makin berat. Jadi ukuran kemakmuran memang bukan hanya dari pertumbuhan PDB,” ujarnya.

Menurutnya, kelas menengah posisinya cukup rawan karena bukan kelompok yang paling miskin, tapi pengeluarannya besar dan kebutuhannya terus naik. “Kalau pendapatan tidak naik sebanding, kemampuan menabung dan membangun aset akhirnya tergerus,” katanya.

Pengamat ekonomi lainnya, Wibisono mengatakan pemerintah harus fokus pada penciptaan lapangan pekerjaan berkualitas. “Sektor-sektor seperti manufaktur, teknologi, ekonomi digital, dan industri pengolahan penting untuk menjaga daya beli masyarakat kita, terutama kelas menengah,” kata Wibisono.

Jadi yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan itu bisa membuat orang punya penghasilan lebih baik, pekerjaan yang aman, dan bisa menabung. Kalau mereka tidak punya kesempatan memperbaiki taraf hidup akan sulit merasa lebih makmur.

Tertinggal Jauh

Di waktu lain, peneliti Sustainability Learning Center (SLC) Hafidz Arfandi menilai, pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada model padat modal akan sulit menghadirkan kenaikan kemakmuran berkelanjutan.

Model itu tidak hanya minim penciptaan lapangan kerja berkualitas, tetapi juga berpotensi mengorbankan keberlanjutan ekosistem yang pada akhirnya menimbulkan biaya yang harus ditanggung masyarakat di masa depan.

Hal itu disampaikan saat mengomentari stagnasi Legatum Prosperity Index Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Hafidz menjelaskan, penilaian Legatum Prosperity Index terdiri dari tiga variabel penting: Development, Society, dan Freedom. Di dalamnya terdapat total 11 sub-penilaian yang dikomparasikan secara global.

Jika dilihat dari pergeseran ranking, posisi Indonesia sebenarnya cukup dinamis. Peringkat tertinggi justru dicapai pada 2022 di urutan 59. Namun, 3 tahun setelahnya Indonesia stagnan di peringkat 64.

Posisi Indonesia pun di negara-negara ASEAN juga jauh tertinggal. Singapura berada di peringkat 23 dan Malaysia di peringkat 46. Kesenjangan ini menunjukkan ada pekerjaan rumah besar dalam membangun kualitas pertumbuhan.

Karena itu ia menekankan pembangunan ke depan harus lebih berimbang. Demokrasi dan kebebasan sipil harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem tata kelola pembangunan. “PR penataan tata kelola pemerintahan yang berintegritas dan bebas dari korupsi harus menjadi prioritas utama, mengingat pemerintah adalah barometer kepercayaan dunia usaha untuk bisa terlibat dalam pembangunan sebuah negara,” tegas Hafidz.

Tanpa pemerintah yang bersih dan tata kelola yang kredibel, potensi besar sumber daya alam seperti sektor pertanian dan kelautan yang sekaligus menjadi hajat hidup mayoritas rakyat tidak akan dapat mengalami akselerasi.

“Alhasil kesejahteraan komunitas juga berpotensi stagnan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan padat modal. Sektor riil yang menyentuh langsung masyarakat harus jadi prioritas agar kemakmuran benar-benar dirasakan,” tutup Hafidz.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Libur Maulid Nabi, 36.755 Penumpang Gunakan Kereta Api di Wilayah Daop 8 Surabaya

Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan 2027 dengan Fokus Meningkatkan Produktivitas Pangan Nasional

Harga Daging Ayam di Temanggung Melonjak, Ternyata Ini Penyebabnya

Berawal dari Video Viral yang Bikin Geger! Polisi Tetapkan 2 Tersangka dalam Kasus Penganiayaan Pelajar

Banten Pacu Serapan Dana Desa, Koordinasi Diperkuat agar Tak Ada Dana Mengendap

Bukan Soal Taktik! Pelatih Van Gastel Sebut Mentalitas PSIM Yogyakarta Masih Jadi Masalah

Ancaman Karhutla di Depan Mata! Gubernur Papua Minta Warga Tak Bakar Lahan

Kota Semarang Jadi yang Terbaik! Juara Umum Peparpeda Jateng 2026 Berhasil Diraih

Deltras FC Siap Tempur! Pelatih Puas Lihat Kondisi Para Pemain

PLN dan TNI Bersinergi, Petugas di Wilayah 3T Sulut Ditempa Jadi Lebih Profesional

Bukan Sekadar Janji! APBEDNAS dan SUCOFINDO Realisasikan Sumur Bor di Bintan

Bukan Sekadar Usaha Kecil! UMKM Mandiri Jayawijaya Didorong Jadi Penggerak Ekonomi

Selat Malaka Jadi Sorotan! Indonesia, Malaysia, Singapura Tegaskan Jalur Pelayaran Harus Tetap Aman

Kekeringan Makin Parah, Bangkalan Distribusikan Air Bersih untuk Warga Terdampak

Makin Canggih! Kartu Berchip Dipakai Peserta untuk Bisa Mengakses Arena Muktamar NU, Cegah Manipulasi

Gratis dan Mudah! Festival AHU Bantu Warga Atasi Masalah Administrasi Hukum

Java United Bergerak Cepat Tambah Pemain Asing, Jonata Machado dan Kaio Nunes Jadi Rekrutan Anyar

Aksi Nyata Pulihkan Laut Jakarta, Ribuan Bibit Karang Ditanam di Kepulauan Seribu

Tanpa Pemerintah Bersih dan Kredibel, Potensi Besar Sumber Daya Alam Sulit Diakselerasi

Sensus Ekonomi 2026 Perkuat Data, Kebijakan Pembangunan Bakal Makin Tepat Sasaran

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.