UEFA, AFC, dan CONCACAF Pertimbangkan Mosi Tidak Percaya untuk Lengserkan Gianni Infantino
Jumat, 21 Agu 2026, 00:02 WIBBOLZANO, ITALIA â Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA berada di ujung tanduk. Tiga kekuatan utama sepak bola dunia, UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF, tengah mempertimbangkan langkah untuk mengajukan mosi tidak percaya guna mendesak Infantino meninggalkan jabatannya.
Sejumlah pejabat senior yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, langkah itu muncul setelah Infantino membuat marah sejumlah konfederasi regional melalui proposal kontroversial untuk menjual sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Jika benar-benar dilaksanakan, mosi tidak percaya tersebut akan menjadi preseden luar biasa dalam sejarah FIFA. Belum ditemukan catatan mengenai Kongres FIFA yang pernah menggelar pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap presiden yang masih menjabat sepanjang 122 tahun sejarah organisasi tersebut.
âTidak ada jalan keluar,â ujar salah satu sumber dengan syarat identitasnya dirahasiakan karena sensitifnya pembahasan.
âDia pergi secara damai dengan memutuskan tidak mencalonkan diri pada Maret, atau dia pergi melalui jalan yang lebih keras,â lanjut sumber tersebut, merujuk pada kemungkinan pemungutan suara mosi tidak percaya.
Statuta FIFA memberikan ruang bagi Dewan FIFA untuk menggelar Kongres Luar Biasa kapan saja. Dewan juga wajib menyelenggarakan kongres tersebut apabila sedikitnya seperlima dari 211 asosiasi anggota FIFA mengajukan permintaan tertulis dengan agenda yang jelas.
Dengan demikian, sedikitnya 43 anggota FIFA diperlukan untuk memicu proses tersebut. Setelah permintaan diterima, Kongres Luar Biasa harus digelar dalam waktu maksimal tiga bulan. Setiap asosiasi anggota yang hadir memiliki satu suara.
Namun, Statuta FIFA tidak secara khusus mengatur mekanisme mosi tidak percaya terhadap presiden. Kondisi tersebut membuat langkah untuk menggulingkan Infantino berpotensi menjadi pertarungan politik dan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya di tubuh FIFA.
FIFA tidak memberikan tanggapan ketika Reuters meminta komentar mengenai isu tersebut.
UEFA juga tidak secara langsung mengomentari apakah mosi tidak percaya sedang dipersiapkan. Konfederasi sepak bola Eropa itu mengarahkan Reuters pada pernyataan sebelumnya yang menegaskan perlunya peninjauan terhadap kepemimpinan dan tata kelola FIFA secara âmenyeluruh dan fundamentalâ, serta menyatakan bahwa âtidak ada pilihan yang boleh dikesampingkanâ.
CONCACAF juga menolak memberikan komentar langsung. Mereka merujuk pada pernyataan bersama dengan UEFA dan AFC yang menuduh kepemimpinan FIFA telah melakukan pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan.
AFC belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Meski tekanan meningkat, upaya menggulingkan Infantino tidak akan mudah. Presiden FIFA itu masih memiliki dukungan kuat dari sejumlah anggota FIFA, terutama dari konfederasi Afrika (CAF).
Infantino telah menyatakan niatnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden FIFA pada Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.
Presiden CAF Patrice Motsepe pekan lalu menegaskan bahwa Infantino masih mendapat dukungan Afrika. Menurutnya, masa depan Infantino seharusnya ditentukan oleh seluruh anggota FIFA melalui pemilihan presiden.
Enam asosiasi sepak bola Arab, termasuk Qatar dan Maroko yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, juga secara terbuka memberikan dukungan kepada Infantino.
FIFA sebelumnya meminta maaf kepada 211 asosiasi anggotanya atas kesalahan dalam proses penanganan proposal investasi swasta tersebut. Dalam pertemuan krisis di Maroko awal bulan ini, jajaran pimpinan FIFA kembali menyatakan dukungan penuh kepada Infantino.
Namun, seorang tokoh senior yang mengetahui pembicaraan mengenai mosi tidak percaya mengatakan, tiga konfederasi sebenarnya cenderung mendukung langkah tersebut. Masalahnya, mereka khawatir kegagalan mosi justru akan memperkuat posisi Infantino.
Jika Infantino berhasil memenangkan pemungutan suara, hal itu akan menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki dukungan elektoral yang kuat dan dapat memperkokoh posisinya menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Krisis bermula dari rencana kontroversial Infantino untuk menjual sebagian saham pada entitas komersial baru FIFA kepada investor swasta.
Entitas tersebut dirancang untuk mengendalikan hak komersial Piala Dunia, kompetisi terbesar dan paling menguntungkan dalam kalender sepak bola dunia.
FIFA sebelumnya memperkirakan pendapatannya pada siklus 2023-2026 akan menembus 15 miliar dolar AS, dengan sebagian besar pendapatan dihasilkan pada tahun penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Namun, proposal investasi tersebut mendapat penolakan keras dari tiga dari enam konfederasi kontinental FIFAâUEFA, AFC, dan CONCACAF.
