ITSEC Asia Luncurkan Akademi Cybersecurity dan AI untuk Perkuat Talenta Digital Indonesia
Senin, 10 Agu 2026, 19:21 WIBJAKARTAâ Kebutuhan terhadap tenaga profesional yang mampu mengembangkan sekaligus mengamankan teknologi digital semakin meningkat seiring dengan percepatan transformasi digital dan adopsi kecerdasan artifisial (AI).
Menjawab kebutuhan tersebut, PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) meluncurkan ITSEC Cyber & AI Academy di Jakarta. Akademi ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi di bidang cybersecurity dan AI melalui pembelajaran berbasis praktik, simulasi, asesmen, serta pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Peluncuran akademi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan talenta digital Indonesia, khususnya profesional yang memiliki kemampuan menghadapi ancaman siber, menguji ketahanan sistem, mengembangkan solusi AI, serta memahami aspek keamanan dan tata kelola teknologi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, mengatakan kebutuhan talenta digital Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan.
"Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara saat ini kita baru memiliki sekitar 3 juta," ujar Nezar dalam siaran pers yang diterima pada hari Senin (10/8).
Menurut dia, kesenjangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan. Pengembangan program seperti akademi cybersecurity dan AI dinilai dapat menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan kesiapan sumber daya manusia menghadapi pertumbuhan ekonomi digital.
ITSEC Asia sendiri telah beroperasi selama 16 tahun di bidang cybersecurity. Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam pengembangan program pendidikan dan pelatihan yang ditawarkan melalui akademi.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan pengembangan talenta menjadi bagian dari kontribusi perusahaan terhadap keamanan ekosistem digital Indonesia.
Menurut dia, tantangan cybersecurity dan AI terus berkembang sehingga dibutuhkan profesional yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengamankannya dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dua Fokus Kompetensi
ITSEC Cyber & AI Academy memiliki dua fokus utama, yakni Cybersecurity Academy: Defend & Attack dan AI Academy: Build & Govern.
Program cybersecurity diarahkan untuk membangun kemampuan peserta dalam memahami, menguji, mempertahankan, serta merespons ancaman siber. Peserta diperkenalkan pada perspektif defensif maupun ofensif sehingga dapat memahami cara sistem dilindungi sekaligus bagaimana kerentanan ditemukan dan diuji.
Sementara itu, AI Academy berfokus pada kemampuan membangun, menerapkan, dan mengelola teknologi AI dengan mempertimbangkan aspek keamanan serta tata kelola.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk menjawab kebutuhan organisasi yang semakin banyak menggunakan AI dalam proses bisnis, pengolahan data, dan pengambilan keputusan.
President Director ITSEC Cyber & AI Academy Yulius C. Rusli mengatakan program pembelajaran dirancang berdasarkan kebutuhan yang dihadapi profesional di lapangan.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai konsep cybersecurity dan AI, tetapi juga menjalani asesmen, pembelajaran adaptif, praktik, simulasi, dan evaluasi kemampuan.
Didukung Teknologi Asesmen dan Simulasi
Untuk mendukung proses pembelajaran, akademi tersebut mengembangkan ekosistem teknologi yang mencakup asesmen kompetensi, pengelolaan pembelajaran, pembelajaran berbasis AI, simulasi keamanan siber, hingga program cyber awareness.
Salah satunya adalah AKSI (Asesmen Kompetensi Sistematis dan Integratif) yang digunakan untuk mengidentifikasi kompetensi kandidat, termasuk kemampuan teknis, aptitude, dan soft skills.
Kemudian terdapat CAKRA (Capaian Akademik Kompetensi Siber Resiliensi Akselerasi) yang digunakan untuk mendukung pengelolaan pembelajaran dan kompetensi dalam satu lingkungan.
Untuk pembelajaran berbasis AI, SAKTI (Sistem AI untuk Kompetensi, Teknologi, dan Inovasi) menyediakan jalur pembelajaran adaptif yang mencakup AI, cybersecurity, intelligence, data, dan programming. Platform tersebut juga dilengkapi evaluasi yang dipersonalisasi serta fitur proctoring dan anti-kecurangan.
