Tak Lagi Jadi Penonton, IKM Komponen Dibawa Masuk Rantai Industri Besar
Minggu, 09 Agu 2026, 23:59 WIBJAKARTA â Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri logam memiliki posisi strategis dalam struktur manufaktur nasional.
Sektor ini menjadi pemasok utama berbagai komponen dan produk penunjang bagi industri otomotif, alat berat, alat kesehatan, konstruksi, hingga permesinan.
Dengan kebutuhan industri yang semakin beragam, Menperin menilai terbuka ruang luas bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) logam untuk masuk sebagai bagian dari rantai pasok industri besar.
âIKM berperan besar dalam menggerakkan perekonomian serta penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kinerja IKM sekaligus memperkuat ketahanan industri manufaktur nasional,â ujar Menperin di Jakarta, Minggu (9/8).
Menurut Menperin, ketika IKM mampu menjadi pemasok industri besar baik BUMN maupun swasta, sekaligus terlibat dalam program vendor development, peluang peningkatan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar.
âDengan demikian, IKM tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga mendukung terwujudnya rantai pasok nasional yang semakin tangguh,â katanya.
Menperin menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri untuk memperluas akses pasar bagi IKM. Keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri besar diharapkan menjadi sarana peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, kompetensi SDM, serta kemampuan memenuhi standar dan spesifikasi industri.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan peran IKM logam tidak hanya terbatas sebagai pemasok komponen. IKM juga berpotensi berkembang menjadi penyedia layanan perawatan, perbaikan, dan rekayasa mesin serta peralatan produksi yang digunakan industri besar.
âPelaksanaan temu bisnis ini merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan IKM dengan industri besar dalam rangka membangun kemitraan yang saling menguatkan. Melalui dialog dan penjajakan peluang bisnis secara langsung, IKM dapat memahami kebutuhan industri dan meningkatkan kesiapan usahanya,â kata Reni.
Reni berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada kegiatan temu bisnis, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi hubungan komersial yang konkret dan berkelanjutan. âKami berharap menghasilkan tindak lanjut kemitraan yang nyata sehingga dapat memperkuat ekosistem industri nasional,â ujarnya.
Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Budi Setiawan, menambahkan fasilitasi kemitraan juga menjadi sarana bagi IKM untuk memahami kebutuhan pasar dan membangun jejaring bisnis jangka panjang.
âSelain peluang yang tersedia di Jawa Barat, IKM logam juga berpotensi membangun kemitraan dengan industri besar dari wilayah lainnya, terutama pada sektor alat kesehatan dan komponen permesinan. Peluang tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pasar sekaligus memacu diversifikasi produk IKM,â jelas Budi.
Fasilitasi Kemitraan
Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenperin melalui Ditjen IKMA menyelenggarakan Fasilitasi Kemitraan IKM Logam dengan Industri Besar di Jawa Barat pada 29â30 Juli 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK).
Jawa Barat dipilih sebagai lokasi karena merupakan salah satu basis industri manufaktur terbesar di Indonesia dengan kebutuhan rantai pasok yang beragam, mulai dari bahan baku, komponen pendukung, hingga jasa pendukung industri.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke sejumlah IKM logam di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi pada 29 Juli 2026. Calon mitra dari industri besar melihat langsung proses produksi, kualitas produk, kapasitas, serta kesiapan IKM.
Kegiatan dilanjutkan dengan Temu Bisnis IKM Logam dengan Industri Besar di Karawang pada 30 Juli 2026. Forum ini menjadi wadah dialog langsung antara IKM dan calon mitra untuk membahas kebutuhan industri, spesifikasi produk, standar kualitas, hingga peluang kerja sama.
Sebanyak 30 IKM logam dari Karawang dan Bekasi berpartisipasi. Para peserta memiliki kompetensi mulai dari fabrikasi logam, machining, pembuatan komponen logam, hingga jasa pendukung industri.
Sejumlah perusahaan besar yang terlibat dalam penjajakan antara lain PT Perkebunan Nusantara, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, PT Sarandi Karya Nugraha, HIPELKI, HINABI, dan PT United Tractors Pandu Engineering.
âKami berharap melalui fasilitasi kemitraan ini dapat terjalin hubungan bisnis yang berkelanjutan serta semakin memperkuat keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri nasional,â pungkas Budi.
- Industri Kecil Menengah (IKM)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Peluang Besar Buat IKM, Menperin Dorong Sertifikasi Teknisi HP Nasional
-
Dituduh Curi Pelat Cetak dan Dipermalukan, Korban Penyekapan di Percetakan Jakpus Alami Trauma
-
HJB ke-544 Kota Bogor Siap Digelar, Ada Museum Pajajaran hingga Sunatan Massal 544 Anak
-
Maluku Genjot Produksi 1 Juta Bibit Kakao, Fokus Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur.
-
Gejala Neurologis Kronis Jangan Diabaikan, Bisa Jadi Tanda Tumor Otak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.