Jerman Catat Rekor 14.000 Kematian Akibat Gelombang Panas, Eropa Makin Terpanggang

Jumat, 21 Agu 2026, 06:35 WIB

FRANKFURT – Jerman mencatat rekor sekitar 14.000 kematian terkait gelombang panas pada musim panas tahun ini ketika Eropa dilanda serangkaian gelombang panas ekstrem, berdasarkan data resmi yang dirilis pada Kamis (20/8) waktu setempat.

Menurut Robert Koch Institute (RKI), sekitar 9.600 dari kematian tersebut terjadi dalam satu pekan pada akhir Juni, ketika suhu di Jerman melonjak hingga lebih dari 40 derajat Celsius.

Ket. Foto: Warga menikmati waktu di tepi Sungai Rhine di Cologne, Jerman. — Sumber: Antara

Gelombang panas dan kekeringan turut membuat musim panas tahun ini menjadi salah satu yang terpanas dalam sejarah Eropa. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kematian akibat panas di sejumlah negara yang terdampak paling parah.

Di Spanyol, lembaga kesehatan masyarakat mencatat hampir 4.500 kematian terkait panas sejak 1 Juni. Sementara itu, otoritas kesehatan Prancis melaporkan lebih dari 7.300 kematian berlebih pada periode yang sama.

Di Jerman, kelompok usia di atas 75 tahun mencatat proporsi terbesar kematian terkait panas, menurut RKI.

“Dalam beberapa kasus, seperti sengatan panas, paparan panas secara langsung menyebabkan kematian. Namun, dalam sebagian besar kasus, kematian terjadi akibat kombinasi paparan panas dan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya,” demikian laporan RKI.

Karena itu, panas biasanya tidak tercantum sebagai penyebab utama kematian dalam sertifikat kematian. RKI menggunakan metode statistik untuk memperkirakan jumlah kematian yang berkaitan dengan paparan panas.

RKI menyebut telah mengumpulkan data kematian akibat panas selama satu dekade. Rekor sebelumnya tercatat pada 2018 dengan sekitar 8.900 kematian. Sementara laporan terpisah dari sebuah publikasi medis memperkirakan terdapat sekitar 10.000 kematian akibat panas pada 1994.

Dalam beberapa tahun, jumlah kematian terkait panas bahkan berada di bawah 2.000. Perbedaan tersebut dipengaruhi tingkat keparahan gelombang panas yang terjadi setiap tahun.

Panas dan Kekeringan

Musim panas tahun ini, panas ekstrem dan kekeringan melanda perekonomian terbesar Eropa tersebut. Selain meningkatkan risiko kematian, kondisi itu memicu kebakaran hutan, menurunkan hasil panen, serta menyebabkan permukaan air sejumlah sungai utama turun.

Sungai-sungai tersebut merupakan jalur penting bagi pengangkutan barang melalui perairan.

Sejumlah menteri dari Partai Sosial Demokrat (SPD), mitra junior dalam koalisi pemerintahan Kanselir Friedrich Merz, pekan ini meminta Berlin memasukkan kebutuhan adaptasi terhadap perubahan iklim dan perlindungan alam ke dalam Undang-Undang Dasar Jerman atau Basic Law.

Menteri Lingkungan Hidup Carsten Schneider mengatakan krisis iklim kini telah menjadi “kenyataan yang dapat dirasakan”. Namun, menurut dia, aturan yang berlaku saat ini membatasi langkah yang dapat dilakukan kementeriannya, termasuk dalam membantu pemerintah negara bagian dan daerah.

Para menteri SPD juga mendorong perubahan aturan tata ruang perkotaan dan peraturan bangunan, serta regulasi ketenagakerjaan baru untuk melindungi pekerja yang harus bekerja dalam kondisi suhu tinggi.

Rumah Sakit dan Panti Jompo Terdampak

Mantan Menteri Kesehatan Jerman Karl Lauterbach mendukung tuntutan tersebut pada 20 Agustus. Ia menilai pemerintah daerah membutuhkan dukungan finansial untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Perlindungan panas yang efektif membutuhkan banyak biaya. Banyak pemerintah daerah terlilit utang dan tidak mampu membiayai sendiri langkah-langkah yang diperlukan,” kata Lauterbach kepada harian Rheinische Post.

Awal bulan ini, Asosiasi Kota dan Pemerintah Daerah Jerman menyatakan rumah sakit dan panti jompo membutuhkan dana miliaran euro untuk beradaptasi dengan suhu ekstrem. Banyak fasilitas tersebut belum dilengkapi pendingin udara.

“Rumah sakit membutuhkan pendingin udara, bukan hanya untuk pasien tetapi juga bagi staf,” kata Presiden asosiasi tersebut, Ralph Spiegler.

Ia memperkirakan kebutuhan investasi untuk fasilitas kesehatan mencapai sedikitnya 20 miliar euro atau hampir 30 miliar dolar Singapura.

Menurut Spiegler, kondisi panti jompo dan fasilitas perawatan juga perlu menjadi perhatian khusus agar bangunan dan fasilitasnya dapat disesuaikan dengan perubahan iklim.

Lauterbach, yang memiliki gelar doktor di bidang ilmu kedokteran, memperkirakan jumlah sebenarnya kematian akibat panas tahun ini mungkin lebih tinggi dibandingkan data resmi.

“Robert Koch Institute menggunakan metodologi yang cukup konservatif. Ini berarti jumlah kematian terkait panas kemungkinan diremehkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan kematian akibat panas memang sulit dicatat secara langsung karena hanya sedikit orang yang meninggal akibat sengatan panas klasik.

“Sebagian besar kematian terjadi dalam kombinasi dengan kondisi lain,” katanya.

Menurut Lauterbach, tekanan panas yang tinggi, misalnya, dapat berkontribusi terhadap terjadinya stroke pada seseorang yang sebelumnya mengalami fibrilasi atrium. Secara formal, penyebab kematian orang tersebut mungkin tercatat sebagai stroke, meskipun tanpa paparan panas kondisi tersebut belum tentu terjadi.

  • Gelombang Panas Eropa

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.