Ketiganya mempertanyakan proses pengambilan keputusan, terutama terkait transparansi, konsultasi dengan konfederasi dan asosiasi anggota, serta tata kelola organisasi.
FIFA akhirnya membatalkan rencana tersebut setelah mendapat tekanan besar. Infantino mengakui proposal itu telah menimbulkan perpecahan di dunia sepak bola dan tidak lagi sejalan dengan tujuan awal yang ingin dicapai.
Krisis kemudian semakin dalam setelah kepergian Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour.
Lamour sebelumnya mengkritik proposal investasi tersebut dan menyatakan bahwa staf FIFA telah âditipuâ mengenai proyek yang menurutnya merupakan gagasan satu orang.
FIFA tidak memberikan alasan atas kepergian Lamour. Wakil Presiden FIFA Sandor Csanyi kemudian menarik dukungannya kepada Infantino dan menyebut pemecatan Lamour sebagai âtitik akhirâ.
Tekanan terhadap Infantino tidak hanya datang dari konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.
European Football Clubs (EFC), organisasi yang dipimpin Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi dan mewakili lebih dari 800 klub, disebut berada dalam barisan yang menginginkan perubahan tata kelola FIFA.
Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan EFC telah memperingatkan FIFA bahwa klub-klub anggotanya dapat menolak ambil bagian dalam Piala Dunia Antarklub putra maupun putri pada masa mendatang jika persoalan tata kelola dan hubungan antara klub dengan FIFA tidak diselesaikan.
Klub memang tidak memiliki hak suara dalam pemilihan presiden FIFA. Namun, mereka mempunyai pengaruh besar dari sisi olahraga maupun komersial.
Michael Payne, mantan kepala pemasaran Komite Olimpiade Internasional (IOC), menilai kemenangan Infantino dalam pemilihan presiden sekalipun belum tentu menyelesaikan perpecahan di tubuh sepak bola dunia.
âTidak ada artinya lolos dengan mayoritas 51 persen, dengan dukungan banyak negara kecil, sementara semua negara adidaya sepak bola menentang Anda. Bagaimana Anda menjalankan organisasi?â kata Payne kepada Reuters.
Salah satu persoalan terbesar bagi kubu yang ingin menggulingkan Infantino adalah belum munculnya kandidat penantang yang secara terbuka menyatakan siap maju menjelang batas akhir pencalonan pada 18 November.
Di sisi lain, Infantino masih memiliki dukungan dari sejumlah konfederasi dan asosiasi anggota FIFA.
Dalam proposal investasi yang akhirnya dibatalkan, setiap asosiasi anggota FIFA sebenarnya berpotensi memperoleh modal satu kali hingga 20 juta dolar AS untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan pelatih, tim nasional, kompetisi, sepak bola akar rumput, hingga sepak bola perempuan.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Malawi Fleetwood Haiya sebelumnya menyerukan agar mereka yang ingin menantang Infantino di kotak suara segera menyatakan diri.
âMereka harus memberi tahu kami apa yang akan mereka bawa. Sebagai FA Malawi, saya perlu memahami apa yang akan mereka bawa ke Malawi,â ujarnya kepada Reuters.
Bagi kubu oposisi, persoalannya kini bukan lagi sekadar membatalkan proposal investasi. Pertarungan telah berkembang menjadi persoalan lebih besar mengenai transparansi, distribusi kekuasaan, tata kelola, dan arah masa depan FIFA.
Sementara itu, tidak ada sponsor utama FIFA yang secara terbuka mengkritik Infantino di tengah krisis tersebut.
Namun, menurut Payne, para sponsor mulai mempertanyakan bagaimana FIFA bisa menggelar Piala Dunia yang sangat sukses secara komersial tetapi kemudian menghadapi krisis internal akibat keputusan strategisnya sendiri.
Bagi salah satu tokoh senior yang mengetahui pembicaraan mengenai mosi tidak percaya, kerusakan terhadap kepemimpinan Infantino sudah terlanjur terjadi.
âAnda tidak bisa memasukkan kembali saus tomat ke dalam botol,â katanya.
Ungkapan tersebut menggambarkan betapa sulitnya mengembalikan situasi ke kondisi semula. Infantino mungkin masih memiliki dukungan politik yang cukup untuk bertahan, tetapi perlawanan dari UEFA, AFC, CONCACAF, sejumlah asosiasi nasional, pejabat FIFA, hingga klub-klub Eropa menunjukkan bahwa krisis kepemimpinan FIFA belum berakhir.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Pemerintah Kota Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026
-
WNA Vietnam Dideportasi, Diduga Buka Praktik Dokter Gigi Ilegal di Kawasan Radio Dalam
-
jembatan Kayu Ratusan Meter Dibangun Pemkot Banjarmasin
-
Kemendukbangga: Tren Usia Menikah Semakin Matang
-
KPK Sita Uang Ratusan Juta Rupiah pada OTT Bupati Langkat
-
Pencarian Nelayan Hilang di Perairan Pasean Pamekasan
-
Polri Bekukan Aktivitas di Kafe dan Money Changer Usai Penggeledahan Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.