• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mata Juling Perlu Ditangan...

Mata Juling Perlu Ditangani, Deteksi Dini Bantu Jaga Fungsi Penglihatan Anak

Senin, 10 Agu 2026, 16:57 WIB

JAKARTA — RS Mata JEC @ Menteng meresmikan Pusat Operasi Mata Juling bertepatan dengan peringatan World Strabismus Day atau Hari Strabismus Sedunia, Senin (10/8). Layanan tersebut ditujukan bagi pasien anak dan dewasa dengan kondisi strabismus atau mata juling.

Pusat layanan ini menyediakan rangkaian penanganan mulai dari pemeriksaan diagnostik, koreksi kelainan refraksi, terapi ambliopia atau mata malas, latihan penglihatan, hingga operasi otot mata berdasarkan diagnosis dan indikasi medis pasien.

Ket. Foto: Tim dokter penanganan mata juling pada acara konferensi pers peresmian Pusat Operasi Mata Juling di RS Mata JEC @ Menteng Sekaligus peringatan World Strabismus Day atau Hari Strabismus Sedunia, yang berlangsung di Jakarta pada hari Senin (10/8). — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

Strabismus merupakan kondisi ketika kedua mata tidak sejajar sehingga salah satu mata dapat menyimpang ke arah dalam, luar, atas, atau bawah. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan posisi mata, tetapi juga dapat memengaruhi kerja kedua mata, persepsi kedalaman, serta perkembangan fungsi penglihatan pada anak.

Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), mengatakan setiap pasien strabismus dapat memiliki penyebab, pola, dan kebutuhan penanganan yang berbeda. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh diperlukan sebelum menentukan terapi.

Menurut dia, strabismus juga dapat memberikan dampak psikososial. Pada anak, kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan. Sementara pada orang dewasa, strabismus dapat berdampak terhadap interaksi sosial, kepercayaan diri, hingga lingkungan profesional.

“Melalui Pusat Operasi Mata Juling, pasien anak maupun dewasa dapat memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari terapi nonbedah hingga operasi berdasarkan indikasi medis,” ujar dia pada kesempatan itu.

Penanganan Disesuaikan Kondisi Pasien

Penanganan strabismus ditentukan berdasarkan sejumlah faktor, antara lain penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai.

Terapi tidak selalu harus berakhir dengan operasi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien dapat memperoleh kacamata, lensa khusus atau prisma, terapi ambliopia, latihan penglihatan, maupun tindakan operasi apabila terapi nonbedah belum memberikan hasil yang memadai atau operasi dinilai sebagai pilihan yang sesuai secara medis.

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), mengatakan keputusan operasi tidak dibuat semata-mata untuk memperbaiki penampilan mata.

Menurut dia, dokter perlu mempertimbangkan pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, serta kondisi kesehatan pasien sebelum menentukan tindakan. Apabila operasi diperlukan, perencanaannya dilakukan secara individual dan disertai pemantauan setelah tindakan.

Pada anak, penanganan ditujukan antara lain untuk mendukung perkembangan fungsi penglihatan. Sementara pada orang dewasa, operasi dapat menjadi pilihan bagi pasien yang mengalami penglihatan ganda akibat perubahan posisi mata dan kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari.

Rangkaian pemeriksaan di pusat layanan tersebut meliputi pemeriksaan ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, posisi dan pergerakan bola mata, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi bagian mata lainnya.

Pasien juga dapat menjalani pemeriksaan stereopsis dan koordinasi kedua mata menggunakan alat seperti Synoptophore, TNO, dan Fly Test sesuai kebutuhan klinis.

Untuk terapi nonbedah, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata, termasuk lensa khusus atau prisma pada pasien tertentu. Terapi ambliopia dapat dilakukan melalui patching, sedangkan latihan penglihatan diberikan berdasarkan indikasi medis.

Strabismus Tidak Selalu Terlihat Jelas

Strabismus dapat muncul dalam berbagai bentuk. Berdasarkan arah deviasi, kondisi ini antara lain dikenal sebagai esotropia ketika mata bergeser ke arah dalam, exotropia ketika mata bergeser ke arah luar, hypertropia ketika mata bergeser ke atas, dan hypotropia ketika mata bergeser ke bawah.

Berdasarkan pola kemunculannya, strabismus juga dapat bersifat manifest atau terlihat jelas, latent atau tersembunyi, intermittent atau hilang-timbul, serta alternating atau bergantian antara mata kanan dan kiri.

Strabismus laten atau tersembunyi tidak selalu mudah dikenali dalam aktivitas sehari-hari. Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak sedang fokus, tetapi tampak menyimpang ketika lelah atau pada kondisi tertentu.

Deteksi awal dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video. Namun, temuan tersebut perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh.

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), mengatakan orang tua perlu memperhatikan kondisi mata anak, terutama apabila ketidaksejajaran mata menetap.

Menurut Lely, pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, koordinasi mata terkadang belum sepenuhnya berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, kondisi tersebut perlu diperiksakan.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, kesulitan memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.

 “Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa,” ujarnya.

Beragam Faktor Dapat Memicu Strabismus

Strabismus dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.

Pada orang dewasa, strabismus yang baru muncul juga dapat berkaitan dengan kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, maupun penyakit sistemik tertentu.

Ketua Perdami Jaya, Dr. Julie Dewi Barliana, SpM, Subsp.P.O.S., Biomed, mengatakan masih terdapat anak dengan mata juling yang terlambat mendapatkan pemeriksaan karena kondisi tersebut dianggap hanya berkaitan dengan penampilan atau dapat ditunda.

Menurutnya, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas, terutama ketika terjadi pada masa perkembangan penglihatan anak. Ia menilai kehadiran Pusat Operasi Mata Juling dapat mendukung edukasi, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap penanganan strabismus.

“Perdami Jaya mengapresiasi kehadiran Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng sebagai langkah untuk memperkuat edukasi, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap penanganan strabismus yang tepat,” ujarnya.

 Perlu Deteksi dan Penanganan Berkelanjutan

Penanganan strabismus pada akhirnya tidak hanya diukur dari perubahan posisi mata. Perbaikan fungsi penglihatan, koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalankan aktivitas sehari-hari juga menjadi bagian dari tujuan penanganan.

Karena kondisi dan penyebab strabismus berbeda pada setiap pasien, pemeriksaan dan pemantauan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam menentukan terapi.

Pusat Operasi Mata Juling tersebut menjadi bagian dari pengembangan layanan subspesialistik JEC Eye Hospitals and Clinics. Berdasarkan keterangan perusahaan, jaringan tersebut saat ini memiliki 16 cabang rumah sakit mata dan klinik utama mata di berbagai kota, dengan dukungan layanan JKN-BPJS Kesehatan di sejumlah cabang, sistem jejaring hub and spoke, serta teknologi digital EyeCheck dan platform @Cloud untuk skrining, konsultasi, dan telemedicine.

JEC juga menyatakan akan memperluas akses layanan melalui pembangunan JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur, Bali, serta pembukaan JEC @ Tangerang dan JEC JAVA @ Kediri.

  • Deteksi Dini
  • mata juling
  • Operasi Mata
  • perawatan mata anak
  • gangguan penglihatan
  • Kesehatan Anak
  • kesehatan mata
  • JEC
  • dokter mata
  • strabismus
  • mata anak
  • ambliopia
  • pediatric ophthalmology

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.