Benahi Akar Persoalan di Sektor Riil
Selasa, 18 Agu 2026, 06:00 WIBPembangunan Ekonomi - Pelaku Usaha Inisiasi Task Force Debottlenecking Hambatan Berusaha
Pembenahan akar persoalan sektor riil buÂkan sekadar menjaga produksi tetap berjalan, tetapi penciptaan lapangan kerja yang harus diikuti peningkatan kualitas pekerjaan, terÂmasuk tanpa diskriminasi upah dan gender.
JAKARTA â Upaya menÂcegah pemutusan hubungan kerja (PHK) tak cukup hanya dengan memÂperkuat sektor riil dan menjaga aktivitas proÂduksi. Kualitas lapangÂan kerja serta kompeÂtensi tenaga kerja harus menjadi bagian penting dari strategi ketenagaÂkerjaan.Â
Transformasi industri, digiÂtalisasi, dan perubahan keÂbutuhan pasar menuntut peÂkerja memiliki keterampilan yang terus diperbarui. Karena itu, kebijakan penciptaan kerja perlu berjalan beriringan deÂngan peningkatan produktiÂvitas, pelatihan, dan reskilling agar tenaga kerja tidak hanya bertahan dari ancaman PHK, tetapi juga mampu beradaptasi dan naik kelas.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menilai penciptaan laÂpangan kerja harus diikuti peÂningkatan kualitas pekerjaan, termasuk tanpa diskriminasi upah dan gender. âMemang penting penciptaan lapangan kerja, tapi kualitas lapangan pekerjaan harus tercipta deÂngan tidak ada diskriminasi upah, gender, dan lain-lain,â kata Esther di Jakarta, Senin (17/8).
Dia juga menekankan penÂtingnya meningkatkan serapan tenaga kerja lokal dari tahun ke tahun melalui program peÂningkatan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, termasuk matching (selaras) antara kebutuhan dan keterÂsediaan tenaga kerja. Dirinya menyoroti sekitar 1 juta sarjana saat ini masih menganggur.
âUntuk mengatasinya, Indef mengusulkan 5 langkah konÂkret,â ujarnya.
Dijelaskannya, strategi perÂtama adalah mencocokkan kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja dan permintaan indusÂtri. Kedua, mendorong dosen praktisi mengajar di kampus agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dunia kerja.
Ketiga, memperbaÂnyak inkubator wiraÂusaha agar lulusan tidak hanya mencari pekerÂjaan tetapi juga mampu menÂciptakan lapangan kerja. KeÂempat, memulai pendidikan literasi entrepreneurship sejak usia dini untuk membangun pola pikir berwirausaha. TerÂakhir, menciptakan lingkungan usaha yang mendukung melaÂlui biaya berusaha yang muÂrah, tanpa pungli atau red tape, serta regulasi yang jelas.
Hal tersebut disampaikan Esther untuk merespons perÂnyataan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani yang meÂnekankan pentingnya memÂbenahi akar persoalan sektor riil agar investasi dan lapangan kerja dapat diselamatkan.
Sebelumnya, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan ketahanan ekoÂnomi nasional hanya dapat dibangun jika Indonesia beÂrani membenahi akar perÂsoalan sektor riil. Apindo juga menginisiasi pembentukan Task Force Debottlenecking Hambatan Berusaha untuk mengawal 14 isu prioritas duÂnia usaha.
Shinta juga menyoroti tanÂtangan ketenagakerjaan, di mana sekitar 67 persen pengÂangguran adalah generasi muda yang didominasi GeneÂrasi Z, sementara hampir 60 persen tenaga kerja masih berÂada di sektor informal. âKonÂdisi ini menunjukkan bahwa agenda ekonomi Indonesia bukan hanya tentang mencipÂtakan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga memastikan terseÂdianya pekerjaan yang produktif berkualitas, formal dan berÂkelanjutan,â ujar Shinta.
Peringatan Penting
Pengamat Kebijakan PubÂlik Fitra, Badiul Hadi, menilai pernyataan Apindo soal penÂtingnya membenahi akar perÂsoalan sektor riil harus menjadi fokus pemerintah dan agenda utama dalam RAPBN 2027. Menurutnya, ketahanan ekoÂnomi tidak cukup dibangun melalui stimulus, tetapi memÂbutuhkan perbaikan fondasi produksi dan investasi.
Menjelang penyampaian piÂdato kenegaraan dan Nota KeÂuangan RAPBN 2027 oleh PreÂsiden, pemerintah dinilai perlu memastikan APBN mampu mengatasi hambatan sektor riil sekaligus menciptakan pekerÂjaan berkualitas. âTarget perÂtumbuhan ekonomi harus meÂmiliki keterkaitan nyata dengan investasi, produktivitas, dan keÂsejahteraan,â ujar Badiul.
Dirinya juga menyoroti target RKP 2027, yakni perÂtumbuhan ekonomi 5,8â6,5 persen, penciptaan 2,57â3,49 juta lapangan kerja baru, serta peningkatan pekerjaan formal menjadi 40,81 persen. Target tersebut, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi indikator makro, tetapi harus didukung anggaran yang mampu meÂmastikan pencapaiannya diraÂsakan masyarakat.
Untuk itu, pemerintah perlu menjadikan debottleneckÂing sebagai agenda fiskal deÂngan membenahi biaya logisÂtik, kepastian energi, kualitas SDM, akses pembiayaan, infraÂstruktur, regulasi, dan iklim inÂvestasi. Hambatan-hambatan tersebut dinilai berpengaruh langsung terhadap kemamÂpuan sektor riil berkembang dan menyerap tenaga kerja.
Badiul juga menyoroti data Apindo bahwa 60 persen teÂnaga kerja berada di sektor informal, sementara pengÂangguran didominasi generasi muda. Karena itu, tantangan RAPBN 2027 bukan sekadar menciptakan pekerjaan, tetapi memastikan pekerjaan yang tersedia produktif, formal, laÂyak, dan berkelanjutan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dukung Stimulus Ekonomi Pemerintah, ASDP Berikan Diskon Tarif Pelabuhan hingga 100 Persen
-
LG Batal Investasi di Indonesia untuk Baterai Kendaraan Listrik, BKPM Jajaki Kerja Sama dengan Huayou
-
Presiden Prabowo Sambut Tahun Baru 2026 Bersama Pengungsi Korban Bencana
-
Pemprov Jawa Tengah Perluas Kerja Sama dengan Negara Bagian Malaka
-
Nahas! Niat Bersihkan Sumur Seorang Warga Malah Tewas, Basarnas Jambi Berhasil Evakuasi Korban
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.