Pemerintah Perlu Pastikan Sebaran Pasokan Beras Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Senin, 21 Sep 2026, 09:43 WIB

JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu memastikan pasokan beras tersedia dalam mutu, lokasi, dan saluran penjualan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga kebijakan tak cukup hanya berorientasi pada besarnya produksi dan stok nasional.

Analis NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji mengatakan, penyaluran SPHP dan intervensi distribusi perlu diarahkan berdasarkan kondisi tiap daerah, sedangkan penerapan harga eceran tertinggi (HET) harus disertai pemantauan terhadap biaya pembentukan harga dari gabah hingga ritel.

Ket. Foto: Petugas mendata penerima manfaat bantuan pangan beras saat penyaluran di Kantor Kelurahan Pahandut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (15/9/2026). — Sumber: ANTARA

"Pada saat yang sama, data beras pecah perlu dipisahkan secara lebih rinci berdasarkan wilayah, spesifikasi, volume, dan tujuan penggunaan agar perkembangan pasar konsumsi dan industri dapat dibaca secara lebih akurat," kata Sandy dalam keterangannya di Jakarta, Senin (21/9).

Ia menambahkan bahwa dengan pendekatan tersebut, klaim ketersediaan beras dapat benar-benar tercermin dalam harga dan pilihan produk yang ditemui konsumen.

Sandy memandang, pemerintah tidak cukup hanya menyatakan stok beras Indonesia aman. Menurutnya, akar persoalan harga di tingkat konsumen jauh lebih kompleks daripada sekadar ketersediaan gabah dan beras secara nasional.

Laporan terbaru NEXT Indonesia Center bertajuk "Anomali Surplus Beras" menunjukkan bahwa penyimpangan harga terbesar justru melanda empat provinsi lumbung padi utama nasional, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Sandy menjelaskan bahwa secara kolektif, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat keempat daerah tersebut menyumbang sekitar 16,5 juta ton atau hampir separuh dari total produksi beras nasional.

Kendati demikian, imbuh Sandy, data September 2026 justru menunjukkan harga beras di daerah-daerah tersebut telah melampaui HET Zona 1, yaitu Rp13.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium.

"Ketika harga beras melambung bahkan di provinsi yang menjadi sentra produksi utama, itu merupakan sinyal kuat adanya tekanan biaya yang belum terurai secara tuntas, mulai dari tingkat gabah, penggilingan, hingga margin pedagang eceran," kata dia.

Menurut NEXT Indonesia Center, analisis mendalam terhadap rantai pasok menunjukkan bahwa kenaikan harga di tingkat konsumen dipicu oleh lonjakan biaya produksi sejak dari hulu.

Di Sumatra Selatan misalnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani menembus Rp7.700 per kilogram, berada jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kondisi ini berimbas langsung pada naiknya biaya modal penggilingan dan pedagang pasokan.

Selain tingginya harga bahan baku di tingkat petani, kenaikan biaya operasional pendukung seperti biaya bahan bakar minyak, penggilingan, dan distribusi mendorong kenaikan harga.

Sandy mencatat bahwa rantai distribusi yang masih sangat panjang dari rantai pengepul hingga ke ritel modern menyebabkan margin harga makin membengkak.

Akibatnya, kata dia, para pelaku usaha ritel maupun pedagang pasar tradisional menghadapi dilema berat karena tidak mampu menjual beras sesuai batas HET tanpa menanggung kerugian.

Selain persoalan pada sektor beras konsumsi masyarakat, laporan terbaru NEXT Indonesia Center juga membedah anomali yang terjadi pada pasar beras pecah (broken rice).

Secara aturan dan tingkat kualitasnya, beras dengan persentase butir patah tinggi dijual dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang varian medium apalagi premium.

Namun, data BPS mencatat pergerakan yang tak biasa di mana harga beras pecah sempat melampaui harga beras medium dalam pengamatan periode 2024–2025, bahkan menembus harga beras premium pada bulan-bulan tertentu di tingkat penggilingan.

Sandy mengatakan anomali ini perlu dibaca secara hati-hati karena transaksi beras pecah relatif kecil. Pada Juni 2025, beras pecah hanya mencakup 1,21 persen dari transaksi yang diamati BPS, dibandingkan premium 35,26 persen dan medium 52,65 persen.

"Meskipun porsinya kecil, harganya meningkat 10,44 persen secara tahunan—tertinggi di antara seluruh kategori mutu," kata Sandy.

Menurut NEXT Indonesia Center, anomali harga beras pecah memperlihatkan sisi lain dari persoalan tersebut.

Harga beras pecah yang sesekali melampaui premium tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai perubahan umum dalam struktur harga beras. Volume transaksinya relatif kecil sehingga harga rata-ratanya mudah dipengaruhi oleh perubahan lokasi, spesifikasi, dan jumlah transaksi.

Kendati demikian, Sandy menjelaskan bahwa kebutuhan industri menunjukkan beras pecah memiliki pasar tersendiri yang dapat membuat harganya tidak selalu bergerak mengikuti urutan mutu beras konsumsi.

"Kenaikan harga beras pecah ini kan bisa juga dipengaruhi oleh kombinasi antara terbatasnya volume transaksi di pasar dan lonjakan permintaan bahan baku dari sektor industri. Komoditas ini kerap digunakan untuk industri pengolahan pangan seperti tepung beras, bihun, hingga pakan," kata Sandy.

  • Pasokan Beras

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.