- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bahaya AI Makin Nyata, JAD...
Bahaya AI Makin Nyata, JADEPUFFER Bisa Belajar dan Memperbaiki Serangan Siber
Jumat, 21 Agu 2026, 15:05 WIBJakarta - Perusahaan keamanan siber, Kaspersky, mengingatkan masyarakat agar dapat mewaspadai JADEPUFFER yang merupakan agen kecerdasan artifisial (AI) ransomware pertama di dunia yang kini menandai titik balik penting dalam ancaman siber.
Dalam temuan Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) biasanya AI dalam kasus penyerangan siber berperan membantu operator manusia, namun JADEPUFFER berbeda karena agen AI ini bisa mengambil keputusan dan juga melaksanakan penyerangan secara mandiri.
"JADEPUFFER juga menunjukkan tingkat otonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa agen AI sekarang mampu membuat keputusan independen sepanjang proses serangan, secara efektif mereplikasi penalaran penyerang manusia yang berpengalaman tanpa pengawasan langsung,â kata Peneliti Keamanan Utama di Kaspersky GReAT Ye Jin dalam keterangannya diterima di Jakarta, Jumat (21/8).
Agen AI ransomware itu dalam temuan GReAT tidak hanya bisa melakukan penyerangan biasa, tapi juga melakukan evaluasi ketika serangannya gagal. Dalam waktu singkat ia memperbaikinya agar tugasnya terpenuhi.
JADEPUFFER menjadi bukti pertama bahwa ancaman siber bertenaga AI kini semakin nyata dengan kemampuan analisis, adaptasi, dan eksekusi serangan siber setara kapasitas manusia.
Selain JADEPUFFER, GReAT menemukan memang terdapat peningkatan penggunaan AI berbasis agen dalam serangan siber.
Ye Jin menjelaskan secara rinci contohnya seperti kasus ChatGPhish, serangan siber ini menggunakan teknik injeksi prompt tidak langsung yang mengubah fitur ringkasan web AI terpercaya (seperti ChatGPT).
Dalam serangan ini, penjahat siber menyembunyikan instruksi berbahaya di dalam halaman web dan mengelabui pengguna agar meminta asisten AI untuk meringkas konten tersebut.
AI kemudian tanpa sadar meneruskan instruksi atau tautan berbahaya yang disisipkan, menjadikannya bagian tak disengaja dari serangan tersebut.
Karena konten berbahaya disajikan melalui antarmuka AI terpercaya, pengguna cenderung menganggapnya aman dan mengeklik tautan berbahaya atau mengikuti instruksi yang berisiko.
Tampak Biasa
Pada saat yang sama, serangan semacam ini sulit dideteksi oleh alat keamanan tradisional, karena tampak seperti interaksi sah antara pengguna dan layanan AI, bukan serangan siber konvensional.
Agen AI berbahaya juga menghilangkan kebutuhan akan pengetahuan teknis untuk melancarkan serangan siber.
Hal ini terbukti saat ditemukannya VoidLink, sebuah kerangka kerja malware berbasis AI dan cloud-native, pada Januari 2026.
Berbeda dengan malware tradisional yang sebagian besar ditulis oleh pengembang manusia, VoidLink dilaporkan dikembangkan hampir sepenuhnya dengan bantuan AI. Hal ini menunjukkan bagaimana AI generatif mengubah cara malware canggih diciptakan.
Untuk menghindari bahaya serangan siber oleh agen AI yang kini terus berkembang, Ye Jin membagikan beberapa kiat yang dapat dilakukan masyarakat khususnya pemilik bisnis yang memang rentan terhadap serangan siber ini.
Cara pertama adalah melakukan pertahanan sistem digital yang proaktif. Pemilik sistem harus memiliki respons pertahanan proaktif menggunakan threat hunting berbasis AI, sehingga ancaman yang tersembunyi bisa lebih mudah ditemukan sebelum ia muncul ke permukaan.
Selanjutnya adalah menerapkan arsitektur zero trust. Ketika pendekatan ini dilakukan itu artinya sistem digital yang dimiliki benar-benar memverifikasi setiap permintaan akses secara ketat.
Pendekatan arsitektur zero trust selalu efektif untuk menghilangkan risiko terbentuknya celah dalam jaringan internal.
Kiat ketiga adalah pertahanan sistematis, membangun sistem pertahanan sistematis artinya menghadirkan proteksi tidak hanya di titik akhir, tapi juga di dalam jaringan, aplikasi, dan data.
Terakhir, karena serangan siber yang ingin dilawan dibuat oleh AI, maka menggunakan AI lagi untuk melawannya adalah cara yang tak terhindarkan.
Dengan menggunakan model berskala besar dan teknologi AI dengan kegunaan ganda, maka sebuah sistem dapat meningkatkan kemampuan deteksi dan respons terhadap penyerangan berbasis AI.
"Ketika penyerang dapat memanfaatkan AI untuk mengautomatisasi pengambilan keputusan dan mempercepat setiap tahap serangan, pihak pertahanan harus merespons dengan tingkat kecerdasan yang setara," kata Ye Jin.
Lebih lanjut ia mengatakan,"Solusi keamanan siber yang diperkaya dengan intelijen ancaman yang terus diperbarui bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan kebutuhan krusial untuk tetap selangkah lebih maju dari ancaman yang berkembang pesat."
- Keamanan Siber
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Dominasi Cuaca Sebagian Besar Kota di Indonesia
-
Andi Tenri, Dosen Unasman, Dampingi Warga Kembangkan Pakan Azolla dan Telur Asin Aneka Rasa
-
Jadi Pahlawan Kemenangan Norwegia Atas Brasil, Erling Haaland: Saya hanya Butuh Satu atau Dua Peluang untuk Cetak Gol
-
Pesta Kesenian Bali 2026 Sukses Gaet 1,8 Juta Pengunjung
-
Promo Perlengkapan Sekolah Jakarta Fair 2026: Diskon Alat Tulis hingga 50 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.