Demi Tumbuh Kembang Bayi, IDAI Ajak Perkuat Dukungan untuk Ibu Menyusui.

Sabtu, 08 Agu 2026, 19:04 WIB

 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mempromosikan kampanye rantai dukungan yang hangat bagi ibu menyusui guna menyediakan dukungan berkesinambungan agar ibu bisa menyusui bayi selama 1.000 hari pertama kehidupan bayi.

"Kita menabur, nanti kita menuainya belakangan. Jadi kita investasi dengan aksi. Kemudian policy-policy yang kita harus kerjakan bersama," kata Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita F.D., Sp.A, Subsp.Neo.(K) dalam acara perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 yang diikuti via daring dari Jakarta pada Sabtu.

Ket. Foto: Petugas menyiapkan fasilitas ruang laktasi di Terminal Tipe A Tirtonadi Solo, Jawa Tengah — Sumber: Antara Foto

Rantai dukungan yang hangat untuk menyusui mencakup suami atau pasangan, anggota keluarga, dokter, bidan, petugas kesehatan, dietisien, konsultan laktasi, pemberi kerja, serikat pekerja, pendukung sebaya, dan pembuat kebijakan.

Naomi menyampaikan bahwa pemerintah berperan dalam membuat kebijakan dan peraturan untuk melindungi, mendukung, dan memfasilitasi ibu menyusui.

Misalnya, membuat dan memberlakukan ketentuan mengenai penyediaan ruang laktasi yang nyaman bagi ibu menyusui di tempat umum.

Selain itu, pemerintah dapat memperkuat ketentuan mengenai kode pemasaran susu formula dan proteksi maternal di tempat kerja serta meningkatkan kampanye dan edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI.

Pemerintah juga berperan dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi ibu dan bayi serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menyampaikan informasi dan memberikan dukungan bagi ibu sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun atau lebih.

Naomi menekankan pentingnya sistem kesehatan yang kuat guna mendukung pelaksanaan program menyusui secara eksklusif selama enam bulan.

"Rumah sakit harus punya sistem yang mendukung dan melindungi ibu-ibu menyusui," ujar dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Ia mengatakan bahwa pengelola rumah sakit bisa menerapkan inisiatif rumah sakit ramah bayi dan menyediakan layanan konselor mumpuni untuk mendukung ibu menyusui bayi secara eksklusif.

Dukungan dari pasangan, anggota keluarga, dan komunitas juga sangat penting bagi ibu menyusui.

Selain membantu merawat bayi dan menghadirkan suasana yang nyaman untuk menyusui, pasangan dan anggota keluarga bisa memberikan dukungan emosional kepada ibu yang sedang menyusui bayi.

Pemberi kerja memegang peranan penting dalam memastikan perempuan bisa mendapatkan hak mereka di tempat kerja untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kegiatan menyusui.

Naomi mengatakan, dukungan berupa pemberian cuti maternal berbayar serta penyediaan fasilitas layak untuk memerah ASI dan menyimpan ASI Perah dapat meningkatkan kesejahteraan ibu.

Dia mengemukakan bahwa hingga sekarang sebagian ibu belum mendapat dukungan dan pendampingan yang memadai pada masa menyusui.

Naomi mencontohkan, tuntutan pekerjaan kadang membuat ibu kesulitan menyusui bayi secara berkelanjutan.

"Ini banyak sekali yang stop memberi ASI setelah kerja. Jadi ada riset mengatakan 45 persen kegagalan ASI Eksklusif adalah karena kembali bekerja," katanya.

Kampanye rantai dukungan yang hangat dimaksudkan untuk menghubungkan berbagai pihak di semua tingkatan guna menciptakan lingkungan yang kondusif bagi ibu untuk menyusui bayi sesuai kebutuhan.

Penyediaan dukungan berkesinambungan bagi ibu menyusui dan bayi berperan penting dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.