• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Review 'One Night Only': R...

Review 'One Night Only': Romansa Komedi Seks Tanpa Adegan Seks, Menawan Tapi Gagal Satukan Cinta dan Distopia

Jumat, 07 Agu 2026, 00:15 WIB

Will Gluck mencoba mengulang keberhasilan Anyone but You lewat film terbarunya, One Night Only. Kali ini ia menghadirkan komedi romantis yang dibungkus konsep distopia. Hasilnya memang menawarkan dua pemeran utama yang memesona, Monica Barbaro dan Callum Turner, tetapi premis cerita yang terlalu rumit justru membuat film kehilangan pesona romantis yang seharusnya menjadi kekuatannya.

Dari Variety, komedi romantis biasanya hidup dari hal-hal sederhana: chemistry para pemeran, kehangatan hubungan, dan suasana yang membuat penonton ingin melihat kedua tokohnya bersatu. Semua unsur itu sebenarnya dimiliki One Night Only. Barbaro dan Turner tampil serasi, latar New York digambarkan begitu indah, dan beberapa leluconnya benar-benar berhasil memancing tawa—sesuatu yang kini semakin jarang ditemukan dalam rom-com modern.

Ket. Foto: Sebuah komedi romantis berkonsep tinggi adalah hal yang sulit untuk diwujudkan. — Sumber: Istimewa

Namun, semua kelebihan tersebut langsung berbenturan dengan konsep utama film.

Beberapa detik setelah dimulai, penonton disuguhi serangkaian kartu penjelasan yang mengungkap bahwa tiga tahun sebelumnya pemerintah Amerika Serikat melarang seluruh hubungan seksual di luar pernikahan. Larangan itu hanya dicabut satu malam setiap tahun, saat masyarakat bebas melakukan hubungan intim secara legal dalam perayaan yang disebut "Malam Seks Nasional."

Premis itu begitu ekstrem sehingga sulit diabaikan sepanjang film. Alih-alih mengingatkan pada romansa klasik seperti When Harry Met Sally, nuansa ceritanya justru terasa seperti perpaduan antara The Handmaid's Tale dan The Purge. Film sendiri bahkan mengakui betapa berlebihan ide tersebut, tetapi tetap menjadikannya fondasi utama cerita.

Sayangnya, naskah karya Travis Braun nyaris tidak mengeksplorasi konsekuensi dari dunia distopia tersebut. Sutradara Will Gluck justru mempertahankan nuansa ringan dengan pencahayaan cerah, iringan lagu-lagu pop disko seperti Love Is in the Air versi King Princess, serta atmosfer yang lebih menyerupai festival musim panas daripada masyarakat yang hidup di bawah pengawasan ketat pemerintah.

Dalam dunia film ini, Malam Seks Nasional diperlakukan layaknya perayaan tahunan seperti Natal. Bedanya, toko-toko kehabisan stok kondom, bukan kalkun. Pemerintah bahkan dikisahkan memantau aktivitas seksual setiap warga melalui chip pelacak canggih berbentuk tato di pergelangan tangan.

Tokoh utamanya adalah Owen (Callum Turner), pemilik restoran pizza di Manhattan, dan Allie (Monica Barbaro), penyanyi berbakat yang terpaksa mencari nafkah dengan menyanyikan jingle iklan obat-obatan. Lagu-lagu iklan yang sengaja dibuat norak justru menjadi salah satu bagian paling lucu dalam film.

Allie masih melajang dan berharap menemukan pasangan pada malam istimewa itu. Sementara Owen telah berencana menghabiskan malam bersama kekasih lamanya, Malika (Maya Hawke). Namun rencana tersebut berantakan ketika Malika mengaku ingin membuka hubungan mereka dan memilih tidur dengan pria lain pada malam itu.

Owen akhirnya ikut terjun ke hiruk-pikuk pencarian pasangan melalui aplikasi kencan Hinge dan pesta-pesta khusus para lajang. Di kota sebesar New York, takdir terus mempertemukannya dengan Allie hingga hubungan keduanya perlahan berkembang.

Sebagai pasangan romantis, Owen dan Allie sebenarnya sangat mudah disukai. Mereka menarik, lucu, dan memiliki chemistry yang alami. Namun film terus membuat hubungan mereka tertunda oleh aturan dunia yang terasa semakin tidak masuk akal.

Di sinilah masalah terbesar muncul. Semakin keras film berusaha menghadirkan kisah cinta yang hangat, semakin sulit penonton melupakan bahwa semua itu berlangsung dalam masyarakat yang membatasi hak-hak dasar warganya. Akibatnya, kisah romantis yang ingin dibangun justru berbenturan dengan kenyataan dunia distopia yang mengganggu.

Film sempat menyentil politik melalui kemunculan Presiden Amerika berdasi merah yang membela kebijakan tersebut atas nama nilai-nilai keluarga. Sayangnya, kritik sosial itu tidak pernah dikembangkan lebih jauh. Penonton hanya melihat sedikit grafiti bertuliskan "Persetan dengan mandat", tanpa adanya gambaran nyata mengenai gerakan perlawanan atau dampak sosial yang lebih luas.