Sementara itu, PERISAI (Platform Emulasi Realistik untuk Intelijen Siber dan Ancaman Infrastruktur) digunakan sebagai cyber range berbasis AI untuk mensimulasikan skenario cybersecurity, AI security, dan intelligence.
Adapun JAGA (Jaringan Awareness dan Governance untuk Aset Nasional) diarahkan untuk mendukung program cyber awareness organisasi melalui simulasi phishing berbasis AI, pelatihan interaktif, dan analitik kinerja.
Rangkaian teknologi tersebut dirancang untuk menghubungkan tahapan asesmen, pembelajaran, praktik, simulasi, hingga evaluasi dalam satu proses pengembangan kompetensi.
Penguatan Talenta Muda
Pengembangan talenta juga dilakukan melalui program ITSEC CyberTalent yang ditujukan bagi talenta muda Indonesia yang memiliki potensi di bidang cybersecurity.
Dalam peluncuran akademi, ITSEC Asia memberikan dukungan kepada Ibrahim Al Abrar, pelajar asal Boyolali, Jawa Tengah, yang sebelumnya menerima Letter of Appreciation dari NASA setelah menemukan dan melaporkan kerentanan keamanan pada salah satu sistem publik NASA melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP).
Dukungan yang diberikan mencakup perangkat untuk menunjang pembelajaran cybersecurity, sesi pelatihan privat bersama ahli cybersecurity ITSEC Asia, serta kesempatan mengikuti program magang di ITSEC Asia setelah memenuhi persyaratan yang berlaku.
Patrick mengatakan pengembangan talenta tidak hanya membutuhkan kemampuan, tetapi juga akses terhadap pembelajaran, pendampingan, dan pengalaman industri.
Menurut dia, talenta dengan kemampuan di bidang cybersecurity dapat muncul dari berbagai daerah sehingga akses terhadap kesempatan pengembangan kompetensi menjadi salah satu faktor penting.
Menyiapkan Talenta untuk Era AI
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie menilai Indonesia memiliki potensi besar melalui kepemilikan data. Namun, potensi tersebut perlu didukung kemampuan untuk melindungi dan memanfaatkan data secara tepat.
Menurut Stella, AI dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang relevan bagi Indonesia, tetapi pemanfaatannya membutuhkan sumber daya manusia yang memahami teknologi sekaligus data yang menjadi fondasinya.
Peluncuran ITSEC Cyber & AI Academy kemudian menempatkan pengembangan kompetensi cybersecurity dan AI dalam konteks kebutuhan yang lebih luas, yakni menyiapkan tenaga profesional yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memahami risikonya.
Selain akademi dan program CyberTalent, ITSEC Asia juga mengembangkan IntelliBroÅ, platform lokal yang ditujukan untuk membantu mengidentifikasi, menganalisis, dan merespons insiden siber secara real-time.
Melalui pengembangan pendidikan, simulasi, dan teknologi keamanan tersebut, perusahaan menargetkan terbentuknya pipeline talenta cybersecurity dan AI yang dapat mendukung kebutuhan industri digital Indonesia.
Penguatan sumber daya manusia menjadi semakin penting karena perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga membawa tantangan keamanan, tata kelola, dan perlindungan data. Karena itu, kemampuan membangun sekaligus mengamankan teknologi menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam ekosistem digital.
- Teknologi Digital
- keamanan siber
- cybersecurity
- ITSEC Asia
- Teknologi AI
- talenta AI
- talenta digital
- Artificial Intelligence
- Transformasi Digital
- Talenta Cybersecurity
- CyberTalent
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Hypernet Technologies Perluas Layanan ke Segmen UKM melalui Whooz
-
Ambisi Adopsi AI di Indonesia Terhambat Kesiapan Digital dan Pengalaman Karyawan
-
KPK Buka Peluang Panggil Menhut Raja Juli Antoni dalam Kasus Gratifikasi Hutan Kuansing.
-
BPH Migas Pastikan Distribusi BBM di Jawa Timur Kembali Normal
-
Janice/Aldila Siap Bekerja Keras untuk Menghadapi Unggulan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.