Sebaliknya, dunia dalam One Night Only justru dipenuhi warga kelas menengah yang tampak menjalani hidup dengan santai, seolah pembatasan hak reproduksi hanyalah bagian biasa dari kehidupan sehari-hari.

Jika memang dimaksudkan sebagai sindiran terhadap lemahnya aktivisme politik modern, film ini mungkin berhasil. Namun yang lebih terasa justru kebingungan arah. Berbagai sasaran kritik—mulai dari konservatisme agama, kapitalisme, hingga pertarungan politik kanan dan kiri—sekadar disentuh tanpa pernah dibahas secara mendalam.

Ironisnya, film yang dipasarkan sebagai komedi seks hampir tidak menampilkan adegan seks sama sekali. Bukan berarti setiap film wajib menampilkan adegan tersebut, tetapi absennya elemen itu membuat pesan yang muncul justru terasa mengarah pada sikap pro-abstinensi. Seiring cerita berjalan, nuansa romantis perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih menyeramkan.

Menunggu momen yang tepat demi cinta memang bisa terasa romantis. Namun ketika penantian itu dipaksakan negara dengan ancaman hukuman penjara, gagasan tersebut menjadi jauh dari menggemaskan.

Pada akhirnya, One Night Only terlalu sibuk mempertahankan gimmick ceritanya hingga lupa membangun fondasi emosional yang kuat. Premisnya terlalu besar untuk sekadar menjadi mesin penggerak komedi romantis, tetapi juga tidak cukup serius untuk benar-benar menjadi film distopia yang menggugah.

Meski begitu, penampilan Callum Turner tetap memancarkan karisma tenang yang menarik sebagai pemeran utama. Monica Barbaro juga tampil membumi dengan karakter yang tajam dan hangat, membuat penonton berharap keduanya dipertemukan dalam proyek lain dengan cerita yang lebih sederhana.

Sinematografi garapan Yaron Orbach turut menjadi nilai tambah lewat visual New York yang tampak indah bak kartu pos, menghadirkan suasana romantis bahkan di tengah malam musim panas.

Namun, di tengah situasi politik Amerika yang masih dipenuhi perdebatan mengenai hak reproduksi, premis One Night Only justru terasa lebih dekat dengan mimpi buruk dibanding fantasi romantis. Alih-alih menghadirkan pelarian yang menyenangkan, film ini malah memunculkan bayangan tentang masa depan yang mengkhawatirkan.

Itulah sebabnya kritik Variety menilai One Night Only memilih genre yang keliru. Alih-alih hanya berakhir pada kisah cinta dua tokoh yang tunduk pada aturan, film ini mungkin akan jauh lebih memuaskan bila berani membawa mereka melawan sistem yang membatasi kebebasan mereka sepenuhnya. Sebuah tuntutan besar memang untuk komedi romantis musim panas, tetapi sejak awal One Night Only sendiri sudah meminta terlalu banyak dari para penontonnya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Korea Selatan Jadi Pelopor, Legalkan Hak Cipta untuk Karya Musik AI

Alonso Sambut Haru Kembalinya Mudryk, Chelsea Takluk 0-1 dari Juventus di Hong Kong

Apresiasi Nasabah Setia, BRI RO 7 Jakarta 2 Serahkan Hadiah Umrah Program BRImo 2026

Review 'One Night Only': Romansa Komedi Seks Tanpa Adegan Seks, Menawan Tapi Gagal Satukan Cinta dan Distopia

Heboh Rumor The Batman Part II & Part III Syuting Back-to-Back, Ini Fakta di Balik Rumornya

Rybakina, Pegula, dan Gauff Melaju ke Babak Ketiga WTA Toronto

Kejar Rafale F5 Berkemampuan Rudal Hipersonik Nuklir dan Drone Tempur Masa Depan, Prancis akan Hadapi Kekurangan Jet Tempur hingga 2033

Pertandingan Pramusim: Arteta Puas Meski Arsenal Dipermalukan Betis

Russia Sebut Pasukan Polandia Ikut Bertempur di Garis Depan Ukraina, Dugaan Keterlibatan NATO Menguat

Ukraina Sebut Ada 16.000 Relawan Asing dari 72 Negara di Garis Depan Perang, Amerika Latin Terbesar

Pertandingan Pramusim: Nkunku Selamatkan AC Milan dari Kekalahan, Derby Milan di Perth Berakhir Imbang

Infantino Dapat Dukungan Penuh FIFA, Minta Maaf atas Kontroversi Rencana Privatisasi Piala Dunia

Tiongkok Uji Penetrasi Ketinggian Rendah Helikopter Serang Z-10 untuk Terobos Pertahanan Musuh, Skenario Invasi Taiwan?

Panglima Garda Revolusi Iran Bersumpah Akan Terus Mengembangkan Senjata Nuklir Selama AS dan Israel Masih Memilikinya

Bursa Pilgub Jatim, Pakar Politik Unair Ungkap Lia Istifhama Punya Kelebihan Gaet Gen Z

Dampak dan Mitigasi Penguatan El Nino

Krisis Air Mengintai, Kementerian PU Intervensi 492 Lokasi)

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.